Cara Meraih Kenikmatan dalam Shalat

salat, khusyu

Dalam sebuah pertanyaan yang disampaikan melalui email kepada saya, seorang jamaah meminta penjelasan yang detail  berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis mengenai cara meraih kekhusyuan saat ibadah shalat.

Jamaah ini ingin shalatnya tambah khusyu, sebab akhir-akhir ini ia merasa kekhusyuan shalatnya menurun.  Melalui tulisan ini, saya akan jelaskan mengenai cara meraih kekhusyuan dalam shalat.

promo oktober

Ustadz Hassan al-Banna menyebutkan bahwa semua ibadah harus didasari oleh Al fahm pemahaman) yang baik kalau ingin mengerjakannya dengan penuh kekhusyuan dan kenikmatan. Atau dengan kata lain, ibadah tidak cukup sekadar melaksanakan gerakan-gerakan lahiriah tetapi juga harus mengetahui hakikatnya, harus memahami maksudnya, dan mengerti doa-doanya. Banyak orang yang melaksanakan shalat tapi tidak tahu apa kandungannya, shalatnya tetap sah namun kualitasnya biasa-biasa saja.

Karena itu, kalau kita ingin merasakan kenikmatan shalat, langkah yang harus kita lakukan adalah berusaha memahami kandungannya, alias menyisihkan waktu untuk belajar memahami bacaan-bacaannya.

Idealnya, setiap kata yang diucapkan dalam shalat itu dipahami, namun kalaupun tidak mampu melakukan seperti itu, minimal kita memahami maknanya secara global. Misalnya, saat kita membaca Alhamdulillahirabiil ‘Alamin, kita tahu dan sadar bahwa yang paling berhak menerima pujian itu Allah. Saat membaca Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in kita paham bahwa kesetiaan dalam doa dan pengabdian hanya ditujukan pada Allah Swt., dan seterusnya.

Setelah kita berusaha memahami makna bacaannya, kemudian kita perlu memahami kedudukan shalat dalam ajaran Islam. Dengan memahami kedudukannya, diharapkan penghormatan dan prioritas kita terhadap shalat meningkat. Mari kita cermati bagaimana kedudukan shalat dalam ajaran Islam.

1. Shalat merupakan tiang agama

Laksanakan salat, tunaikan zakat, dan ruku‘-lah beserta orang yang ruku‘.” ( Q.S. Al-Baqarah [2]: 43). “Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salatmu, ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan berbaring. Kemudian, apa bila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat itu seperti biasa. Sesungguhnya, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” ( Q.S. An-Nisā’ [4]: 103).

2. Shalat merupakan garis pemisah antara Islam dan kufur

Telah bersabda Rasulullah Saw., “Garis pemisah antara seorang muslim dan musyrik atau kafi r adalah meninggalkan shalat.” ( H.R. Muslim). Maksudnya, indikator yang paling mudah untuk membedakan apakah seseorang itu muslim atau nonmuslim adalah melakukan shalat. Kalau suka shalat berarti seorang muslim, kalau tidak pernah shalat berarati dia itu kafir atau munafik.

3. Shalat sebagai sarana untuk merawat dan mengasah kefitrahan manusia

Manusia lahir dalam keadaan fitrah atau dalam keadaan beragama Islam (lihat Q.S. Al-A‘rāf [7]: 172), yaitu agama yang hanya menyembah Allah Swt. (tauhid). Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap anak lahir dalam keadaan fi trah, maka orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” ( H.R. Bukhari).

Fitrah adalah potensi keagamaan yang hanif atau yang cenderung kepada agama yang benar yaitu Islam. “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama Islam yang sesuai dengan fitrah Allah karena Allah telah menciptakan manusia menurut fi trah itu. Tidak ada perubahan pada cipta an Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak menge tahui.” (Q.S. Ar-Rūm [30]: 30).

Shalat berfungsi sebagai media untuk mengaktualisasikan fitrah, karena shalat akan melahirkan ketenteraman. Ketika manusia berada dalam posisi fi trahnya, hidupnya akan penuh ketenangan. “Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Salat itu berat, kecuali bagi orang-orang khusyuk, yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhannya dan akan kembali kepada-Nya.” ( Q.S.Al-Baqarah [2]: 45-46).

4. Shalat sebagai sarana untuk mengobati penyakit hati.

Manusia memiliki sejumlah sifat mulia, seperti jujur, syukur, dan pemaaf. Namun di samping itu, manusia juga memiliki sejumlah sifat buruk, seperti putus asa, kikir, dan sombong. Shalat bisa menjadi sarana untuk mengobati sifat-sifat buruk manusia.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya, manusia diciptakan de ngan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Apabila mendapat keluasan harta, ia menjadi kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat.”( Q.S. Al-Ma‘ārij [70]: 19-22).

5. Shalat sebagai sarana penyucian dosa

Rasulullah Saw. bersabda, “Bagaimana pendapat kalian, andaikata sebuah sungai berada di rumah salah seorang di antaramu dan kamu mandi di sana lima kali dalam sehari, maka apakah masih tertingal kotoran pada badannya?” Mereka berkata, “Tidak ada kotoran yang tertinggal pada badannya.” Beliau bersabda, “Maka demikianlah perumpamaan shalat lima kali, Allah menghapus kesalahan-kesalahan.” ( H.R. Bukhari dan Muslim)

6. Shalat bisa menjadi penghalang dari perbuatan maksiat

Bacalah Al-Qur’an yang telah di wahyukan kepadamu (Muhammad) dan lak sanakanlah salat. Sesungguhnya, salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ketahuilah, salat itu lebih besar keutamaannya daripada ibadah lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S. Al-‘Ankabūt [29]: 45).

Bertolak dari analisis tersebut bisa disimpulkan bahwa kenikmatan shalat akan dirasakan apabila kita memahami kandungannya dan mengerti kedudukannya yang begitu penting dalam ajaran Islam.  Wallahu A’lam.

(DR. H. Aam Amiruddin)

 

sudah benarkah shalatku

(Visited 1,042 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment