Cegah KDRT, Para Suami Perlu Lakukan Dua Hal Ini

Oleh: Sasa Esa Agustiana

Dalam pemberitaan di media –cetak maupun elektronik— , tak jarang kita temukan kisah pilu para istri yang dizalimi suami mereka. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami para istri bukanlah hal baru.  Jumlahnya meningkat setiap tahun dan ironisnya banyak sekali kasus yang tidak terungkap. Apakah perilaku kekerasan dalam rumah tangga ini dapat dibenarkan? Bagaimana  Islam memandang hal ini?

promooktober1

Faktor Penyebab
Dalam Islam, faktor penyebab kekerasan ini disebut nusyuz. Wahbah az-Zuhaili, guru besar Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh pada Universitas Damaskus, mengartikan nusyuz sebagai ketidakpatuhan salah satu pasangan terhadap apa yang seharusnya dipatuhi atau rasa benci terhadap pasangannya. Redaksi lain menyebutkan bahwa nusyuz berarti tidak taatnya suami atau istri kepada pasangannya secara tidak sah atau tidak cukup alasan.

Sikap nusyuz istri bisa berupa ketidakpatuhan dan mengabaikan hak suami, tidak menjaga kehormatan dirinya, berselingkuh, dan tidak taat pada perintah suami (sepanjang perintahnya tidak bertentangan dengan agama). Sedangkan sikap nuzyuz suami antara lain, menunjukkan kebencian dan ketidaksenangan terhadap istri, menelantarkan istri, tidak menafkahi lahir & batin, melakukan maksiat, selingkuh, berjudi, atau mabuk-mabukan. Pendek kata, segala bentuk perbuatan tidak berbuat makruf kepada istri.

Nusyuz memicu lahirnya bermacam kekerasan. Biasanya, kekerasan dilakukan oleh pihak suami kepada istrinya karena tidak dapat dipungkiri, secara fisik mereka lebih kuat. Penganiayaan ini bisa berupa penganiayaan fisik, psikis, seksual, dan verbal dengan tingkatan yang beragam.

Memang dalam beberapa kasus terjadi pula seorang istri yang melakukan penganiayaan kepada suaminya dengan dalih pembelaan diri, namun jarang sekali yang dilakukan secara langsung saling berhadapan, misalnya mereka hanya berani memukul di kala suaminya sedang tertidur atau membakar suami hingga tewas. Astagfirullah!

Upaya Pencegahan Kekerasan
Sadari oleh suami selaku pemimpin (qawwam) dalam rumah tangga bahwa dia wajib memberikan yang terbaik untuk istri, meliputi:

1. Mampu Melihat Sisi Baik Istri
Kekurangan pasangan tidak menjadi alat untuk berkeluh kesah, berpaling pada yang lain, atau dilanda penyesalan tak berkesudahan. Jadikan kekurangan pasangan sebagai lahan dakwah, lahan mendekatkan diri pada Allah swt. Temukanlah cinta sejati Allah swt. lewat ujian kekurangan pada pasangan. Temukan mutiara kesabaran, mutiara jiwa pemaaf.

Hal yang disebut sebagai kekurangan pun perlu diposisikan dengan hati yang jujur. Bila mengikuti hawa nafsu, segala yang tidak disukai bisa disebut kekurangan. Sepanjang ia taat pada Allah swt., taat pada suami, dan menjalankan ibadah janganlah mencari-cari alasan untuk menemukan kekurang istri.

Suami harus optimis bahwa kesabaran dan keikhlasan akan dibalas di akhirat kelak, “…dan bergaullah dengan mereka secara baik, jika kalian tidak menyukai mereka (bersabarlah), karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”  (Q.S. An-Nisaa 4: 19)

Ingatlah pesan Rasulullah saw., “Janganlah seorang mukmin membenci kepada mukminat.  Jika ia membenci kelakuannya (dari satu sisi) pasti ada akhlak lain yang ia sukai darinya.”  (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

2. Berikan Nasihat dan Peringatan
“…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkan mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh Allah Mahatinggi dan Mahabesar. (Q.S. An-Nisaa 4: 34)

“Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya maka kirimlah seorang  juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan.  Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan  perbaikan, niscaya Allah memberikan taufik kepada suami istri itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui dan Mahateliti.” (Q.S. An-Nisaa 4: 35)

“Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai (akhir) iddahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (pula).  Dan jangnlah kamu tahan mereka dengan maksud jahat untuk menzalimi mereka.  Barangsiapa melakukan demikian maka dia telah menzalimi dirinya sendiri…” (Q.S. Al Baqarah 2: 231)

Melakukan rangkaian penyadaran pada istri dapat ditempuh sesuai dengan tingkat pelanggarannya. Apakah cukup sekadar nasihat yang lemah lembut, dipisahkan dari tempat tidur (maksudnya masih satu ranjang tapi tidak digauli), memukul dengan kasih sayang (tidak memukul di daerah yang membahayakan), atau dengan menghadirkan juru penengah. Jauhi unsur kezaliman, rasa dendam, kebencian, dan emosi. Wallahu a’lam.

 

Anda punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan karya tulis Anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif dan mengedukasi. Info lengkapnya di sini  

(Visited 22 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment