Aborsi, Kontroversi Tiada Henti

 

 

Oleh: Melyana Yusuf*

 

 

Aborsi merupakan fakta dan diskursus yang hingga kini masih menjadi kontroversi, tak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh penjuru dunia, bahkan juga di Amerika -yang sering dijadikan ikon negara pendukung utama liberalisasi. Pertentangan hadir silih berganti, mulai dari yang benar-benar pro, kontra, ataupun yang gamang dalam menentukan sikap. Arena pertarungan antara pihak yang pro dan kontra pun tidak lagi terbatas di dalam seminar dan sejenisnya, tetapi telah berkembang lebih jauh hingga saling tuntut di pengadilan, misalnya kasus Presiden Bush pada akhir tahun 2003 lalu yang digugat oleh organisasi NARAL pro choice (organisasi yang memperjuangkan legalisasi aborsi) karena kebijakannya dianggap telah menghalangi kebebasan wanita untuk melakukan aborsi.

Angka kejadian aborsi di dunia cukup mencengangkan. Menurut data WHO setidaknya hingga tahun 2000, dua pertiga dari 75 juta kehamilan yang tidak diinginkan akan berakhir dengan aborsi yang disengaja. Mirisnya sekira dua puluh juta di antaranya dilakukan secara tidak aman. Sedangkan di Indonesia menurut data sensus 2000 setiap tahunnya terjadi kurang lebih 2 juta kasus aborsi, artinya 43 kasus per 100 kelahiran hidup. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah aborsi di Indonesia masih cukup besar.

Mengacu pada penjelasan Institute for Social, Studies, and Action (1991), aborsi dapat didefinisikan sebagai penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah dibuahi di dalam rahim (uterus), sebelum usia janin (fetus) mencapai 20 minggu.

Aborsi dibedakan menjadi dua, yaitu aborsi spontan dan aborsi buatan. Aborsi spontan atau yang sering disebut keguguran adalah aborsi yang terjadi secara alamiah tanpa adanya upaya dari luar untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Sedangkan aborsi buatan adalah aborsi yang terjadi akibat adanya upaya-upaya tertentu untuk mengakhiri proses kehamilan.

Kontroversi tentu saja berkutat di seputar aborsi buatan, terutama tentang aborsi seperti apa yang diperbolehkan. Semua pihak sepakat untuk melegalkan aborsi yang dilakukan karena alasan medis seperti kehamilan yang membahayakan jiwa ibu bila tetap dipertahankan. Tetapi untuk aborsi yang disebabkan alasan-alasan lain seperti alasan psikososial ataupun ekonomi, masih menjadi polemik. Di antara alasan pihak yang mendukung legalisasi aborsi ialah bahwa wanita berhak menentukan pilihan untuk memiliki anak atau tidak, dan merupakan hak orang tua untuk memutuskan untuk mengaborsi janin yang di kandungnya bila dianggap kondisi psikososial dan ekonomi tidak memungkinkan. Menurut mereka, akan lebih baik bila janin yang berasal dari orang tua yang kurang mampu, masih remaja, atau berasal dari hasil perkosaan diaborsi, daripada nantinya tidak mendapatkan kasih sayang maupun perawatan yang memadai. Selain itu, mereka beranggapan bahwa dengan dilegalkannya aborsi akan mengurangi angka kematian akibat aborsi yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, yang sebagian besar berisiko tinggi karena dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten dan di tempat dengan sarana yang sangat terbatas.

Sedangkan pihak yang menentang aborsi beralasan bahwa hal tersebut bertentangan dengan ketentuan agama. Janin memiliki hak untuk hidup, dan orang tua tidak berhak untuk “menentukan” begitu saja nasib kehidupan sang janin. Aborsi merupakan solusi jangka pendek yang praktis dan sederhana, namun bukanlah alternatif terbaik untuk menyelesaikan permasalahan. Solusi yang ditawarkan pihak ini di antaranya ialah daripada melegalkan aborsi, mengapa tidak berupaya mengurangi budaya pergaulan bebas? Karena sebenarnya banyak kasus aborsi yang terjadi terutama dari kalangan remaja bermula dari pergaulan bebas. Alih-alih mengaborsi, mengapa tidak berusaha meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat secara umum? Tentang janin hasil perkosaan, darimana pun asalnya, janin tersebut tetap memiliki hak untuk hidup, dan apabila memang kondisi sang ibu tidak memungkinkan untuk merawatnya, seharusnya negara berkewajiban mengambil alih peran tersebut.

Selain wacana-wacana di atas, masih begitu banyak wacana lain yang terus berkembang. Seperti di kalangan yang pro aborsi pun masih diperdebatkan kapan janin tersebut boleh diaborsi, ada yang beranggapan aborsi  boleh dilakukan pada usia kehamilan berapa saja, ada pula yang beranggapan hal tersebut boleh dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 3 bulan, karena bila sudah di atas usia tersebut dapat dikategorikan pembunuhan (sebagian pihak berpandangan janin baru bernyawa setelah usia kehamilan 3 bulan -pen). Di kalangan yang kontra pun ada yang sepenuhnya menentang namun ada pula yang tidak sepenuhnya, seperti Malaysia yang memperbolehkan aborsi apabila janin tersebut hasil perkosaan.

Di Indonesia sendiri, sampai saat ini undang-undang yang ada hanya memperbolehkan aborsi dilakukan karena alasan medis, namun belakangan muncul wacana untuk mengamandemen undang-undang yang ada, sehingga memungkinkan dilakukan tindakan aborsi karena alasan psikososial dan  ekonomi.  Pro dan kontra ini merupakan tantangan tersendiri bagi umat Islam. Islam jelas mengharamkan aborsi, larangan ini di antaranya terdapat pada firman Allah swt. yang menyatakan bahwa setiap janin yang terbentuk merupakan rencana Allah,

“…Selanjutnya Kami dudukkan janin itu dalam rahim menurut kehendak Kami selama umur kandungan. Kemudian Kami keluarkan kamu dari rahim ibumu sebagai bayi.” (Q.S. Al Hajj 22:5).

Selain itu terdapat pula firman Allah yang tidak membenarkan aborsi dikarenakan alasan ekonomi, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (Q.S. Al Israa 17:31).

Dalam Sirah Nabawiyah pun dikisahkan bahwa Rasulullah mengundurkan waktu hukuman rajam pada seorang wanita yang telah berzinah karena wanita tersebut tengah mengandung. Apabila wanita tersebut dirajam pada waktu itu, tentunya janin yang dikandungnya akan turut meninggal dunia.

Kisah ini menggambarkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi hak hidup janin, meskipun janin tersebut hasil perzinaan. Tapi, tidaklah cukup mengatakan bahwa kita menentang aborsi. Diperlukan pemahaman yang luas dan mendalam -terutama bagi praktisi kedokteran muslim— mengenai permasalahan ini karena alasan-alasan untuk membenarkan aborsi serta “penyempurnaan” metode aborsi (seperti metode memberikan pil KB dosis tinggi pada wanita yang baru diperkosa) senantiasa berkembang. Inilah tantangan bagi para praktisi kedokteran dari kalangan muslim, hari ini dan di masa datang. Wallahu a’lam

 

*Penulis adalah dokter dan pemerhati masalah sosial

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

Anda punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan Anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah dan beramal saleh melalui tulisan-tulisan yang inspiratif dan motivatif edukatif. Info lengkapnya di sini  

 

Promo Kalender

 

(Visited 28 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment