Arifin Ilham: Belum Beriman Jika Shalat Fardhunya Masih Munfarid

Pengertian khusyu sebenarnya tidak hanya terdapat dalam ibadah shalat, namun mencakup segala macam ibadah dalam Islam. Khusyu dalam shalat artinya menghadap Allah dengan menyertakan segala syarat dan rukun yang disertai pemaknaan dan penghayatan bacaan maupun gerakannya.

Hal tersebut diungkapkan, K.H. Arifin Ilham, pimpinan Majelis Adz Dzikra disela-sela perbincangannya dengan MaPi, belum lama ini. Menjelaskan lebih jauh mengenai Khusyu atau tidaknya shalat seseorang, manurut Arifin dapat terlihat dari kemulyaan akhlaknya sehari-hari.

promooktober

Khusyu dalam shalat, berarti setelah shalatnya selesai harus mampu memperlihatkan perilaku positif dan terpuji. Karena akhlak mulia merupakan ciri dari kepribadian Rasul. Kata Imam Ali, orang yang berdusta maka tidak akan khusyu shalatnya. Kalau seseorang berdusta, maka dustanya menjadi hijab saat ia melaksanakan shalat, apalagi menipu atau berzina.

Untuk mencapai kategori shalat khusyu, seseorang harus melakukannya secara total. Apabila ini berhasil dilakukan dengan benar, maka sholatnya akan mampu membawa perubahan pada aspek lahiriah maupun batiniah. Batiniahnya tenang dan lahiriahnya terjaga. Lebih jauh shalat akan mampu mencegah dari perbuatan keji  dan mungkar, sesuai firman Allah swt, “…sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar…” (Q.S. Al Ankabut : 45).

Kenapa orang sekarang shalat, tapi belum bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar? Itu karena shalatnya belum khusyu. Kemulyaan akhlak itu timbul dari benar atau tidaknya shalat yang kita lakukan. Kekhusyuan shalat harus kita jaga salah satunya dengan kekuatan iman.

“Dengan keimanan yang kuat, kita senantiasa akan merasa diperhatikan dan ditatap oleh Allah Swt,” tandasnya.

Menurut Arifin, mencapai kekhusyuan dalam shalat tidak cukup dengan ilmu semata, ilmu hanya melengkapi dari pemahamannya untuk berdialogis dengan Allah, yang mencakup rukun dan syarat shalat. Tapi keimanan akan mendorong seseorang untuk terus diperhatikan oleh Allah Swt, sehingga orang tersebut akan memperoleh kemenangan sampai hal-hal  yang tidak bermanfaat ditinggalkannya.

Bagaimana agar keimanan kita terus meningkat? Diperlukan mujahadah, yakni sebuah usaha yang sungguh-sungguh dan terus berjuang. Tidak hanya mujahadah, perangkat lain yang diperlukan adalah upaya untuk terus membersamakan diri melalui silaturahmi. Dalam shalat terdapat bacaan assalamu’alaina, selamatkan kami. Wa’ala ibadillah hishalihin, dan orang-orang sholeh. “Agama itu amal, agama adalah akhlak, bukan hanya omongan dan tidak cukup dengan sekedar khutbah,” ungkapnya.

Lebih jauh Arifin menegaskan, kalau sholatnya sudah baik maka ibadah lainnya juga akan baik. Zakatnya ditunaikan, puasanya dilaksanakan, hajinya mabbrur, dan syahadatnya dimaknai dengan benar. Kalau ibadahnya baik maka hidupnya akan bahagia, wa mahyaya apalagi matinya. Maka orang khusyu akan rindu dengan kematian. Bahasa saya, liqo qobla liqo, berjumpa sebelum berjumpa.

Melaksanakan shalat harus berdasarkan sunnah Rasulullah saw, nikmatilah kesendirian dalam sholat sunnah. “Tapi berjamaahlah saat melaksanakan shalat fardhu. Ritual yang mempunyai dimensi sosial itu jamaah,” tuturnya seraya mengutip salah satu hadits Nabi Saw, “seandainya kalian mengetahui keutamaan sholat berjamaah di masjid, merangkak pun akan kau lakukan.”

Dengan nada cukup keras, Arifin mengingatkan kalau orang belum suka sholat berjamaah, maka dia belum beriman.sesuai dengan firman Allah, “sesungghunya yang memakmurkan masjid allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap melaksanakan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut kapada apa pun kecuali kepada Allah…” (Q.S. At Taubah : 18).

“Semua ibadah bersifat utama, dan shalat merupakan penghulunya. Kalau shalatnya baik maka baik juga ibadah lainnya. Shalat ibarat tiang, bagaimana mau membangun rumah kalau tidak ada tiangnnya. Shalat juga bagai perumpamaan antara kepala dan tubuh, jadi kalau orang yang menegakan shalat maka sempurna tubuhnya, dan orang yang tidak melaksanakan shalatnya berarti belum sempurna tubuhnya,” paparnya.

Dalam shalat ada kategori, orang yang masih senang melakukan maksiat padahal shalatnya rajin. Dan ada juga orang yang sangat menjaga prilakunya agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan, karena dia tidak ingin ibadah shalatnya rusak. Berbicara mengenai keutamaan shalat, ustadz yang masih terlihat muda ini, mengungkapkan shalat merupakan ibadah yang berbeda dari ibadah-ibadah lainnya, karena sholat merupakan ibadah istimewa, sebuah ibadah yang turun perintahnya langsung kepada Rasulullah saw saat di isra’kan dan di mi’rajkan. Tidak hanya itu, shalat pun merangkum semua syariat dalam Islam, dalam shalat ada syahadat, zakat, maupun puasa.

“Shalat juga merupakan, ibadah yang sudah tidak bisa di tawar-tawar lagi. Ibadah lain masih bisa ditawar seperti zakat, zakat bagi  yang mampu kalau ga mampu di zakati. Haji bagi yang mampu, ga mampu tidak perlu memaksakan, begitu pula halnya dengan shaum. Lain halnya dengan shalat, tidak ada istilah tawar menawar, semua harus melaksanakan,” tekannya. Bahkan Arifin menuturkan salah satu keistimewaan shalat lainnya adalah sebagai ibadah yang pertama kali di hisab di banding dengan ibadah-ibadah lainnya.

Diakhir pembicaraan, Arifin menekankan negeri ini harus diperbaiki sholatnya. Karena banyak koruptor tetap shalat, pemimpin yang tidak amanah juga melakukan shalat. Pernah ada kisah, seorang sahabat bertanya kepada Rasul, “Ya Rasulullah saya punya sahabat orang yang suka mabuk bagaimana cara mengajak dia agar dia menjadi orang baik? Ajarkanlah dia shalat, sudah sholat ya rasul tapi dia masih maksiat, ajarkan supaya dia khusyu dalam shalatnya, beberapa waktu kemudian dia bertemu rasul dan Rasulullah bertanya bagaimana teman mu itu? Katanya ya rasul sekarang dia menjadi orang yang amat saleh. Lalu rosul berkata, kekhusyuannya itulah yang membuat dia terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.” []

 

Rep. : Sunaryo Sarwoko

Editor: Iman

 

 

Promo Kalender

 

(Visited 51 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment