8 Keburukan Hidup Akibat Maksiat

Oleh: Yanuardi Syukur*

Setiap manusia bisa dipastikan pernah berbuat dosa. Dosa yang dilakukan pun kemudian memberi bekas pada hati dan kehidupan. Sadar atau tidak, hati menjadi tidak tenang dan kesulitan demi kesulitan sepertinya selalu datang.

promo oktober

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk selalu berbenah, memperbaharui iman agar tidak terus menerus terjebak dalam dosa. Kita berdoa kepada Allah semoga dijaga dari dosa dan jika terlanjur melakukan dosa, segera mendapatkan pengampunan. Dosa yang kita lakukan pasti akan mengakibatkan efek pada sisi lain dari kehidupan. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, jika kita bermaksiat maka akan mengakibatkan delapan hal sebagai berikut:

  1. Menghalangi Ilmu.

Ilmu—begitu tulis ulama yang juga murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah itu—adalah sinar yang diletakkan Allah di hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut. Imam Syafi’i pernah mengeluh kepada gurunya betapa susahnya dia dalam menghafal. Gurunya, Waki’ menasihatinya agar dia  meninggalkan maksiat. “Ketahuilah bahwa ilmu itu anugerah dan anugerah Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat,” begitu kata sang guru.

  1. Menghalangi Rezeki.

Jika kita bertakwa kepada Allah, Dia akan membuka pintu rahmat-Nya. Sedangkan jika bermaksiat, kita akan mendapatkan penghidupan yang sempit. Dalam kitab Musnad disebutkan, “Sesungguhnya seorang hamba tidak mendapatkan rezeki karena dosa yang dikerjakannya.”

  1. Menimbulkan Kerisauan dan Kesepian Hati.

Setiap manusia pasti tidak ingin menjadi pribadi yang selalu risau dan kesepian. Kemaksiatan membuat kita selalu waswas—itu karena kita telah terbius oleh setan yang merasuk dalam hati. Semakin sepi, semakin menjauh kita dari majelis pengajian, semakin jauh hati kita dari ayat-ayat Allah Swt. Maksiat membuat kita risau selalu dengan hati yang sepi dan gersang seperti gersangnya padang sahara.

  1. Mendatangkan Kesulitan Hidup.

Hidup orang yang maksiat akan sulit. Maukah kita mendapatkan kehidupan yang sulit? Tentu tidak. Kesulitan dalam hidup akan membawa kita pada stres dan stres akan membawa kita pada ketidakseimbangan.

  1. Menimbulkan Kegelapan Hati.

Kata Imam Ibnu Qayyim, kegelapan hati akan dirasakan seseorang seperti gelapnya malam. Bila dia diberi petunjuk, kegelapan maksiatnya masuk menutupi hatinya, seperti perasaan menutupi penglihatannya. Setiap kali kegelapan menimpa, kita pun akan kebingungan, akhirnya dengan terbang bebaslah kita melakukan bid’ah dan dosa.

Abdullah bin Abbas berkata, “Sesungguhnya untuk kebaikan ada cahaya pada wajah, sinar pada hati, kelapangan pada rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan dari hati banyak orang terhadap dirinya. Adapun perbuatan buruk menimbulkan warna hitam pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan pada badan, kekurangan pada rezeki, dan rasa benci kepadanya di hati banyak orang.”

  1. Melemahkan Hati dan Badan.

Kemaksiatan akan mempengaruhi hati dan badan kita. Seorang pelaku maksiat, walau badannya kuat, dia akan terlihat lemah. Itu karena hatinya yang kotor diselimuti dosa. Dalam peperangan, kita menyaksikan betapa yang menentukan menang tidaknya pasukan bukanlah faktor badan yang kuat semata, tetapi bergantung pada seberapa besar kekuatan iman di dalam dada. Pasukan Islam dengan jumlah sedikit sangat sering mengalahkan pasukan kaum kafir yang berlipat-lipat, hal itu karena faktor iman dan jauh dari kemaksiatan.

  1. Menghalangi Ketaatan.

Seorang pendosa akan tidak taat kepada Allah. Ibnu Qayyim mentamsilkannya dengan seorang laki-laki yang makan suatu makanan yang mendatangkan penyakit yang akhirnya mencegahnya dari berbagai macam makanan yang enak dan baik. Lihatlah pelaku maksiat. Dia selalu jauh dari sinar taat.

  1. Mengurangi Umur dan Mengikis Berkah.

Kebaikan akan menambah umur, sedangkan kejahatan akan mengurangi umur. Ini memang menjadi ikhtilaf para ulama. Menurut Ibnu Qayyim, mengurangi umur karena hilangnya berkah. Jadi, karena berkahnya hilang, lambat laun ajal pun begitu cepat menjemput.

Ibnu Qayyim, dalam bukunya Ad-Da’u wad Dawa’ (Terapi Penyakit Hati) mengatakan bahwa umur produktif manusia adalah umur yang digunakannya untuk kebaikan dan takwa kepada Allah. Selain itu, bukanlah umur produktifnya. Jadi, jika seseorang hanya sibuk dengan kemaksiatannya, hilanglah hari-hari hidupnya yang hakiki. Akhirnya, mereka pun menyesal dan berkata dengan perkataan yang diabadikan dalam Al-Quran, “Aduhai, sekiranya dulu aku berbuat baik untuk hidupku sekarang ini.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 24)  

Delapan akibat dari maksiat ini penting sekali untuk kita tafakuri bersama. Betapa sering hari-hari kita terjangkiti oleh virus maksiat. Di rumah dijangkiti dengan virus maksiat televisi. Keluar rumah, seorang lelaki dijangkiti aurat yang tidak halal baginya. Di kantor, kampus, dan pasar kita juga disuguhi dengan segala kemaksiatan.

Kita ingin menjauh, tapi balatentara maksiat itu selalu datang menerjang. Kita pun mencoba menggunakan “tameng” jaga diri, tetapi terkadang iman kita lebih lemah ketimbang “iman” balatentara setan. Segala yang kita lakukan dengan kekuatan diri sendiri pun terlihat begitu lemah di hadapan maksiat. Kita akan bisa bertahan, hanya dan hanya jika kita berusaha sekuat tenaga untuk iffah (menjaga diri) sekaligus meminta bantuan dari Allah Swt. agar senantiasa menjaga kita dari dosa-dosa maksiat. Semoga Allah menjaga kita semua dari kemaksiatan dan mengampuni dosa kita yang secara sadar atau tidak, pernah kita lakukan. Wallahu’alam []

 

*Penulis adalah Mahasiswa Kajian Timur Tengah dan Islam program Pascasarjana UI

Editor : Iman

 

Promo Kalender

 

(Visited 26 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment