Memendam Rasa

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-Nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (Q.S. An-Nazi’at 79:40-41)

promooktober1

Tersedianya aneka fasilitas keinginan manusia di dunia tidak membuat seorang muslim lalai untuk selektif memilih dan memilah. Dia akan mampu memendam rasa tidak memperturutkan keinginan memiliki (al-hawa) dengan jalan yang buruk karena takut semata pada Rabb pencipta-Nya.Tentu saja, untuk melakukan hal tersebut seorang membutuhkan bekal. Berikut beberapa bekal yang bisa dijadikan upaya untuk memelihara diri dari al-hawa.

Senantiasa mengingat Allah Swt.

Aktivitasnya selalu diwarnai dengan mengingat Allah dan kebesaran-Nya, “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah (dzikr) sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau maka peliharalah kami dari azab neraka.’” (Q.S. Ali Imran [3]: 191)

Dia senantiasa mengadukan berbagai hal dalam hidupnya kepada pencipta-Nya sehingga dia mampu mengerem diri untuk hal-hal yang tidak disukai-Nya. Setiap masalah yang dating kepadanya dipecahkan dengan tenang, meminta petunjuk-Nya, meminta pertolongan dan ridhaNya. “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28)

Memanage Nafsu

Sesungguhnya, dorongan nafsu buruk (nafsu ammarah) itu akan selalu ada dalam lintasan hati dan pikir seseorang. Seorang lajang yang tampan sekaliber Nabi Yusuf a.s. pun telah menyatakan bahwa dalam dirinya ada dorongan ingin memperturutkan keinginan buruknya pada seorang wanita yang bukan haknya. Namun, dia segera tersadar berlindung pada rahmat Allah, sehingga mampu menepis godaan setan di hati dan pikirannya itu.

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun Maha Penyayang.” (Q.S. Yusuf [12]: 53)

Keterangan Rasulullah Saw., “Neraka itu dikelilingi dengan memperturutkan kesenangan syahwat, dan surga dikelilingi oleh berbagai hal yang tidak memperturutkan syahwat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Contoh lain, salah satu keinginan buruk manusia di dunia adalah memperlihatkan dan melihat aurat lawan jenisnya. Namun sadarilah, ada sebuah hadis menerangkan bahwa Aisyah r.a. mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “‘Manusia akan dikumpulkan nanti pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki dan telanjang bulat.’ Saya bertanya (Aisyah r.a.), ‘Wahai Rasulullah, waktu itu laki-laki dan perempuan berkumpul, mereka dapat saling memandang kepada yang lain?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Aisyah, pada saat itu urusannya sangat berat, sehingga mereka tidak sempat memperhatikan hal-hal demikian itu.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Fokus Beramal Saleh

Tugas dan target kita di dunia adalah beriman dan beramal saleh sebanyak-banyaknya. Semoga timbangan amal kebaikan lebih berat sehingga dapat menyelamatkan diri dari api neraka. Kelak, masing-masing bertanggung jawab atas amal perbuatannya, tidak dapat mengandalkan pertalian nasab dan orang lain.

Dari Anas r.a., dari Rasulullah Saw., beliau bersabda, “Yang mengikuti mayat ada tiga, yaitu “Keluarga, harta benda, dan amal perbuatannya. Yang dua kembali dan yang satu tetap bersamanya. Keluarga dan harta bendanya kembali, sedangkan amal perbuatannya tetap bersamanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw. bersabda lagi, “Manusia tenggelam dalam keringat sesuai dengan amal perbuatannya. Di antara mereka ada yang terbenam sebatas kedua mata kakinya, sebatas pusarnya, dan ada pula yang terbenam sampai pada mulutnya. Rasulullah Saw. memberikan isyarat dengan tangan ke arah mulut beliau.” (H.R. Muslim)

“Apabila sangkakala ditiup, tiada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tiada pula saling bertanya di antara mereka. Siapa saja yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan siapa saja yang ringan timbangannya, mereka itulah orang-orang yang merugi, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dam mereka di dalam neraka itu dalam keadaan bibir yang cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?” (Q.S. Al-Mu’minuun [23]: 101-105)

Mengingat Mati

Rasulullah Saw. bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingati sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu maut!” (H.R. Tirmidzi). Maksudnya, kita diingatkan agar berhati-hati dengan kelezatan dunia fana, ada batas waktunya, ada halal haramnya, kematian bukan untuk ditakuti, tetapi dipersiapkan, bahkan dirindukan karena kelezatan setelah mati insya Allah adalah kelezatan abadi di akhirat. “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat disempurnakan pahalamu. Siapa saja yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Ali Imran [3]: 185)

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti), apa yang akan dijalaninya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Q.S. Lukman [31]: 34). “Tatkala telah datang ajal, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) memajukannya.” (Q.S. Al-A‘raaf [7]: 34)

Namun, seorang muslim diharamkan berputus asa, mengharapkan kematian, “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mengharapkan mati. Apabila dia orang baik, masih ada kemungkinan dapat menambah kebaikan, dan apabila dia orang jahat mungkin dia akan berhenti dari kejahatannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Mohonlah doa kepada Allah agar akhir hayat khusnul khatimah, “Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya dan sebaik-baik amalku adalah pada ujungnya, dan sebaik-baik hariku adalah pada saat aku menemui-Mu.”

Bak pengembara

Rasulullah Saw. menerangkan, Keberadaanmu di dunia ini bagaikan orang asing atau orang yang sedang mengembara. (H.R. Bukhari)

“Dia (Allah) berfirman, ‘Kamu tinggal di bumi hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui. Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?’” (Q.S. Al-Mu’minuun [23]: 114-115). Ayat sebelumnya, (ayat 113) menerangkan bahwa tinggal di bumi seakan sehari atau setengah hari saja.

Dalam Surat Al-Hadid [57] ayat 20-23, Allah Swt. mengingatkan kita bahwa inti kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, saling berbangga-bangga dengan perhiasan, kekayaaan, anak keturunan. Kesenangan dunia hanyalah kesenangan yang palsu. Agar kita mampu memendam rasa secara proporsional, yaitu tidak terlalu bersedih hati terhadap apa yang luput dan tidak terlalu gembira dengan apa yang diberikan-Nya, maka berimanlah kepada Allah Swt. dan rasul-rasul-Nya, arahkan diri untuk berlomba-lomba meraih ampunan Allah Swt. dan surgaNya. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku-buku keislaman

Editor : Sly

Ilustrasi foto: Norman

 

Promo Kalender

(Visited 12 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment