Dialog dengan Gunung, Bentuk Kekuasaan Allah

Dan Kami mudahkan bagi Daud gunung-gunung dan burung-burung bertasbih bersamanya Dan Kamilah yang melakukannya. (Q.S. Al Anbiyaa:79)

Ingatkah Anda dengan sosok almarhum Mbah Maridjan, kuncen Gunung Merapi di Yogyakarta yang sangat fenomenal . Semasa hidupnya ia menjadi terkenal setelah media mengangkat profil dan penjuangannya. Dia dianggap bisa berkomunikasi dengan gunung sehingga tahu kapan gunung akan meletus. Maka rakyat setempat menunggu instruksinya dulu, walaupun Sultan Hamengkubuwono X sudah menyuruh mereka segera mengungsi. Konon, ajengan Kikisik di lereng Gunung Galunggung juga punya ilmu yang sama.

promooktober1

Ternyata, bukan hanya mereka saja yang bisa berdialog dengan gunung. Tahun 1883, di Batavia, burung-burung meronta dalam sangkar beberapa jam sebelum Gunung Krakatau meletus. Lembu yang banyak berkeliaran di Aceh, sudah melarikan diri ke dataran tinggi sebelum gempa dan tsunami melanda akhir 2004. Sejam sebelum bencana tsunami terjadi, mendadak ribuan kelelawar beterbangan di sebelah selatan kota Dickwella di Srilangka. Di Thailand, gajah yang sedang membawa wisatawan berlari menuju bukit, sebelum tsunami menghancurkan dinding air di Phuket.

Beberapa jenis binatang telah bisa mendengar tsunami yang akan datang dari saat gempa yang meletus di bawah dasar laut. Burung, anjing, gajah, harimau, dan binatang lainnya bisa mendeteksi frekuensi infrasonik antara 1-3 hertz, dibandingkan manusia yang hanya pada frekuensi 100-200 hertz. Binatang lebih sensitif pada gelombang suara berfrekuensi rendah yang tidak bisa didengar manusia. Ikan sangat sensitif pada variasi perubahan muatan listrik di dalam air yang kadang-kadang merupakan isyarat permulaan terjadinya gempa bumi. Organisme di tanah bisa merespon perubahan polaritas dan konsentrasi ion atmosfer atau muatan partikel sehingga binatang tersebut bisa mendeteksi efek ionisasi udara dari gas radon yang kadang-kadang dikeluarkan dari bumi sebelum gempa bumi terjadi.

Efek piezoelektrik menunjukkan bahwa perubahan tekanan di kedalaman bumi, bila dialami oleh kristal sejenis kwarsa, akan menghasilkan muatan listrik pada permukaan kristal, lalu membangkitkan energi listrik yang menerbangkan ion-ion sebelum gempa bumi. Jadi, sebetulnya gempa dan gunung meletus sudah memberitahukan dirinya sebelum terjadi. Hanya manusia tidak paham bahasanya. Binatang ternyata lebih peka.

Kiyoshi Shimamura, seorang dokter di Jepang, pada September 2003 menyampaikan hasil studi tentang perilaku aneh dari anjing yang seakan menggigit dan menyalak melampaui batas. Hal itu bisa digunakan sebagai alat yang murah untuk meramalkan terjadinya gempa. Riset ini dikaitkan dengan gempa Kobe pada tahun 1995 yang menewaskan sekitar 6.000 orang.

Sheldrake dari Turki meneliti reaksi binatang sebelum terjadinya gempa California tahun 1994 dan gempa Turki tahun 1999. Anjing berperilaku secara misterius dan tidak bisa tidur di tengah malam, burung-burung di kandang terlihat gelisah dan kucing-kucing ketakutan dan bersembunyi sebelum terjadinya gempa bumi. Allah menyebutkan bahwa Nabi Daud bertasbih bersama gunung dan burung. Mungkin  itu isyarat bagi kita untuk belajar bahasa gunung lewat burung. Wallahu a’lam.  (Ir.H.Bambang Pranggono MBA.)

Foto Ilustrasi : “Whitney (6183481656)” by Jeffrey Pang from Berkeley, CA, USA – WhitneyUploaded by russavia. Licensed under CC BY 2.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 32 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment