Teladan Abadi Nilai-Nilai Kepemimpinan Rasul

nabi muhammad

Oleh: Nanang Hidayat*

 

Pemimpin adalah individu yang harus dapat memberi  contoh dan teladan kepada pengikutnya, Rasul adalah teladan yang tiada duanya dari sisi akhlak dan memang salah satu tugas utamanya adalah menyempurnakan akhlak, beliau  bersabda “Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak” dan akhlak beliau adalah Al Qur’an. Keagungan akhlak beliau difirmankan Allah Swt dalam:

promooktober1

“  Sungguh, kamu (Muhammad) benar-benar berakhlak mulia “(QS.Al Qalam: 4)

Keberhasilan kepemimpinan Rasul Saw adalah karena selalu berdasarkan bimbingan Al Qur’an yang kemudian diikuti para sahabatnya dan penerusnya, berikut adalah prinsip-prinsip kepemimpinan beliau yang patut dan perlu kita diteladani.

  1. Egaliter.

Rasul tidak pernah meminta diistimewakan dan tidak pernah mengambil jarak dengan sahabat dan umat, beliau merebut hati sahabatnya bukan dengan kekuasaan atau harta, tapi dengan budi pekerti yang mulia sebagaimana beliau menasihatkan “Kamu sekalian tidak akan dapat merebut hati manusia dengan kekuasaan dan harta, tetapi dengan budi pekerti, atau ungkapan beliau “Aku adalah manusia, aku makan daging, aku ke pasar, yang membedakan adalah aku diberi wahyu”.

  1. Adil.

Rasul adalah sosok yang sangat adil dan bijaksana dalam penerapan hukum, tidak membedakan apakah satu akidah atau tidak, apakah kerabat atau bukan. Dalam satu riwayat disampaikan bahwa Rasul didatangi seorang Yahudi yang mengadukan bahwa saluran air yang menuju kebunnya ditutup oleh seorang sahabat Anshar, dan beliau langsung memerintahkan untuk dibuka, beliau bersabda bahwa manusia berserikat dalam 3 hal yaitu air, api dan padang gembalaan. Kalau masa kini api berarti sumber energy, padang gembalaan bisa ditafsirkan hutan, yang tidak boleh dimonopoli swasta atau segelintir pemodal tapi harus dikuasai dan diurus Negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyatnya.

  1. Amanah.

Adalah kapasitas dan kualitas diri yang menjadikan seseorang dipercaya untuk mengemban suatu tugas, juga berarti terpercaya dalam hubungannya dengan jabatan yang diembannya. Rasul sangat terpercaya dalam mengemban tugas, kerasulan adalah tugas yang sangat berat yang dipercayakan Allah Swt namun beliau tidak pernah mengabaikan amanah tersebut. Karena pentingnya amanah ini Rasul Saw bersabda “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika bicara dia berdusta, jika berjanji dia ingkar, jika diberi amanah dia khianat”.

  1. Mengabdi dan Melayani.

Rasul Saw mengatakan “Pemimpin itu adalah pelayan (khodimul ummah)”, prinsip pelayanan yang berarti pengabdian ini tidak hanya diucapkan tapi diterapkan dalam kehidupan beliau sebagai pemimpin. Bagi seorang pengabdi yang menjadi kebahagiaan adalah ketika dapat menghadirkan diri sebagai orang yang berguna, kekuasaan dan harta bukan tujuan, tapi merupakan sarana pengabdian. Dalam suatu hadits diriwayatkan bahwa beliau dan keluarganya sangat bersahaja sampai tidak pernah memiliki dan menyimpan persediaan makanan yang melebihi keperluan satu hari, jika berlebih selalu diberikan kepada yang membutuhkan.

  1. Tabligh (Komunikatif dan Transparan)

Dalam satu hadits Rasul Saw bersabda “Ajaklah orang berbicara dengan kadar akalnya” hal ini berarti bahwa dalam menyampaikan suatu maksud, harus mudah dimengerti yang diajak bicara. Dalam mengemban amanah seorang pemimpin wajib menganut azas transparansi  sebagaimana Firman Allah Swt dalam :

Jangan kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”(QS. Al Baqarah: 42 )

Rasul dalam berkomunikasi dengan umat tidak pernah keluar dari kaidah Qur’an, tidak pernah berbelit-belit dan selalu menyampaikan secra hak, dan sesuai dengan kadar pemahaman yang diajak bicara.

  1. Peka terhadap perubahan.

Ada suatu pemeo bahwa dalam kehidupan tidak ada yang tetap, dan yang tetap adalah perubahan. Perubahan harus dihadapi dan dimanfaatkan, Rasul Saw bersabda

Gunakan 5 hal sebelum datang 5 hal, yaitu masa muda sebelum datang masa tua, hidup sebelum datang kematian, kesehatan sebelum datang sakit, saat kaya sebelum datang saat miskin, dan saat luang sebelum datang saat sibuk”.

  1. Arif dan Teliti.

Pemimpin yang arif adalah yang memahami kelemahan yang dipimpinnya, sifat ini sangat menonjol dalam diri Rasul Saw, sehingga setiap memerintahkan sesuatu selalu beliau tambahkan kalimat “Semaksimak kalian bisa”. Karena keterbatasan manusia inilah beliau adalah seorang pemaaf  dan berlapang hati, tidak apernaha mencari kesalahan orang lain, dan dalam memberikan petunjuk  selalu memberikan pedoman, serta jika menjatuhkan putusan selalu melakukan cek dan re-cek (tabayyun) atas masalah yang dimintakan keputusan.

Pelajaran yang dapat diambil.

Dalam memilih pemimpin seyogyanya kita berusaha agar yang dipilih memiliki kriteria kepemimpinan yang telah dicontohkan Rasul Saw, karena itu sudah terbukti bisa membawa masyarakat jahiliyah meuju masyarakat yang berperadaban mulia. Memang tidak akan ada yang bisa menandingi karakter kepemimpinan beliau tapi paling tidak sifat dasar tersebut ada pada mereka.

Seandainya nilai-nilai kepemimpinan Rasul Saw ini dianut oleh para pemimpin khususnya pemimpin masa kini maka Insya Allah yang dicita-citakan masyarakat yang adil dan makmur bisa diraih. Wallahu ‘alam.

 

*Penulis adalah pensiunan karyawan PT.Telkom dan Ketua LAZ Zakatel Citra Caraka

Editor : Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

 

Promo Kalender 1

 

 

Promo Kalender

(Visited 33 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment