Siapa Mereka yang Allah Beri Rasa Aman di Dunia Hingga Akhirat?

 

Sumber rasa aman adalah ketentraman jiwa dan tidak merasa takut. Sebuah negeri dikatakan aman ketika penduduknya merasa nyaman tingal di negeri itu. Rasa aman dalam arti ketentraman individu, keluarga dan masyarakat untuk menikmati hidup dengan baik di dunia.

Mereka tidak merasa takut akan gangguan seseorang dengan semena-mena terhadap jiwa, harta, kehormatan, agama, akal dan keturunan mereka dan terhadap fasilitas yang menunjang dan pelengkapnya. Mereka merasakan ketentraman karena mereka melakukan setiap apa yang Allah Swt. ridhoi sehingga Dia menyempurnakan rasa aman mereka di akhirat dengan meraih ridho Allah dan pahala-Nya serta selamat dari azab-Nya.

Inilah rasa aman yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Rasa aman akan kehidupan yang baik di dunia, rasa aman dengan meraih ridho Allah SWT dan selamat dari kemarahan-Nya pada hari kiamat.

Rasa aman di dunia yang Allah Swt berikan kepada kaum kafir dan musyrik tidak akan langgeng. Bahkan suatu saat Allah akan menggantinya dengan rasa takut, kelaparan dan kehidupan yang buruk. Allah Swt berfirman:

Dan Allah telah membuat sebuah perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempa, tetapi (penduduk)-nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Q.S. An-Nahl: 112).

kalender percikan iman 2018

Ketika mereka terus-menerus dalam kekafiran dan memerangi Allah dan rasul-Nya, Allah akan mengganti rasa aman mereka dengan ketakutan, kekayaan mereka dengan kefakiran dan kekenyangan dengan kelaparan. Allah pun memberi kekuasaan kepada rasul-Nya dan orang-orang yang beriman untuk menguasai mereka.

Lalu rasul dan orang-orang yang beriman menghinakan mereka pada Perang Badar dan peperangan lainnya. Allah memerdekakan kota Mekkah bagi kaum mukminin. Mereka mamasukinya dengan aman dan mereka mengalahkan musuh-musuh mereka, mereka yakin bahwa tidak akan ada rasa aman dan ketenraman melainkan dengan petunjuk Allah, mereka pun menyambutnya. Sehingga rasa aman dan kemuliaan kembali pada mereka dan dengan itu mereka memimpin dunia.

Rasa Aman yang Hakiki

Selamat dari api neraka pada hari kiamat adalah rasa aman yang hakiki. Orang yang rasa amannya sempurna akan selamat dari api neraka dan memasuki surga, kenikmatan-kenikmatanya dan kamar-kamarnya (QS 15: 45-46, QS 34:37).

Faktor-faktor yang paling penting untuk meraihnya adalah konsisten dengan manhaj Allah dan beribadah kepada-Nya, tidak menyekutukan-Nya dan tidak taat kepada selain-Nya. Firman Allah Swt:

Dan Allah telah berjanji kepada orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia akan sungguh-sungguh menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridoi untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadai aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku, dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu. Maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. An-Nur: 55).

Inilah rasa aman yang sempurna yang tak akan terwujud melainkan dengan rasa takut yang sempurna: Takut oleh Allah Yang Maha Esa, tawakal kepada-Nya dan tidak merasa takut oleh selain-Nya.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa kaum yang hendak meraih keamanan yang sempurna di dunia dan akhirat adalah kaum yang mengesakan dan taat kepada Allah dan kepada rasul-Nya. Usaha untuk meraih keamanan di dunia dan akhirat atau keduanya secara bersama-sama selain dengan itu adalah hanya sia-sia belaka. Dan karena rasa aman inilah Allah menurunkan kitab-kitab, menciptakan makhluk serta menjanjikan surga dan neraka.

Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thogut itu, maka diantara umat itu ada orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan adapula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Q.S. An-Nahl:36) .

Walaupun demikian kebanyakan manusia mengklaim bahwa mereka yang menyeruakan keamanan, kedamaian dan ketentraman. Sebenarnya mereka tidak menempuh bagian dari jalan itu, bahkan mereka menghalang-halangi para penempuhnya dan memerangi mereka serta menghalang-halangi orang yang hendak menyambutnya.

Berbagai kisah para nabi dan rasul bersama kaum-kaumnya menggambarkan kondisi tersebut. Begitu pula sejarah para da’i yang menyeru kepada Allah serta generasi-generasi yang mengikutinya.

Bacalah kisah nabi Nuh bersama kaumnya, kisah Nabi Ibrahim a.s, Nabi Hud a.s, Nabi shaleh, Nabi Syu’aib, Nabi Luth, Nabi Isa, juga Nabi Muhammad Saw dan kisah saudara-saudaranya dari semua nabi bersama kaumnya.  Lihatlah perjalanan sejarah umat-umat itu hingga hari kini. Niscaya kita akan menyaksikan mayoritas umat memilih jalan yang menghantarkan mereka pada ketakutan, kebinasaan dan kehancuran. Mereka menutup semua pintu yang menghantarkan kepada keamanan, ketentraman dan kedamaian.

Kemudian perhatikanlah apa yang Allah terangkan dalam kitab-Nya. Mayoritas manusia itu sesat dan menyesatkan, fasik, serta kafir. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat Al-Baqarah ayat 243, “Sesungguhnya Allah memepunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (perhatikan pula QS 6:116, 11:17, 25:50, dan QS 36:6-7).

Renungkanlah bagaimana manusia yang kehilangan rasa aman memperolok-olok terhadap para penyeru kebaikan di antara para rasul sehingga mereka mendapatkan puncak kerugian dan penyesalan akibat perbuatan itu (QS. Yasin: 30, dan QS. Al Hajj: 72).

Jelaslah bagi kita bahwa begitu pentingnya pendidikan Islam dalam kehidupan kita. Keamanan yang hakiki tidak akan pernah terwujud pada bangsa mana pun melainkan apabila individunya, keluarganya dan masyarakatnya dididik dengan pendidikan rabbaniah ini.

” Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (as-sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Jumu’ah: 2). Wallahu’alam []

 

 

Penulis : Halim Sodikin

Editor: Iman

Ilustrasi foto: “Nimêj” by Dûrzan cîranoOwn work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 64 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment