Sesal Dulu Pendapatan, Benarkah Sesal Kemudian Tiada Guna ?

Oleh: Ir.Bambang Pranggono,MBA*

“Dan taubatlah kepada Allah semuanya, wahai orang-orang beriman, agar supaya kalian menang”. (QS. An-Nuur : 31)

donasi perpustakaan masjid

Kita sering mendengar ungkapan sebuah pepatah “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Maknanya apa yang sudah terlanjur terjadi tidak bisa diulang lagi. Benarkah begitu ? Dalam teori fisika quantum, hal itu tidak mutlak. Sesal kemudian tetap berguna. Hukum kausalitas, hukum sebab-akibat, selalu dianggap berarah kedepan. Kini ada teori bahwa sebab akibat dimungkinkan berjalan mundur kebelakang. Artinya perbuatan sekarang bisa mengkoreksi kesalahan kemarin. Dan dampak hari ini bisa jadi adalah akibat perbuatan esok hari. Maka hal-hal bagus yang menyenangkan kita saat ini, mungkin saja berkat usaha perbaikan orang-orang dimasa depan.

Para peneliti sedang melakukan rangkaian percobaan dengan perangkat optik canggih terhadap perilaku aneh partikel quantum. Teori Relativitas Einstein menjelaskan bahwa alam semesta tersusun dari jejaring ruang dan waktu berdimensi empat. Sejarah bukan lagi hal yang berjalan kedepan, tetapi seluruhnya sudah terjadi. David Miller dari Pusat Riset Waktu di Sydney University, mengatakan bahwa dalam model tersebut alam adalah suatu blok dimana masa lalu – masa kini – dan masa depan sekaligus ada bersama-sama. Maka tidak ada bedanya proses kemasa depan maupun kemasa silam. Jadi hukum sebab akibat tidak hanya berlaku kemasa depan, tetapi juga berlaku kemasa lalu.

Itulah teori retrokausalitas. Richard Feynman dan John Wheeler dari Princeton University menyebutkan bahwa partikel semacam positron yakni lawan elektron adalah partikel biasa yang berjalan mundur dalam waktu. Ditahun 1978 mereka berdua menyusun teori elektrodinamika berbasis gelombang yang berjalan maju mundur dalam satuan waktu. Kemudian ditahun 1986, Carroll Alley dari University of Maryland melakukan percobaan dengan photon untuk membuktikan bahwa perintah sekarang bisa merubah hasil dimasa lalu.

Taubat berasal dari kata taaba, artinya kembali. Secara syariat, taubat maknanya kembali kejalan Allah dan tidak mengulangi kesalahannya. Jadi sebetulnya dalam kata taubat ada konsep kembali kemasa lalu. Nah, teori retrokausalitas memberi tafsir baru soal taubat, yakni memperbaiki masa lalu dengan teknologi membalikkan proses sebab akibat. Maka tafsir ayat-ayat taubat seperti Q.S. An Nuur : 31 bukan hanya sekedar menganjurkan manusia mengucapkan istighfar, lantas menghentikan perbuatan buruknya dimasa depan. Taubat adalah proses perbaikan yang dilakukan saat ini  yang langsung merubah masa lalu, untuk menikmati kemenangan dimasa depan. Dengan demikian maka penyesalan sangat berguna sebagai pintu masuk pertaubatan untuk meraih ampunan dan ridho Allah Swt . Wallahu a’lam.

 

*Penulis adalah seorang pegiat dakwah dan pengajar

 

Edito: Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

 

 

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment