“Ngapain” Pake Kerudung? Kayak Nenek-nenek aja!

Aku lahir di tengah keluarga besar yang sangat fanatik menjalankan agama Kristen. Papaku berasal dari Manado dan dia adalah seorang pendeta di sana. Mama sebenarnya berasal dari keluarga muslim, tapi karena dibesarkan tantenya yang Kristen, mama jadinya Kristen juga. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, juga cucu pertama dari Opa dan Omaku. Sebagai cucu pertama, aku telah dipersiapkan untuk bertugas membimbing dan mengawasi cucu-cucu yang lain dalam menjalankan agama Kristen.

Masa kecil kuhabiskan di Manado. Ketika aku duduk di kelas 6 SD, kami pindah ke Bandung. Di Bandung aku meneruskan sekolah di SD Katolik. Lalu melanjutkan sekolah di SMP umum. Di sanalah aku mulai mengenal Islam sebagai salah satu pelajaran agama di sekolah. Mulanya aku hanya ikut teman yang belajar agama Islam, tetapi lama-kelamaan aku menjadi tertarik. Lewat obrolan dan diskusi, aku banyak membandingkan antara agama Islam dan agamaku, Kristen.

Setelah beberapa tahun mencoba mengenal Islam, akhirnya ketika duduk di kelas 1 SMA, aku memutuskan bersyahadat dan masuk Islam. Alasanku waktu itu karena ternyata di dalam Alkitab banyak ayat yang aku pikir tidak masuk akal. Misalnya, yang mengisahkan Yesus menengadahkan tangannya ke atas dan meminta kepada Tuhan. Padahal kita juga menyembah Yesus waktu itu. Kalau Yesus itu Tuhan, seharusnya cukup sim salabim saja. Sedangkan dengan Islam dan Al Quran, meskipun baru sedikit kupelajari, aku merasa yakin akan kebenarannya.

Aku merahasiakan keislamanku ini pada orangtua. Suatu hari ketika aku di dalam kamar, papa memanggilku. Aku tidak menjawab karena sedang shalat. Tiba-tiba papa mendobrak pintu dan begitu terkejutnya ia mendapatiku shalat. Aku langsung ditendangnya. Semenjak tahu aku masuk Islam, setiap papa mendengar suara azan, beliau akan berkata, (punten ya), “Apa, Muhammad. Muhammad, tai!”, sambil meludah. Kalau ada azan di tv langsung dimatikan. Terus kalau melihat perempuan yang mengenakan kerudung, langsung meledek.

Sebagai anak dalam keluarga Kristen, seharusnya aku menjalani masa baptis dua kali, waktu bayi dan sesudah dewasa, sesudah belajar Alkitab. Kalau sudah menjalani baptis yang kedua kali, maka dosa-dosa kita sudah ditanggung sendiri, tidak oleh orangtua lagi. Masuk Islamnya aku dalam pandangan orangtuaku adalah perbuatan dosa, dan dosanya ditanggung oleh mereka karena aku belum baptis yang kedua. Itulah yang membuat orangtuaku marah besar dan tidak bisa menerima keislamanku. Tapi karena aku tetap teguh, mereka pun mentok. Malah papa sampai pernah memberi alternatif bahwa aku boleh masuk Islam asalkan dibaptis dulu. Tapi aku tetap tidak mau.

Menghadapi orangtua memang merupakan tantangan yang paling berat yang kurasakan karena aku memang masih dibiayai oleh mereka. Sejak sebelum aku memeluk Islam sebenarnya papa sudah mempunyai kebiasaan buruk, yaitu ia suka memukul kalau sedang marah. Nah, begitu tahu aku masuk Islam, kebiasaan ini semakin menjadi, semakin seringlah aku dipukul. Acara-acara keluarga sering diadakan pada waktu-waktu shalat. Dalam acara tersebut selalu disediakan minuman beralkohol, daging babi, dan makanan haram lainnya. Kalau aku minta izin untuk shalat, mereka pasti marah dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati. “Belagu sih masuk Islam dan shalat segala, segala yang ada di rumah ini kan dari Yesus!”

Mama kebetulan punya jabatan di kantornya. Waktu aku mulai berjilbab, dia bilang ”Malu dilihat tetangga dan anggota-anggota mama. Kamu jangan keluar rumah!” Waktu itu aku dilarang ketemu saudara-saudara dan kalau keluar rumah harus mengambil jalan berputar supaya tidak diketahui tetangga. Terus aku juga tidak boleh mencantumkan agama Islam di KTP. Mama juga suka bilang, “Ngapain pake kerudung, kaya nenek-nenek saja! Gimana nanti dapet jodohnya?” Selain itu, aku juga sudah diputuskan dari tali warisan papa. Tapi tak apa, toh bukankah dalam Islam seorang muslim tidak menerima waris dari yang berbeda agama?! Memang, sangat berat bagiku mengahadapi itu semua, tapi dengan terus sedikit demi sedikit mempelajari Islam, aku pun mengerti bahwa apa pun dan bagaimanapun keadaan orangtuaku, mereka tetap harus dihormati karena melalui merekalah aku ada, dan merekalah yang telah mendidik dan membesarkanku.

BACA JUGA  Bisnis Kosmetik Halal Makin Menjanjikan

Keyakinanku untuk memeluk Islam memang tidak terbebas dari keraguan. Waktu itu aku sempat ragu, kalau Yesus mujizatnya bisa membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang lumpuh, tapi kok Muahmmad hanya diberi mukjizat berupa wahyu? Terus kenapa orang Islam harus shalat lima waktu, kenapa juga rakaatnya 4-4-3-4-2? Terus mengapa perempuan harus berjilbab? Mengapa laki-laki dan perempuan dalam Islam tidak seperti di Kristen yang bisa berinteraksi secara akrab dan saling merangkul, dan kenapa kalau di masjid habis selesai shalat, ya sudah, bubar (waktu itu aku memang belum tahu kalau di Islam ada majelis taklim)? Terus juga rasa-rasanya ceramah ustadz nggak sehebat khotbah pendeta. Ditambah lagi ceramah ustadz bahasanya suka dimengerti. Nabi Muhammad kenapa istrinya banyak? Di tv orang yang berantem, provokator, itu Islam. Terus perempuan Islam yang berkerudung itu mukanya kok jutek-jutek, banyak diem, dan nggak ramah?

Sejak kelas 1 SMA aku memang sudah Islam, tapi belum benar-benar menjalankan konsep Islam, baru sebatas keyakinan dalam hati saja. Barulah pada Februari 2005 aku mulai memutuskan untuk memakai jilbab. Waktu itu aku merasa bahwa diriku itu Islam, tapi kok tanpa disadari masih sering mengkristenkan diri, seperti kalau Valentin masih suka mengucapkan, kirim-kirim bingkisan, merayakan ulang tahun, dan banyak hal lainnya. Dari situlah aku mulai banyak ikut pengajian dan baca buku tentang Islam, sampai aku dapatkan bahwa memakai jilbab itu wajib bagi perempuan.

Aku juga mulai paham bahwa kalimat syahadat itu ternyata bukan hanya untuk diucapkan saja karena itu merupakan janji yang harus ditepati. Seperti halnya kalau kita janjian dengan seseorang, bukankah harus ditepati juga. Nah, janji dalam syahadat itu berisi penghambaan kita untuk taat dan patuh menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. Bermula dari kesadaran itulah aku bertekad tetap dan terus memakai jilbab, menjalankan shalat lima waktu, dan perintah-perintah yang lainnya.

Banyak sekali kenikmatan yang aku rasakan setelah masuk Islam. Segala hal meskipun itu kecil, diatur dalam ajaran Islam. Mau ngapa-ngapain kita disuruh membaca Bismillahirrahmanirrahim. Terus segala bentuk kesombongan kita langsung di-cut dengan Alhamdulillahirabbil’alamin. Mungkin kalau bagi yang lain, yang sudah memeluk Islam sejak dari kecil atau dari lahir, tidak begitu bermakna ketika mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim atau Alhamdulillahirabbil’alamin, tetapi bagiku, amat sangat bermakna. Rasanya sedih saja, soalnya mau ngangkat apa, megang apa kalau tidak ada rido Allah, kita mau bagaimana? Sepintar apa pun kita, sehebat apa pun kita, Islam mengajarkan bahwa pujian itu hanya milik Allah.

Bentuk kenikmatan lain yang aku rasakan adalah ketika ada masalah (atau juga nggak ada masalah) terus dibawa shalat, jadi enak rasanya. Sekarang pemikiranku juga lebih simpel. Dulu banyak ribetnya, kalau ada yang sedang tren, bingung harus beli ini beli itu. Kalau sekarang, dikasih segini atau segitu juga Alhamdulillah, terasa banget cintanya Allah. Dalam ajaran Islam, semuanya ter-manage. Insya Allah, aku tidak mau melepas agama ini dan ingin mendakwahkannya kepada banyak orang.

Di luar sana masih banyak orang yang sebenarnya ingin menjadi baik tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Orang yang kadung berbuat salah dan dosa seringkali merasa minder menghadapi orang-orang yang sudah baik atau saleh. Temen-temenku banyak yang seperti itu, mereka terperosok ke dalam dunia maksiat, dugem, narkoba, free sex, dan sebagainya. Mereka sebenarnya ingin menjadi baik, tapi keinginan mereka tidak  bersambut dengan lingkungan dan orang-orang baik di sekitarnya. Jadi, itulah tugas dan tantangan kita bahwa kita nggak cukup menjadi baik untuk diri sendiri.

Sekarang aku adalah seorang mahasiswi di Universitas Islam Bandung (Unisba). Dengan kuliah di sana, aku ingin menjaga diri agar tetap berada di lingkungan yang ada suasana Islamnya.

* Dikisahkan oleh seorang muallaf kepada Majalah Percikan Iman pada 2005

Foto Ilustrasi  : Norman

 
Anda punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di Mapionline.com? Kirimkan karya tulis Anda ke email [email protected] Info lengkapnya di sini  

(Visited 32 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment