Tips Mengatasi Anak Tantrum

Oleh: dr.Zulaehah Hidayati*

Putri saya berusia 22 bulan dan sebentar lagi akan mempunyai adik.Namun akhir-akhir ini ia suka rewel. Kalau sudah menangis ,kadang bisa berjam-jam dan susah diamnya. Saya sudah melakukan berbagai pendekatan,seperti menasehati setiap saat dan merayunya untuk berhenti menangis. Namun masih belum ada  perubahan. Kalau ditanya juga,anak seusia itu belum bisa mengungkapkan keinginannya. Saya takut kebiasaan rewelnya akan keterusan.Mohon bantuannya”

Demikian penggalan surel yang ditujukan pada saya beberapa waktu lalu. Secara umum gejala atau kondisi anak demikian bisa disebut temper tantrum.Pengertian temper tantrum sendiri adalah perilaku marah atau rewel pada anak-anak prasekolah. Anak akan mengekspresikan rasa marahanya dengan berbagai cara seperti berbaring atau berguling di lantai, menendang,memukul, berteriak, dan kadang-kadang diam sambil menahan napas. Hal ini merupakan bentuk ledakan emosi pada anak. Tantrum yang alami, terjadi pada anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa marah,kesal,benci hingga frustrasi, karena tidak terpenuhinya keinginan atau hal lain sebagai pemicunya.

Tantrum sendiri merupakan suatu kondisi yang normal yang terjadi pada anak-anak.Kondisi demikian bisa terjadi berulang-ulang dengan waktu dan tempat yang berbeda. Asal ada hal yang memicu atau mempengaruhi maka tantrum akan muncul secara tiba-tiba.Sementara pemicunya atau penyulutnya bermacam-macam seperti rasa kesal atau benci yang belum hilang,keinginan yang tak dipenuhi atau terganggu kesenangannya.

Dalam hal perkembangan perasaan (emosi),salah satu fase yang khas adalah ledakan emosi tersebut . Ledakan emosi tersebut akan mencapai puncaknya pada rentang usia 2 hingga 4 tahun dan akan berkurang pada usia selanjutnya. Dari sebuah penelitian dua puluh tiga hingga delapan puluh tiga persen dari anak usia dua hingga empat tahun pernah mengalami temper tantrum.Jika seorang anak usianya sudah diatas 4 tahun namun masih sering tantrum maka orang tua perlu lebih perhatian dan menanganinya secara lebih serius.

Seorang psikolog Michael Potegal,dalam bukunya “Temper Tantrum in Young Children”, membagi tantrum menjadi dua jenis,yaitu:Pertama tantrum amarah (anger tantrum). Cirinya seorang anak akan memukul,menendang,menghentak-hentakan kakinya hingga berteriak-teriak. Kedua tantrum kesedihan (distress tantrum).Cirinya anak akan membantingkan diri,menangis sambil terisak-isak dan akan berlari menjauh.

Kebanyakan anak-anak membuat ulah di tempat tertentu dan juga dengan orang tertentu. Mereka biasanya akan melakukan hal ini ketika mereka tahu ada larangan “tidak” untuk sesuatu yang dia ingin lakukan. Orang tua yang menanggapi tantrum anak dengan sikap yang kasar,marah yang berlebihan dan bahkan sampai memukul, maka masalah akan meningkat.Anak bisa jadi akan semakin rewel dan mengamuk dengan lebih lebih hebat. Mengamuk biasanya akan berhenti bila anak mendapat apa yang diinginkan. Tingkat kemarahan anak tergantung bagaimana besarnya energi anak dan juga kesabaran orang tua dalam meredam.

BACA JUGA  Manfaatkan Liburan, Saatnya Produktif Bersama Keluarga

Ada banyak sebab munculnya temper tantrum. Secara umum beberapa penyebab antara lain masalah keluarga: disiplin yang stidak konsisten, mengkritik terlalu banyak, orang tua yang terlalu protektif atau lalai, anak-anak tidak memiliki cukup cinta dan perhatian dari orangtua mereka, masalah dengan pernikahan, gangguan bermain, baik untuk masalah emosional orang tua, pertemuan orang asing, persaingan dengan saudara atau saudari, memiliki masalah dengan bicara, dan penyakit atau sakit. Penyebab umum lainnya termasuk karena rasa lapar atau lelah.

Orang tua dapat belajar bagaimana memelihara dan menegakkan disiplin secara efektif. Terlalu permisif dengan disiplin yang longgar membuat segala sesuatu harus dipenuhi. Sebaliknya, terlalu otoriter tidak baik dalam pengasuhan anak, coba sekali-kali gunakan gaya pengasuhan dengan lebih mendengarkan suara anak. Gaya pengasuhan otoriter adalah gaya pengasuhan yang belum mengakui hak-hak anak. Intinya adalah keseimbangan dalam pengasuhan, kapan orangtua perlu bertindak disiplin dan kapan perlu mendengarkan keinginan dan hak anak.

Cara Mengatasi:

1.Tetap tenang dan jangan marah.

Islam telah mengajarkan bagaimana untuk meredam amarah,seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW yakni istighfar,ambil wudhu dan shalat. Namun anak belum mempunyai kemampuan untuk hal itu maka orang tualah yang harus melakukan untuk dirinya sendiri.

  1. Gunakan Teknik Time Out.
  2. Jangan memukul anak.

Lebih baik mendekapnya dalam pelukan dengan menunjukan rasa kasih sayang sampai ia tenang.Memukul anak hanya akan menyakiti dan bukan solusi.

  1. Cobalah untuk menemukan alasan kemarahan anak.
  2. Jangan menyerah pada kemarahan anak. Ketika orang tua menyerah, anak-anak belajar untuk menggunakan perilaku yang sama ketika mereka menginginkan sesuatu.
  3. Jangan membujuk anak Anda dengan imbalan yang lain untuk menghentikan kemarahannya. Anak akan belajar untuk mendapatkan imbalan.
  4. Arahkan perhatian anak pada sesuatu yang lain.
  5. Beri pengertian boleh marah namun tidak boleh agresif dan merusak.
  6. Singkirkan benda-benda yang berpotensi berbahaya dari anak.
  7. Jika tantrum telah reda berikan pujian dan penghargaan atas perilakunya.

11.Tetap jaga komunikasi terbuka dengan anak.

Tips:

  1. Kendalikan diri sendiri sebelum mengendalikan anak,orang tua jangan terpancing emosi.
  2. Orang tua harus menjadi sahabat anak bukan musuh.
  3. Lakukan bimbingan karakter sejak dini sejak usia TK hingga SD.
  4. Selesaikan masalahnya hingga tuntas,jangan menunggu atau menunda lain kali.

 

*Penulis adalah seorang dokter, pendiri dan trainner di Rumah Parenting

Editor: Iman

Ilustrasi foto:

 

(Visited 22 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment