Setelah Tiada, Orang Akan Mengenang Apa Dari Kita?

Rasulullah Muhammad Saw dikenang karena suri teladannya, Hitler dikenang karena kekejamannya, Edison dikenang karena lampu pijarnya, Fir’aun dikenang karena kesombongannya, Zidane dikenang karena tandukannya dan manusia dikenang karena perbuatannya. Begitulah makna dari pepatah,”Gajah mati meninggal gading,harimau mati meninggalkan belangnya”. Setiap orang akan dikenang sesuai apa yang telah diperbuatnya.

Secara fisik, kita memang tidak mungkin hidup abadi. Namun, orang akan tetap mengenang nama kita meskipun daging dan tulang kita sudah hancur. Kita akan dikenang karena kebajikan yang pernah kita perbuat ataupun dosa-dosa yang pernah kita lakukan semasa hidup. Meninggal dunia dan dikenang oleh orang lain karena kebajikan, tentu menjadi sesuatu yang membahagiakan. Sebaliknya, meninggal dunia dan dikenang oleh orang lain karena kejahatan atau perilaku buruk yang diperbuat tentu menjadi sesuatu yang mengerikan.

promooktober

Nabi Ibrahim a.s. pernah memohon kepada Allah untuk dijadikan sebagai orang yang dikenang secara baik oleh umat sesudahnya. Beliau berdoa,

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (Q.S. Asy-Syu’ara 26: 83–84). Allah pun mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim itu sehingga Nabi Ibrahim senantiasa dikenang akan kebajikannya oleh umat-umat sesudahnya. “Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (Q.S. Ash-Shaffat 37: 108). ”Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia …” (Q.S. Al Mumtahanah 60: 4)

Tentunya, Nabi Muhammad juga merupakan contoh lain yang akan terus dikenang sepanjang zaman. Dunia mengenangnya sebagai sosok yang penuh suri teladan. Bahkan Michel Heart pun menempatkan beliau pada urutan pertama orang yang paling berpengaruh di dunia. Tak ada perilaku manusia yang seindah perilaku Nabi Muhammad saw. dan tak ada perkataan manusia yang semulia perkataan beliau. Allah menegaskan di dalam salah satu firman-Nya bahwa sungguh telah ada suri teladan yang baik pada diri Nabi Muhammad saw.

Lain Nabi Muhammad, lain pula Firaun. Raja yang akan dikenang hingga akhir zaman karena mengaku diri sebagai Tuhan ini tentu menjadi contoh kesombongan dan keangkuhan seorang anak manusia. Hitler ’Sang Pembantai tak Berhati’ pun menjadi setali tiga uang dengan Firaun. Kelakuannya membantai puluhan ribu manusia secara keji akan senantiasa mewarnai sejarah peradaban manusia. Dan tentu, sesungguhnya masih banyak lagi manusia-manusia seperti mereka berdua dalam skala pengaruh yang lebih kecil, dikenang sebagai orang yang tak berketuhanan dan tak berperikemanusiaan.

Bagaimana Nanti Kita Dikenang?

Bila kita meninggal nanti, seperti apakah orang akan mengenang diri kita? Berapa banyak orang yang akan beriringan mengantar jenazah kita? Apakah mereka akan membicarakan kebaikan tentang diri kita atau kesan jelekkah yang melekat dalam benak orang-orang di sekitar kita? Apakah orang-orang akan merasa ngeri ketika memegang dan memandikan jenazah kita atau justru mereka berebut, merasa senang, terharu, dan merasa kehilangan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya masih merupakan misteri, bergantung dari apa yang kita lakukan sekarang.

Bila kita adalah orang yang semasa hidup banyak berbuat baik dan santun kepada semua orang, besarlah kemungkinan tanpa diminta pun orang-orang akan datang, berdoa, dan mengiringi jenazah kita ke pemakaman dengan tulus ikhlas. Namun, jika semasa hidup kita menjadi orang yang tak memberikan kesan baik kepada lingkungan dan bahkan menjadi ’sampah’ bagi masyarakat, tentu orang-orang pun akan berat hati untuk datang, mendoakan, dan mengantarkan jenazah kita dengan tulus menuju persemayaman yang terakhir.

Dikenang atau tidak sebenarnya bukan masalah utama. Yang utama adalah bagaimana kehidupan kita kelak setelah kematian. Untuk ’hidup abadi’ dengan terus menerus bertabur pahala kebajikan, Nabi Muhammad saw. telah menjelaskan dalam salah hadisnya. Beliau bersabda bahwa ada tiga hal yang akan memberikan pahala kepada kita secara tidak putus-putus. Ketiga hal itu adalah amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan. Apabila kita meninggal dunia dan memiliki ketiga hal tersebut, insya Allah kita tidak hanya dikenang oleh orang-orang yang masih hidup sebagai orang yang saleh, tetapi juga akan terus mendapatkan manfaat tiada henti dari ketiga hal yang kita miliki itu.

Selain itu, ada satu ayat Al Quran yang menjelaskan bahwa apabila kita meninggal dunia  di jalan Allah, sesungguhnya kita tidak mati. Kita tetap hidup, meski tidak di alam dunia lagi, dengan kucuran pahala dan kenikmatan sebagai balasan kebaikan dari apa yang sudah pernah kita kerjakan. Allah swt. Berfirman,

”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.S Al Baqarah : 154)

Sebagai orang biasa, kita rasanya tak perlu ingin dikenang seperti mereka yang bisa mewarnai sejarah dunia. Dikenang sebagai orang yang berbudi baik dan saleh oleh masyarakat di seputar lingkungan tempat tinggal kita, rasanya sudah cukup bermakna. Namun, perlu diwaspadai pula bahwa hendaknya ketika kita berbuat baik kepada sesama manusia, tujuannya bukan agar dikenang oleh sesama manusia. Apabila seperti itu, kita bisa jatuh kepada perilaku riya yang justru tak bernilai kebaikan sedikit pun di hadapan Allah. Kalaupun di kemudian hari orang lantas mengenang kebaikan yang telah kita lakukan, itu adalah suatu wajar, namun tidak mesti. Kita tak perlu bersedih bila kita sudah berbuat baik tapi ternyata orang tidak mengenang kebaikan itu karena pada akhirnya Allahlah yang akan menilai perbuatan baik kita, bukan manusia.

Setiap tahun kita memperingati hari kemerdekaan dan hari pahlawan untuk mengenang para pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan para penjajah. Mereka melakukan perjuangan tentu bukan untuk dikenang sebagai pahlawan. Namun, ternyata ketulusan, kegigihan, dan semangat mereka terus dikenang oleh anak cucu mereka di seantero bumi Nusantara ini.  Mari kita banyak belajar dari mereka yang tetap harum namanya hingga akhir zaman.***

 

Penulis : Agung

Editor: Iman

Ilustrasi foto: “Paintbrush Silhouette” by Jessie Eastland. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 18 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment