Bunda! Pahami Perubahan Selama Kehamilan

Oleh: dr. Hanny Ronosulistyo, Sp.OG(K), MM*

Sobat Mapi khususnya para Bunda, kehamilan dan kelahiran melibatkan perubahan fisik dan emosi yang unik. Pemahaman mengenai bagaimana dan mengapa hal itu terjadi serta mana gejala yang wajar dan tidak, bisa membantu mengatasi kecemasan atas apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh wanita. Bila seorang wanita secara umum sehat, pada masa hamil ia tak banyak menemui masalah.

Beberapa perubahan terjadi selama kehamilan. Hal yang paling nyata adalah terhentinya siklus menstruasi. Pada masa awal kehamilan, seorang ibu akan merasakan mual dan tidak jarang diikuti dengan muntah. Payudara akan membesar, puting dan daerah sekitarnya akan terasa geli. Warna kulit di sekitar puting menjadi gelap. Rahim (uterus) umumnya membesar dan berbentuk seperti buah pir. Di awal kehamilan, membesarnya uterus akan menekan kandung kemih sehingga wanita yang hamil cenderung beser (selalu ingin kencing). Dalam tiga bulan pertama, ukuran uterus tak banyak berubah, namun pembesaran akan makin jelas terlihat setelah bulan keempat. Di akhir bulan kelima, ketika panjang janin sudah sekitar 20 cm, pertambahan ukuran semakin cepat. Di akhir kehamilan, total berat uterus, janin, dan air ketuban sekitar 8 kg.

Kulit juga berubah selama kehamilan. Warna kulit di sekitar puting payudara berubah gelap. Begitu pula di bagian atas pipi dan dahi. Dari arah pusar muncul garis gelap ke arah kemaluan, yang nantinya akan memudar, namun bisa juga tak hilang setelah persalinan. “Tanda regangan”, garis-garis kecil di bawah kulit, bisa timbul di perut, payudara, pantat, dan paha, namun biasanya akan menghilang dengan sendirinya. Pada kehamilan pertama, berwarna lebih gelap.

Gigi terpengaruh oleh banyaknya kadar progesteron pada masa hamil yang mengakibatkan gusi menjadi empuk dan lunak sehingga mudah mengundang infeksi. Penanganan kesehatan mulut sangat diperlukan pada bulan-bulan ini. Makanan kaya kalsium dan bergula rendah akan dapat mengatasinya.

Persendian menjadi lebih kaku karena perubahan hormon melemahkan ligamen pengikatnya. Hal ini berarti sendi-sendi menjadi lebih teregang dan sakit, terutama di punggung bawah, kaki, dan tungkai.

Selama kehamilan, jantung harus bekerja lebih keras untuk mendorong darah sampai ke uterus dan plasenta. Banyaknya aliran darah ke payudara, ginjal, kulit, dan gusi, juga meningkat. Selama kehamilan, volume darah meningkat sampai 2,5 pints dan pada akhir bulan kesembilan jantung harus bekerja 40% lebih kuat untuk mendorong cairan ke seluruh tubuh. Paru-paru juga harus bekerja lebih berat selama kehamilan. Tekanan ke paru-paru oleh membesarnya uterus bisa menyesakkan napas, ditambah lagi dengan pertambahan berat fetus, uterus, dan air ketuban.

Pada awal kehamilan, pembesaran uterus bisa mengusik kandung kemih sehingga menuntut lebih sering dikosongkan. Pada masa selanjutnya, pertambahan berat janin membuat lebih sering ingin buang air kecil. Terlebih lagi, karena ginjal menyaring 50% lebih banyak darah dari sebelumnya, yang berakibat lebih banyak lagi air kemih yang harus dibuang.

Perlu pula diketahui, tujuh penyebab utama kematian wanita adalah perdarahan pada persalinan, penyakit darah tinggi pada persalinan, infeksi persalinan dan nifas, pengguguran kandungan kriminalis, kanker leher rahim, kanker payudara, dan kanker rahim.

Pemeriksaan kehamilan yang baik dan teratur adalah cermin tanggung jawab ibu dan ayah terhadap buah cinta mereka. Pemeriksaan kehamilan idealnya dilakukan oleh tenaga terdidik (spesialis, dokter umum, atau bidan), bukan tenaga tradisional seperti dukun beranak. Pada kehamilan muda, pemeriksaan cukup sekali dalam sebulan karena gangguan relatif tidak begitu berat. Kalaupun ada, sulit untuk diintervensi (misalnya, gangguan pembentukan organ).

Pada usia 24 sampai 37 minggu, pemeriksaan dilakukan dua minggu sekali. Pada usia 37 sampai 40 minggu satu minggu sekali, dan pada kehamilan lewat bulan (40 sampai 42 minggu) 3 hari sekali. Peningkatan frekuensi pemeriksaan ini menujukkan kegawatdaruratan pada ibu dan janin.

Dari rangkaian pemeriksaan ini, bidan atau dokter dapat menentukan metode pertolongan yang paling tepat dalam persalinan, apakah di rumah saja dengan ditolong bidan, harus di puskesmas, di rumah sakit kecil, atau mungkin di rumah sakit rujukan.

Setelah kelahiran, perubahan hormonal memengaruhi otot-otot yang diperlukan selama kelahiran dan membuat si ibu menjadi mudah letih. Karena itu, ia sangat memerlukan istirahat yang cukup pada minggu-minggu awal setelah kelahiran. Umumnya terjadi depresi pada tiga atau empat hari setelah melahirkan, ketika ASI sudah mulai lancar. Hal ini sepenuhnya terjadi akibat hormon yang merangsang payudara untuk mengeluarkan ASI yang juga mengakibatkan fluktuasi emosi.Wallahu’alam

 

*Penulis adalah dokter kandungan dan pegiat dakwah

Editor: Iman

Ilustrasi foto: “Standing pregnant woman with her mobilphone” by Peter van der Sluijs – Own work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 29 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment