Yuk, Bijak dengan (Ber) Obat Yang Rasional

Oleh:  Nef Mirzal*

Obat adalah racun. Ungkapan ini sudah umum diketahui. Obat dikonsumsi untuk meracuni (baca: mengobati) penyakit sekaligus juga menyebabkan tubuh si pemakai teracuni. Obat yang dikonsumsi diproses (dimetabolisme) tubuh, berinteraksi dengan organ tubuh yang sakit dan kuman di tubuh. Sebagian besar dibuang keluar tubuh melalui urine, feses, keringat, dan lain-lain. Namun, sebagian kecil tertinggal di dalam tubuh, yakni di lever dan di ginjal. Ungkapan di atas mengajak kita untuk lebih berhati-hati mengonsumsi obat, termasuk tujuan penggunaan, dosis, cara dan waktu pemakaian, serta meminimalkan efek samping yang merugikan.

promooktober1

Regulasi yang lemah dalam pengaturan peredaran dan penyiapan obat seperti di banyak negara-negara berkembang termasuk di Indonesia, sering dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk kepentingan mencari keuntungan semata. Kita semua telah tahu bahwa untuk mendapatkan berbagai antibiotika yang notabene obat keras di berbagai toko obat atau apotek sangatlah mudah, tak perlu repot-repot meminta resep dokter. Atau, bukan rahasia pula ketika kita berobat kepada sebagian dokter, obat akan langsung diterima setelah ia mendiagnosis penyakit. Alasannya, untuk memudahkan pasien dan lebih ekonomis.

Di negara-negara maju seperti Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Australia, pemberian antibiotika hanya diberikan (baca: diberi resep) oleh dokter apabila sudah diketahui jenis kuman yang menginfeksi dan sudah dilakukan tes kepekaan (susceptibility test) antibiotika. Dengan demikian, dokter dapat memberikan antibiotika yang cocok (tidak perlu mahal) untuk infeksi pasien. Hal ini dapat meningkatkan efektivitas terapi, menurunkan resistensi (ketidakpekaan) antibiotika, yang pada akhirnya akan menurunkan biaya pengobatan.

Banyak kalangan praktisi kesehatan yang menganggap bahwa pemeriksaan laboratorium itu lama dan mahal. Padahal, tidak semua pemeriksaan laboratorium seperti itu. Seperti pada penyakit Tipus (typhoid) –yang merupakan penyakit umum di Indonesia pemeriksaan laboratorium hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Sehingga kalau positif terinfeksi salmonella –penyebab Tipus maka dokter dengan segera dapat memberikan obat golongan Chloramphenicol atau derivatnya seperti Thiamphenicol.

Pemakaian antibiotika akan menyebabkan terjadinya pengurangan atau bahkan menghabiskan flora usus normal yang ada di usus, yang sangat dibutuhkan untuk membantu pencernaan. Sehingga sangat perlu pemakaian antibiotika diiringi juga dengan pemakaian vitamin B Kompleks. Hal ini sering diabaikan oleh banyak kalangan atau bahkan oleh pasien sendiri.

Pemberian obat secara langsung oleh dokter yang mendiagnosis –dikenal juga dengan dokter dispensing– adalah fenomena yang masih umum terjadi dewasa ini di kota-kota di Indonesia. Walaupun regulasi jelas mengatur bahwa dokter hanya bertuga mendiagnosis karena yang bertugas memberikan obat hanyalah apoteker atas dasar resep yang dikeluarkan oleh dokter.

Kelemahan yang terjadi pada kasus dokter dispensing adalah jenis obat yang disiapkan sering terbatas sehingga tak jarang terjadi obat yang ada sedikit “dipaksakan”. Belum lagi dengan kesulitan untuk meracik obat-obat yang harus diberikan untuk bayi dan anak-anak, di mana dibutuhkan jumlah atau kadar yang kecil untuk tiap dosis sehingga harus diracik.

“Jika harus membeli di apotek, harga obat terlalu mahal!”. Ini merupakan retorika klasik yang selalu dijadikan alasan untuk mengambinghitamkan apotek (dan mengesahkan dokter dispensing). Padahal tidak demikian. Harga resep obat generik dengan empat jenis obat untuk dosis tiga hari, untuk kasus batuk dan flu, tidak akan lebih dari Rp.25.000.

Jadi, marilah kita berpikir positif untuk menggunakan obat secara rasional dan berobat ke dokter secara rasional pula.***

 

Catatan: Tulisan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat awam sehingga lebih rasional dalam berobat dan menggunakan obat. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan profesi kesehatan mana pun. Semoga bermanfaat.

 

*Penulis adalah seorang apoteker, praktisi farmasi dan laboratorium klinik serta alumnus Farmasi ITB

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

(Visited 9 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment