Ingin Jadi Pemimpin? Penuhi Kriteria Ini

Setiap manusia dalam kehidupan ini mempunyai fungsi sebagai pemimpin. Minimal memimpin di rumah tangga atau diri pribadi. Seorang suami adalah pemimpin bagi istri sekaligus anak-anaknya dalam lingkup keluarga. Lebih besar seorang Ketua Rukun Tetangga (RT) menjadi pemimpin beberapa keluarga dalam lingkungannya hingga seorang Presiden adalah pemimpin bagi rakyatnya dalam sebuah Negara.  Demikian seterusnya, intinya dalam diri setiap individu manusia yang akhirnya menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

Dewasa ini dapat kita lihat dan rasakan kepemimpinan cenderung dimanfaatkan untuk pemuasan hak pribadi yang ironisnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak, melupakan ‘amanat kepemimpinan’ yang diamanahkan atas dirinya, dan melanggar hak-hak konstitusi yang sudah disepakati bersama, juga kolusi untuk kepentingan kekuatan kepemimpinannya.

promooktober1

Menurut John C. Maxwell, kepemimpinan itu dikembangkan, bukan ditemukan. Orang yang terlahir sebagai pemimpin sejati akan selalu menonjol, tetapi untuk tetap berada di atas, karakteristik kepemimpinan alamiah haruslah dikembangkan. Ada beberapa tingkat kepemimpinan yang harus diketahui jika ingin menjadi pemimpin.

Pertama, pemimpin yang memimpin. Potret seorang pemimpin seperti ini dilahirkan dengan mutu kepemimpinan. Melihat kepemimpinan yang diteladani selama hidupnya kemudian mempelajari kepemimpinan tambahan lewat latihan dan dia memiliki disiplin diri untuk menjadi pemimpin yang hebat di kemudian hari.

Kedua, Pemimpin lewat pengajaran. Potret pemimpin yang kedua ini, melihat kepemimpinan yang diteladani dalam sebagian besar hidup, mempelajari kepemimpinan lewat latihan, memiliki disiplin diri untuk menjadi pemimpin yang hebat.

Ketiga, Pemimpin yang tak kentara. Pada potret pemimpin yang ketiga, anda akan sukar melihat kepemimpinan yang diteladani karena dia sedang belajar untuk menjadi seorang pemimpin lewat latihan dan berusaha menerapkan kedisiplinan diri untuk menjadi pemimpin yang baik. Terakhir, Pemimpin yang terbatas. Yaitu pemimpin yang sedikit atau sama sekali tidak terlihat memiliki bakat sebagai pemimpin, kurang atau tidak suka mengikuti pelatihan kepemimpinan namun dia memiliki keinginan untuk menjadi seorang pemimpin.

Karakteristik pemimpin.

Untuk mencapai kepemimpinan yang sukses, seorang dituntut memiliki karakteristik-karakteristik khusus, setidaknya ada 8 karakteristik yang harus dimiliki pemimpin agar sukses dalam kepemimpinannya.

  1. Jujur (honest)

Sifat Jujur dan Memegang Amanah. Kejujuran yang dimiliki seorang pemimpin merupakan simpati rakyat terhadapnya yang dapat membuahkan kepercayaan dari seluruh amanat yang telah diamanahkan. Pemimpin yang konsisten dengan amanat rakyat menjadi kunci dari sebuah kemajuan dan perbaikan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi putranya saat dia berada di kantornya kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi di rumah. Seketika itu Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu ruangan dan si anak bertanya dari sebab apa sang ayah mematikan lampu sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap. Dengan sederhana sang ayah menjawab bahwa lampu yang kita gunakan ini adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pemerintahan bukan urusan keluarga.

  1. Pandai, cerdas (intelligent)

Pimpinan akan menjadi panutan dan acuan bagi anggotanya, maka harus memiliki pemikiran yang lebih maju dari anggotanya. Kecerdasan intelektual harus ditunjang pula dengan kecerdasan emosional dan kecedasan spiritual sehingga pemimpin selain akan mampu mengorganisasi, juga mampu menghadapi dan memecahkan masalah yang timbul, serta keputusan dan kebijakan yang diambil akan sangat berkualitas.

  1. Melihat ke depan (forward-looking)

Seorang pemimpin harus selalu melihat ke depan dalam arti selalu harus mencari inovasi-inovasi baru sesuai dengan perkembangan. Bukan berarti juga harus melupakan yang telah lewat karena itu menjadi pengalaman dan pembelajaran bagi kinerja ke depan.

Melihat ke depan adalah salah satu faktor penunjang sebagai pemimpin yang cepat. Organisasi yang dikelola dengan mengacu pada keadaan saat ini tanpa melihat ke depan akan jalan di tempat dan ketinggalan. Pemimpin dengan pandangan dan orientasi ke depan akan mampu menggerakkan anggotanya menjadi sebuah mesin kerja yang efisien, efektif, dan inovatif.

  1. Mampu menjadi pembangkit semangat (motivator).

Hubungan seorang pemimpin dengan motivasi sangat erat. Seorang pemimpin adalah sekaligus seorang motivator. Tugas ini merupakan keniscayaan sebagai pucuk pimpinan yang bertugas membangun motivasi kerja bagi para anak buahnya. Pemimpin adalah titik sentral dan titik awal sebuah langkah akan dimulai. Motivasi akan lahir jika pimpinan menyadari fungsinya sebagai motivator. Tugas tersebut tidak dapat diabaikan karena motivasi merupakan sarana vital dalam membangun semangat kerja di kalangan karyawan.

Tanda-tanda seorang pemimpin yang menyadari fungsinya sebagai seorang motivator adalah ketika ia memiliki kepedulian terhadap orang lain, mampu menjadi pendengar yang baik, mengajak kepada kebaikan, mampu meyakinkan orang lain, berusaha mengerti keinginan orang lain dan mampu berdiri di muka, di tengah dan di belakang.

  1. Kompeten (competent)

Kompeten adalah penggabungan antara kemampuan dan kemauan. Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan secara teori, kecakapan dalam kerja sesuai organisasi yang ditanganinya, wawasan luas serta kemauan untuk merealisasikan dalam kerja nyata. Seorang pemimpin harus mampu memahami seluruh isi dan lingkup organisasi yang dipimpinnya seperti dia memahami dirinya.

Pemimpin harus mampu “bertanya, belajar, dan menindaklanjuti”. Bertanya untuk mendapatkan umpan balik dan mendapatkan ide-ide baru, kemudian belajar mendengarkan dengan efektif dan melakukan refleksi dari hasil bertanya tersebut. Dari hasil bertanya dan belajar, ditindaklanjuti dengan kerja dan menghasilkan karya dan kemajuan bagi organisasinya.

  1. Berlaku adil (fairminded)

Wajib bagi pemimpin untuk memiliki sifat adil. Keadailan adalah konteks nyata yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dengan tujuan demi kemakmuran rakyatnya. Keadilan bagi manusia tidak ada yang relatif. Islam meletakkan soal penegakan keadilan itu sebagai sikap yang essensial.

Seorang pemimpin harus mampu menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan seadil-adilnya bukan sebaliknya berpihak pada seorang saja dan berat sebelah. ‘Orang lemah’ harus dibela hak-haknya dan dilindungi, sementara orang yang ‘kuat’ dan bertindak dzalim harus dicegah dari bertindak sewenang-wenang.

  1. Memiliki Moral yang Tinggi (Good Morality)

Moralitas merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin yang berkualitas. Seorang pemimpin adalah figur secara moral dapat dipertanggungjawabkan. Karakteristik pemimpin yang bermoral adalah tidak menyakiti orang lain, mampu menghargai orang lain dengan berbagai jenis karakter dan perbedaan, bersikap santun dengan perkataannya yang terkendali.

  1. Bersikap Demokratis. (Democratic).

Demokrasi dalam arti yang luas merupakan ‘alat’ untuk membentuk masyarakat yang madani, dengan prinsip-prinsip segala sesuatunya dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Dalam termin ini pemimpin tidak sembarang memutuskan sebelum adanya musyawarah yang mufakat. Sebab dengan keterlibatan rakyat terhadap pemimpinnya, dari sebuah kesepakatan bersama akan memberikan kepuasan, sehingga apapun yang akan terjadi baik buruknya bisa ditanggung bersama-sama. Ibaratnya seorang imam dalam sholat yang telah batal maka tidak diwajibkan baginya untuk meneruskan sholat tersebut, tetapi ia harus bergeser kesamping sehingga salah seorang makmum yang berada dibelakang imam yang akan menggantikannya.

  1. Berbakti dan Mengabdi kepada Allah Swt

Dalam hidup ini segala sesuatunya takkan terlepas dari pantauan Allah Swt. Manusia bisa berusaha semampunya dan sehebat-hebatnya namun yang menentukannya adalah Allah. Hubungan seorang pemimpin dengan Tuhannya tak kalah pentingnya; yaitu dengan berbakti dan mengabdi kepada Allah. Semua ini dalam rangka memohon pertolongan dan ridho Allah semata.

Dengan senantiasa berbakti kepada-Nya terutama dalam menegakkan sholat lima waktu contohnya, seorang pemimpin akan mendapat hidayah untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang keji dan tercela. Selanjutnya ia akan mampu mengawasi dirinya dari perbuatan-perbuatan hina tersebut, karena dengan sholat yang baik dan benar menurut tuntunan ajaran Islam dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar

“Bacalah Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan lak-sanakanlah salat. Sesungguhnya, salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ketahuilah, salat itu lebih besar keutamaannya daripada ibadah lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al Ankabuut: 45).

Sifat yang harus terus ia aktualisasikan adalah ridho menerima apa yang dicapainya. Syukur bila meraih suatu keberhasilan dan memacunya kembali untuk lebih maju lagi, sabar serta tawakkal dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan, sabar dan tawakkal saat menghadapi kegagalan.

Dari rangkaian syarat-syarat pemimpin di atas sedikit dapat kita jadikan pandangan dalam memilih sosok pemimpin. Masih banyak ketentuan-ketentuan pemimpin yang baik dalam perspektif Islam yang bisa kita gali. Baik yang tersurat maupun tersirat di dalam Al Qur’an dan Hadist-hadist Nabi Saw. Bagi yang bisa memahami hakekatnya, menjadi seorang pemimpin tidak dimakani sebuah kemenangan yang dirayakan dengan hura-hura. Bahkan jika kita baca kembali banyak para sahabat Rasulullah sebagai generasi saleh ketika diangkat menjadi pemimpin malah mengucapkan innalillahi layakknya mendapat musibah atau bencana bukan dengan ungkapan Alhamdulillah sebagai sebuah ungkapan rasa syukur. Menjadi pemimpin adalah memikul sebuah amanah yang sangat besar dimana kelak dihadapan Allah semua akan dipertanggungjawabkan dan jika ada rakyat yang terdzalimi maka mereka kelak akan menuntutnya. Wallahu’alam ***

 

Penulis: Ali ( pembaca mapionline tinggal di Ibaraki Jepang)

Editor: Iman

Ilustrasi foto:

(Visited 15 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment