Beginilah Seharusnya Sikap Seorang Pemimpin

Imam Ahli Sejarah Islam, Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Yasar Al-Madaniy rahimahullah mengatakan, “Awal kemurtadan di kalangan bangsa Arab adalah (terjadi pada diri) Musailamah di negeri Al-Yamamah pada Bani Hanifah, Al-Aswad bin Ka’ab Al-Ansiy di negeri Yaman di masa hidupnya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam. Juga telah keluar Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadiy di kalangan Bani Asad dalam keadaan mengaku nabi“.[Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (16504)]

Inilah kisah Thulaihah bin Khuwailid Al Asadiy. Sebelum Islam menghampiri perkampungannya, dia seorang dukun yang disegani kaumnya. Namun, setelah Islam yang mengharamkan kemusyrikan ditegakkan, Thulaihah ‘bangkrut’. Kaumnya tak lagi menganggapnya sebagai tokoh yang harus disegani. Mulai saat itu ia menjadi orang biasa.

promooktober1

Selama itu, ia selalu terpikir untuk mengembalikan kejayaannya.  Begitu mendengar Rasulullah Saw. sakit, Thulaihah seperti mendapat angin. Akhirnya ketika Rasulullah Saw. wafat, ia pun menyatakan diri sebagai nabi. Sebuah ajaran baru ia sebarkan. Menurutnya, manusia tak pantas sujud pada setiap salat. “Kepala dan wajah diciptakan oleh Tuhan bukan untuk dihinakan dengan mencium bumi lima kali sehari semalam,” demikian ajaran baru yang dibawa Thulaihah. Ia pun menghapuskan kewajiban membayar zakat bagi orang-orang kaya.

Ternyata dalam waktu singkat ajaran Thulaihah mendapat banyak minat, khususnya dari orang-orang kaya yang lemah imannya dari suku Al Asadiy. Lambat laun, ajaran Thulaihah mendapat sambutan dari beberapa suku lainnya. Salah seorang pengikutnya dari suku Ghathafan berkata, “Seorang dari suku kita lebih baik daripada nabi dari suku Quraisy.”

Merasa mendapat dukungan dan mempunyai kekuatan cukup, Thulaihah berangkat ke Madinah menemui Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia meminta diakui sebagai nabi dan mengajaknya hidup berdampingan. Setelah Thulailah pulang, Abu Bakar segera berunding dengan beberapa sahabat kala itu. Perundingan cukup serius. Ada yang mengusulkan agar bersikap lunak sampai pasukan Usamah bin Zaid kembali. Namun, Abu Bakar mengambil sikap tegas. Syariat Islam yang diwariskan Rasulullah Saw. tak boleh dinodai dan ia (ajaran Islam) harus terus dijaga.

Malam itu juga, Abu Bakar menyiapkan sebuah pasukan yang langsung berada di bawah komandonya. Para sahabat mencegahnya untuk ikut dalam pasukan, apalagi sebagai komandan perang. Mereka meminta Abu Bakar supaya menetap di Madinah. Namun, Abu Bakar tetap pada pendiriannya. Usianya yang sudah lanjut tak menjadi penghalang. Untuk melenyapkan para perusak agama, tak boleh setengah-setengah.

Malam itu juga, Abu Bakar dan pasukannya berangkat untuk melakukan serangan. Saat itu, pasukan Thulaihah memang masih berada di perbatasan Madinah. Mereka benar-benar tak menyangka akan mendapatkan serangan mendadak yang tak disangka-sangka itu. Pasukan Thulaihah pun kocar-kacir melarikan diri. Pasukan Abu Bakar terus mengejar sampai ke perkampungan Bani Ghathafan.

Itulah kemenangan pertama pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kemenangan itu sebenarnya kecil, tapi dampaknya sangat besar. Beberapa suku kecil di sekitar Madinah yang semula berniat membelot, mengurungkan niatnya. Masyarakat Madinah merasa lega, nyaman, dan aman. Mereka tak khawatir akan mendapat ancaman dari para perusak agama.

Sikap tegas Abu Bakar bukan kali itu saja. Pada masa selanjutnya, ia segera mengirimkan pasukan untuk membasmi habis para nabi palsu. Ia tak mau membiarkan ajaran Islam dinodai. Keputusan tegas Abu Bakar Ash-Shiddiq menghadapi pasukan Thulaihah semula memang mendapat penolakan dari para sahabat lain. Namun, Abu Bakar seperti bisa menduga, kalau ajaran para perusak agama itu dibiarkan, akan berakibat fatal bagi kemurnian syariat Islam selanjutnya.

Ketegasannya tentang para penolak zakat terekam dalam sejarah, “Demi Allah, sungguh akan saya perangi siapa yang memisahkan antara salat dan zakat. Sebab, zakat adalah hak harta, dan Rasulullah bersabda, ‘kecuali dengan haknya’,” (HR Bukhari Muslim).

Imam Baihaqi dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah, “Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia, andaikata Abu Bakar tidak menjadi khalifah, maka Allah tidak akan disembah lagi di muka bumi ini”. Kemudian Abu Hurairah memaparkan kisah tentang pengiriman pasukan Usamah bin Zaid ke Romawi. “Pasukan Islam itu menang. Mereka pulang dengan selamat. Orang-orang yang ingin murtad kembali memeluk Islam.” Tambah Abu Hurairah.

Beginilah seharusnya sikap seorang pemimpin. Jabatan tak membuatnya gamang dan bingung serta takut bersikap tegas karena khawatir kehilangan pendukung. Jabatan seharusnya menambah ketegasan kita dalam menghadapi para perusak agama.

Ironisnya, sikap ini tak dimiliki para pemimpin kita sekarang. Mereka yang dulunya dikenal vokal memperjuangkan keadilan, membela rakyat dan memerangi kezaliman, justru menjadi pendiam dan pendengar setia saat berada di parlemen atau di kursi empuk kekuasaan. Mereka yang dulunya dikenal tegas terhadap pemikiran sekularisme, pluralisme dan liberalisme, kini justru berupaya menyembunyikan ketegasannya. Bahkan—lebih parah lagi—ada yang cenderung mengakomodasi kalau tak bisa disebut mendukung. Ia sepertinya khawatir kalau bersikap tegas akan mengurangi dukungan padanya.

Tentu, tegas tak berarti keras. Tegas bukan berati harus merusak atau menyerbu. Tegas tak harus membunuh, itulah yang dilakukan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dalam ketegasannya memberantas perusak agama, tersimpan kelembutan. Ketika Uyainah bin Hishan, salah seorang pengikut Thulaihah yang juga seorang tokoh suku Ghathafah berhasil ditawan, ia dibawa ke Madinah. Anak-anak di belakang berteriak, “Hai musuh Allah, apakah engkau kafir padahal sebelumnya beriman ?” Uyainah menjawab, “Saya tak mau beriman kepada Allah walaupun sekejap!”

Abu Bakar pura-pura tak mendengar jawaban itu. Ia tetap berbuat baik dan lembut pada tokoh murtad itu. Kebijaksanaan itulah yang akhirnya menyadarkan Uyainah. Ia pun bertaubat memeluk Islam dengan baik. Sejarah pun mencatat, tokoh ini mempunyai peranan penting dalam menaklukan Romawi dan Persia pada masa selanjutnya.

Karakter pemimpin yang ada pada Abu Bakar ini bukan serta merta ia miliki. Ia hanya mengamalkan apa yang diteladankan oleh kekasihnya, Rasulullah Saw. Wajar jika Abu Bakar termasuk generasi terbaik sahabat yang di akhirat kelak tidak akan dihisab lagi.

Akhlak (karakter) kepemimpinan yang diajarkan Rasulullah sudah jelas. Seperti yang diungkapkan Aisyah r.a., “akhlak beliau adalah Alquran”. Jawaban Aisyah dari pertanyaan sahabat itu bukan “akhlaknya ada pada Al quran” tapi “..adalah Alquran”. Dalam hal ini Alquran secara utuh.

Ayat-ayat dalam Al Quran tidak hanya menceritakan keindahan, tapi juga ancaman. Begitu pula akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Beliau tidak hanya menampilkan sosok pribadi yang ramah dan lemah lembut saja. Ketegasan dan sikap keras juga tidak segan dilakukannya untuk sebuah keputusan penting demi kemaslahatan umat. Maka tiada lagi figur yang layak menjadi patokan (role model) para pemimpin selain Muhamad Saw. Seorang pemimpin bukan hanya dituntut tegas dalam memutus suatu perkara keduniaan saja tetapi juga harus tegas menjaga akidah rakyatnya. Bagaimana dengan pemimpin kita hari ini ? Wallahua’lam bishowab.

 

Penulis: Uckay Subqy

Editor: Iman

Editor Bahasa: Desi

(Visited 14 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment