Ini Dia Orang yang Mampu Membaca dengan Tangan

Selain mata, manusia rupanya diberi “indera penglihatan kedua”. “Mata kedua” itu bisa berupa ujung hidung atau ujung telinga, sentuhan tangan, ujung jari, atau ujung siku. Dengan latihan tertentu, seorang tunanetra bahkan mampu “melihat” seperti halnya orang biasa.

Berbicara mengenai tulisan orang tunanetra, pasti orang akan menyebut Braille. Apa sih tulisan Braille? Tulisan Braile merupakan titik-titik khusus yang dibuat menyerupai lubang dengan permukaan agak menonjol yang menandakan suatu huruf tertentu, terbuat dari kertas manila atau sejenisnya, dan khusus dipergunakan oleh para tunanetra, cara membacanya ialah dengan ketajaman saraf telapak ibu jari. Tulisan ini ditemukan oleh Louis Braille, yang ternyata juga penyandang tunanetra.

promooktober

Braille lahir pada tahun 1808 dari keluarga pembuat kerajinan tangan. Sejak kecil Braille suka bermain dengan sisa-sisa kulit binatang yang digunakan ayahnya di bengkel rumahnya. Suatu waktu, ketika ia berusaha membuat lubang dengan penggerek, alat itu selip dan mengenai bola matanya. Akibat kecelakaan itu, Louis Braille menjadi buta. Saat itu usianya baru 3 tahun.

Kejadian tersebut sangat menyayat hati orang tuanya. Untuk membantu anaknya beraktivitas, orang tua Braille berusaha mendidiknya dengan berbagai cara, salah satunya dengan memanfaatkan anggota tubuhnya. Anggota tubuh yang paling menolong Braille untuk menikmati kehidupan di sekitarnya ialah kesepuluh jarinya. Dengan jari-jarinya itu, ia dapat membedakan buah apel dengan buah jeruk, alat penggerek dengan alat pengikis, kotak kecil dengan buku besar.

Selain anggota tubuh, daya ingat dan penciumannya pun sangat tajam, sehingga dengan bantuan kakak-kakaknya dia bisa menghapalkan buku-buku pelajarang dengan baik, caranya ialah dengan mendengarkan bacaan (reading service). Bahkan jika ia mencium bau daging ayam, bawang, dan kentang, ia tahu ibunya sedang memasak sup. Bila ia mendengar bunyi roda-roda besar di jalan, ia tahu bahwa tetanggannya sedang membawa hasil tani ke pasar.

Pada umur 10 tahun, Louis Braille pergi ke Paris. Di kota mode tersebut, ia diterima di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak tunanetra. Dia sangat antusias, karena di sana ia diajarkan membaca buku. Di sekolah ini memang terdapat buku-buku khusus untuk penyandang tunanetra. Setiap buku berukuran besar, karena di dalamnya setiap huruf harus dicetak menonjol. Dengan menyentuh huruf-huruf yang besar itu satu per satu, Braille dapat mengenali bentuk tonjolannya. Dalam waktu singkat, ia telah berhasil membaca semua buku yang ada di perpustakaan sekolahnya karena jumlahnya sangat sedikit, yakni kurang dari 20 jilid. Selain belajar membaca, ia juga diajari keterampilan-keterampilan lain, seperti piano, organ, dan selo (semacam alat musik gesek yang mirip biola tetapi ukurannya lebih besar).

Setelah berhasil menyelesaikan semua pelajarannya, ia masih merasa ilmunya masih kurang mencukupi. Dalam benaknya, ia selalu membayangkan buku-buku bagi penderita tunanetra sama banyaknya dengan kawan-kawannya yang normal. Ia memikirkan deretan abjad khusus. Setiap huruf dalam abjad baru itu harus sederhana dan harus cukup kecil sehingga dapat dirasakan oleh ujung jari manusia.

Suatu waktu, kepala sekolah menyerahkan beberapa helai kertas tebal dengan bintik-bintik kecil yang terasa menonjol. Kertas itu berisi semacam kode Morse yang digunakan tentara ketika berperang. Melalui sistem ini, para tentara dapat menyentuh berbagai tonjolan, dengan demikian mereka dapat mengerti perintah yang hendak disampaikan oleh atasan mereka.

Louis Braille sangat gembira. Akhirnya ia menemukan prinsip abjad baru yang sangat dirindukannya itu. Tetapi sistem sang perwira ini masih kurang praktis, karena tidak cocok dengan ukuran ujung jari manusia. Ia memutuskan untuk membuat tonjolan-tonjolan yang mirip dengan menggunakan alat penggerek dari bengkel ayahnya.

Jika manusia menudingkan jari, ujungnya itu berbentuk lebih meninggi daripada melebar. Jadi, pada kertas tebal, Louis membuat susunan enam bintik tonjolan: susunan itu tingginya tiga bintik dan lebarnya dua bintik. Sedikit demi sedikit ia menyusun berbagai kombinasi antara keenam bintik tonjolan itu, sehingga dengan demikian ia dapat membuat abjad baru. Abjad-abjad itu dapat dijamah dengan cepat oleh jari-jari manusia, sehingga dengan demikian orang tunanetra dapat membaca banyak buku. Sungguh menakjubkan. Tulisan itu ditemukan oleh seorang bocah Prancis yang baru berumur 15 tahun.

Ketika dewasa, Louis Braille menjadi guru anak-anak tunanetra dan pemain organ di gereja. Lama sekali ia harus memperjuangkan sistem tulisannya itu. Ia meninggal pada tahun 1852, sebelum tulisan Braille terbukti sebagai cara yang paling praktis untuk menyediakan banyak buku bagi kaum tunanetra.

Pada perkembanganya, setelah tulisan ini tidak diacuhkan, beberapa ilmuwan mulai menyadari pentingnya ciptaan Louis Braille. Pada tahun 1868, Dr. Thomas Armitage (1824-1890) dan tiga rekannya menggagas pendirian ‘British and Foreign Society for Improving the Embossed Literature of the Blind’ dan kini berubah menjadi ‘Royal National Institute for the Blind’, sebuah lembaga yang mencetak buku Braille terbesar di Eropa dan Inggris. Pada tahun 1990, tulisan Braille digunakan di seluruh dunia dan diterima oleh hampir seluruh bahasa dari Albani hingga ke Zulu.

Nah bagi kita yang hingga detik ini masih dapat membaca dengan mata tentu sebuah karunia yang tidak dapat diukur dengan materi. Selayaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut. Salah satu wujud syukur itu kita ungkapkan dengan menggunakan mata untuk hal atau aktivitas yang bermanfaat yang bernilai ibadah,seperti membaca Al-Quran atau memandang sesuatu yang halal.

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, “(QS. Yunus: 31)

Jangan sampai menggunakan mata untuk hal-hal yang dilarang dalam agama,karena Allah Maha Kuasa atas apa yang ada pada diri kita,hingga Allah menggolongkan kita pada orang-orang yang lalai atas karunia-Nya.

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. (QS. al-Baqarah: 20)

“Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. an-Nahl: 108). Wallahu’alam

 

Penulis: Ali Bhakti

Editor: Iman

Foto: Norman

 

(Visited 27 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment