Uang Penting, Tapi Bukan Segalanya

uang rupiah

Uang adalah sebuah alat yang digunakan orang untuk memenuhi kebutuhan sebagai alat tukar. Seperti sandang, pangan, papan, dan rasa aman. Manusia sendiri diyakini mengenal uang sejak kecil sehingga akan berpengaruh pada kepribadian seseorang.  Perilaku manusia terhadap uang berkaitan dengan pola asuh dan gaya yang diterapkan di rumah. Ada yang lebih mengutamakan uang, yang penting punya uang bisa beli apa saja sehingga terus hidup. Tetapi ada juga yang tidak seperti itu, uang akan mengikuti kita,artinya kita yang mengatur uang bukan uang yang mengatur manusia. Pemahaman ini bergantung dari pola asuh kepada anak dalam keluarga.

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai keinginan untuk bersenang-senang,enggan hidup susah atau menderita.Inilah salah satu prinsip hedonism sehingga ia akan memanfaatkan dengan istilah “aji mumpung”. Mumpung masih hidup mencari kesenangan dengan uang. Jika dibiarkan prinsip tersebut lebih lama dalam diri seseorang maka ia akan menghamba pada uang. Segala sesuatu dinilai dengan uang, yang nomor satu itu uang. Hal ini bias menjadi faktor pembentuk seseorang mempunyai sifat materialistik. Pada posisi ini seoorang manusia akan menjadi berlomba-lomba mendapatkan uang untuk mendapat sebuah kesenangan dan mengabaikan hal-hal lain termasuk masalah moral dan sosial.

promooktober1

Materialistis sendiri secara sederhana adalah orientasi yang lebih kepada kebendaan dan bersifat materi. Perhatian segala sesuatu diarahkan untuk memenuhi tujuan tersebut kepada kecukupan materi. Semua diukur dengan materi atau yang nampak oleh mata. Orang memang tidak pernah merasa puas, jika sudah punya ini ingin itu dan seterusnya.

Sisi negatifnya jika ia sudah berlebihan,tentu tidak bagus karena akan berdampak pada cara pandang terhadap hidup dan kehidupan. Segala sesuatu akan dinilai dari sisi materi khususnya uang sebagai alat ukurnya . Tetapi secara realita, materialistis masih perlu. Bagaimana manusia bisa hidup kalau tidak punya uang. Jika tidak punya uang, hidup bakal bagaimana? Tidak mungkin kita berkata “Ah, gimana besok aja”. Dengan uang akan seseorang bias mempunyai semangat untuk berikhtiar (kerja). Kerja sendiri sangat ditekankan dalam agama.

Ukuran sejahtera atau tidak, yang menilai dari pribadi itu sendiri. Bisa saja seseorang memiliki gaji dan materi cukup menurut orang lain, tapi yang bersangkutan tidak merasa sejahtera. Ada juga orang yang sehari-hari cuma makan dengan menu sederhana, tapi dia merasa sejahtera. Hal itu sangat subjektif. Setiap orang punya standar yang berbeda. Ada yang merasa jika sudah terpenuhi sandang pangan itu sudah sejahtera, tetapi ada yang merasa belum. Ada juga yang berpikir jika sudah punya rumah, mobil, dan tabungan itu baru sejahtera. Mengukur kesejahteraan tidak bisa dinilai secara lahir, tetapi batin. Jika hanya secara lahir, tidak akan pernah selesai.

Mewaspadai Harta

Apabila menuruti nafsu manusiawi, tentu setiap orang di antara kita menginginkan uang dan harta yang banyak. Kita ingin selalu menjadi seperti orang lain yang uang dan hartanya lebih banyak dari kita. Di dalam kisah Qorun pun dijelaskan bahwa orang-orang ketika itu ingin memiliki harta yang banyak seperti harta yang dimiliki oleh Qorun. Firman Allah swt, “Maka keluarlah Qorun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (Q.S. Al Qhashas 27: 79)

Qorun memang diberi oleh Allah swt. harta yang sangat banyak. Saking banyaknya, kunci-kunci tempat penyimpanan hartanya pun dibuat dengan sangat besar sehingga orang-orang terkuat ketika itu pun merasa berat untuk mengangkatnya. Dengan harta sebanyak itu, orang-orang mengira bahwa Qorun akan menjadi bahagia. Namun ternyata, tumpukkan hartanya itu justru malah mencelakakannya karena kesombongan yang ada pada diri Qorun itu sendiri.

“Sesungguhnya Qorun adalah termasuk Kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’”….“Qorun berkata, ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’ Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (Q.S. Al Qhashas: 76 -78)

Sebagai balasan atas kesombongan Qorun, Allah swt. menimpakan azab yang sangat dahsyat dan mengerikan kepadanya. Harta yang banyak dan pengikut-pengikut yang setia pun ternyata tidak bisa menolong untuk terbebas dari azab itu. “Maka Kami benamkanlah Qorun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (Q.S. Al Qhashas 27: 81).

Kisah Qorun ini menggambarkan bahwa betapapun banyaknya harta yang dimiliki manusia, hal itu tidak akan dapat menolong ketika azab datang. Betapapun manusia mencintai hartanya, namun harta itu tidak akan balik mencintai tuannya. Orang-orang bijak mengatakan, “No matter how hard you hug your money, it never hugs back”. Betapapun eratnya engkau memeluk uangmu, namun uang itu tak akan balik memelukmu.

Banyak manusia baru akan tersadar tentang hal tersebut setelah diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah. Sebagaimana pada bencana Tsunami di Aceh beberapa waktu yang lalu, banyak orang menjadi tersadarkan bahwa manusia dan hartanya tak bisa berbuat apa-apa ketika bencana datang. Demikian juga orang-orang pada zaman Qorun, banyak yang sadar setelah melihat azab yang ditimpakan kepada Qorun. Mereka akhirnya mengakui kesalahan mereka yang menganggap harta sebagai sesuatu yang paling bisa membahagiakan hidup mereka.

“Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qorun itu berkata, ‘Aduhai. Benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia -Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).’” (Q.S. Al Qhashas: 82).

Begitulah, pada akhirnya orang-orang menyadari bahwa harta tidak selalu membawa kebahagiaan. Malapetaka yang menimpa Qorun disebabkan karena kesombongan dan kesalahan dalam mempergunakan dan membelanjakan hartanya.

Sa’id Hawwa dalam buku Mensucikan Jiwa (Intisari Ihya’ Ulumuddin Al Ghazali) menyatakan bahwa salah satu di antara pintu masuk setan ke dalam jiwa manusia adalah melalui harta. Menurut beliau, setiap hal yang melebihi takaran makanan dan kebutuhan pokok maka ia merupakan tempat bertenggernya setan; sebab orang yang sudah memiliki makanan pokoknya maka hatinya akan cenderung menjadi kosong.

Menurut beliau, seandainya seseorang menemukan uang seratus dinar di jalan, akan bangkit dari hatinya syahwat di mana setiap syahwat itu memerlukan seratus dinar lainnya. Apa yang ditemukannya itu tidak mencukupi, sehingga ia memerlukan sembilan ratus dinar lainnya. Padahal, sebelum adanya seratus dinar itu ia sudah merasa cukup. Tetapi setelah menemukan seratus dinar ia mengira telah menjadi kaya sehingga ia memerlukan sembilan ratus dinar lagi untuk membeli berbagai barang yang diinginkannya.

Hal tersebut di atas senada dengan salah satu sabda Nabi Muhammad saw. Anas bin Malik berkata bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda, “Andaikata seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah emas, pasti ia ingin mempunyai dua lembah. Dan tiada yang dapat menutup mulutnya (tidak ada yang dapat menghentikan kerakusannya kepada dunia) kecuali tanah (maut). Dan Allah berkenan memberi taubat kepada siapa saja yang bertaubat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Oleh karenanya, kita harus waspada dengan segala harta yang ada pada diri kita. Lebih lajut, Sa’id Hawwa menjelaskan pula tentang berbagai fungsi harta yang harus diperhatikan dan ditunaikan seorang hamba, yaitu:

  1. Mengetahui tujuan harta mengapa harta itu diciptakan, dan tidak memberikan perhatian melebihi batas yang selayaknya.
  2. Menjaga jalur pendapatan harta, menghindari yang haram, makruh, berbau suap, atau yang merendahkan martabat, seperti dengan cara meminta.
  3. Kadar dan kuantitasnya tidak berlebihan tetapi juga tidak kurang.
  4. Menjaga jalur pengeluaran, tidak mubazir tetapi juga tidak kikir, menyalurkannya kepada yang berhak secara halal.
  5. Meluruskan niat yang berkaitan dengan harta dalam hal mendapatkannya, meninggalkannya, menginfakkannya, atau menahannya.

Beberapa ayat Al Quran menjelaskan bagaimana penyesalan orang yang meninggal kelak karena tidak mempergunakan hartanya dengan sebaik-baiknya. Saat datang kematian, uang dan harta benda lainnya tak dapat menolong kita untuk menghadapi hari pertanggungjawaban di akhirat kelak. Firman-Nya: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’” (Q.S. Al Munafiqun: 10)

Penulis: Dewi Purnomosari
Editor: Iman

 

 

(Visited 30 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment