Jamaah Indonesia Tak Disiplin Saat Tragedi Mina? Ini Komentar Ustadz Aam

Di antara ribuan orang yang menjadi korban tragedi Mina beberapa waktu lalu adalah jamaah haji asal Indonesia.  Siaran pers Kementerian Agama RI pada Senin (5 Oktober 2015) menyebutkan,  95 orang jamaah haji asal Indonesia meninggal dunia dan 5 orang lainnya yang meninggal adalah WNI yang bermukim di Arab Saudi.  Selain itu, ada 28 jamaah haji asal Indonesia  yang belum kembali ke pemondokan.

Jatuhnya korban tragedi dari jamaah Indonesia memang sempat memunculkan pertanyaan dan spekulasi. Betapa tidak.  Informasi di lapangan menyebutkan,  peristiwa tersebut terjadi di Jalan Arab 204, yang notabene bukan jalan yang  biasa digunakan jemaah haji Indonesia yang tinggal di Mina saat melempar jumrah.  Namun kenapa ada ratusan jamaah Indonesia yang kemudian menggunakan jalan Arab 2004 dan akhirnya terjebak dalam tragedi tersebut?

promo oktober

Beberapa pihak pun berspekulasi bahwa jatuhnya korban dari Indonesia diakibatkan ketidakdisiplinan jamaah.  Padahal, seluruh kegiatan ibadah jamaah sebenarnya telah diatur dan terjadwal dengan baik oleh pihak penyelenggara Ibadah haji.

Mengomentari spekulasi penyebab jatuhnya korban dari Indonesia, Ustadz Aam Amiruddin berpendapat bahwa faktor ketidakdisiplinan tidak dapat dijadikan alasan kuat.   Ia menilai pemicu peristiwa mengerikan di Mina lebih karena faktor human error.

Dalam insiden kecelakaan ini, Aam melihat adanya faktor kesalahan menusia dalam hal ini para petugas di lapangan. Ia meyakini adanya jamaah haji Indonesia yang dialihkan jalurnya oleh petugas haji (askar) karena pertimbangan kondisi kepadatan jalur.

“Ibaratnya begini, seperti polisi lalu lintas yang sedang mengatur jalan. Ketika terjadi kemacetan atau kepadatan, maka biasanya seorang petugas polisi akan mengalihkan ke jalur yang dianggap lebih kosong dan aman. Itu menurut saya yang terjadi dalam musibah di Mina kemarin, sehingga ditemukan ada jamaah haji asal Indonesia berada dijalur jemaah haji asal Afrika,” ungkap Aam dalam wawancara di redaksi MaPIonline, Selasa (6/10) kemarin.

Fakta inilah yang kemudian diklaim sebagai ketidakdisiplinan jemaah haji Indonesia. Menurut Aam,  para petugas pengatur haji (askar) melihat jalur orang Afrika agak kosong, sehingga mereka berinisiatif untuk memindahkan jamaah Indonesia ke jalur tersebut.

“Jalur orang Indonesia penuh sementara jalur orang Afrika kosong maka dibukalah jalur orang Afrika untuk bisa dilewati orang Indonesia. Itu bukan keinginan jemaah namun inisiatif askar.   Ketika jamaah Indonesia sudah masuk ke jalur orang Afrika lalu sudah terlihat penuh maka ditutup lagi. Inilah yang menurut saya menimbulkan polemik.  Menuduh jemaah haji asal Indonesia tidak disiplin,” terang Aam yang juga salah satu saksi kejadian sekaligus pembimbing haji dari Indonesia, .

Menurut Aam, orang yang berkomentar demikian karena tidak tahu kondisi lapangan, yang sebenarnya hanya menganalisa berdasarkan informasi minim tanpa menelusuri kronologis kejadian sebelumnya secara utuh.

Aam  juga mengingatkan dan mengajak semua pihak untuk menyikapi peristiwa Mina secara obyektif, tidak melempar fitnah secara membabi buta dan serampangan tanpa dasar atau sumber yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.

Penulis : Iman

Editor Bahasa: Desi

(Visited 17 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment