Aam Amiruddin : Tragedi Mina Jangan Timbulkan Fitnah

Peristiwa tragedi Mina pada musim Haji 1436 H, atau tepatnya pada Kamis (24/09/2015) lalu, telah merenggut banyak korban. Pemerintah Arab Saudi mengatakan, jumlah korban meninggal dalam tragedi Mina ini mencapai ribuan orang, dan lebih dari 100 orang diantaranya berasal dari jamaah haji Indonesia.

Selain menimbulkan banyak korban, peristiwa ini juga meninggalkan tanda tanya dan spekulasi.  Beragam isu dan informasi pun berkembang dan memicu kesimpangsiuran. Isu yang berkembang misalnya adanya keterlibatan keluarga kerajaan Arab Saudi hingga sabotase dari kelompok jamaah haji asal Iran.

promooktober

Menanggapi hal ini,  DR. Aam Amiruddin M.Si.,  selaku salah satu saksi kejadian sekaligus pembimbing haji dari Indonesia, mengingatkan dan mengajak semua pihak untuk menyikapi musibah Mina ini secara obyektif.  Ia mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh informasi yang belum jelas, yang pada akhirnya dapat menimbulkan fitnah.

“Jangan memfitnah membabi buta tanpa dasar atau sumber yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Jangan memfitnah keluarga raja dan pemerintah Arab Saudi. Begitu pula jangan menyalahkan apalagi membuat fitnah kepada jamaah asal Indonesia yang dituduh tak disiplin. Demikian pula memfitnah jemaah haji dari Iran tanpa ada bukti akan kebenarannya,” ujar Ustadz Aam dalam wawancara dengan redaksi MaPIonline.com, Selasa (6/10/2015) kemarin.

Ia berpendapat, musibah di Mina pada pelaksanaan haji tahun ini adalah kecelakaan murni. Masyarakat jangan lantas memunculkan berbagai spekulasi yang dihubungkan masalah politik, seperti keterlibatan keluarga kerajaan Arab. Menurut Aam, sungguh suatu fitnah jika insiden musibah Mina dikaitkan dengan kedatangan anak raja atau salah satu keluarga kerajaan.

“(Isu) ini perlu diluruskan.  Setahu saya, untuk kondisi Mina saat ini (haji 2015) sangat tidak mungkin terjadi. Mengapa? karena tempat pelemparan itu sekarang sudah 4 lantai. Untuk tamu VVIP sendiri telah disediakan jalur khusus. Sehingga untuk kondisi saat ini, siapa pun tamu VVIP itu misalnya keluarga raja, bangsawan, hingga tamu undangan raja sekalipun tak mungkin mengganggu jalur umum atau jalur jamaah haji umum,” terangnya.

Aam juga tak setuju  bila tragedi Mina dikaitkan dengan isu sabotase dari kelompok Syiah atau jamaah haji asal Iran.  “Kalau saya melihat, ini bukan sabotase. Itu terjadi karena faktor manusiawi, di mana ada sebuah kondisi yang tak terhindarkan. Secara manusiawi, orang akan berusaha menyelamatkan diri ketika terjadi sesuatu yang dapat membahayakan jiwanya,” paparnya.

Aam mencontohkan, rata-rata jemaah haji akan bergerombol dan berkelompok dengan sesama jemaah haji asal negaranya. Bahkan  mereka juga memakai atribut tertentu sebagai tanda pengenal. Hal ini juga dilakukan oleh jemaah lainnya termasuk yang dari Iran.  “Misalnya saya dan rombongan sedang berjalan, kemudian tiba-tiba ada insiden yang menghalangi jalan kita, maka bisa jadi saya akan mengajak teman-teman saya untuk berbalik untuk mencari dan pindah ke jalur yang kosong. Mungkin ini juga dilakukan oleh jamaah yang lainnya termasuk yang dari Iran, sehingga akan terjadi pertemuan beberapa rombongan dalam satu titik atau lokasi. Saya pikir ini bukan sebuah tindakan sabotase,”jelasnya

Kemudian beredar juga informasi bahwa sejumlah jemaah haji dari Iran menerobos hingga menimbulkan kemacetan.  Aam menilai, hal ini bukanlah sebuah kesengajaan untuk menciptakan suasana chaos atau sabotase sehingga menimbulkan kepanikan dan menyebab terjadinya jatuh korban.  Menurutnya, hal itu adalah insting  manusia.  “Ketika mengalami kepadatan dan dilihat ada jalur yang dianggap kosong, maka mereka berbalik untuk mencari alternatif. Walaupun boleh jadi tindakan tersebut dapat menyebabkan kecelakaan yang dahsyat hingga jatuhnya korban. Namun saya yakin itu bukan unsur kesengajaan yang direncanakan tapi murni kecelakaan,” ujarnya

Aam mengajak semua pihak untuk bijak dan menerima musibah ini sebagai sebuah kecelakaan yang sudah ditentukan Allah Swt. Namun demikian, pemerintah Indonesia juga tetap perlu mendorong pemerintah Arab Saudi untuk melakukan investigasi dan evaluasi secara internal demi perbaikan di tahun-tahun mendatang.

“Kita harus  mengakui peran dan upaya pemerintah Arab Saudi dalam memberi pelayanan kepada jemaah haji, khususnya saat pelemparan jumroh sudah disiapkan sedemikian rupa dengan upaya yang semaksimal mungkin. Belum tentu ada negara di luar Arab Saudi yang sanggup melakukan atau mengatur orang /jamaah yang mencapai hingga 4 jutaan lebih dalam waktu yang demikian singkat.  Evaluasi tetap harus dilakukan ke depan  agar musibah tersebut tidak terulang lagi,” tandasnya.

 

Penulis : Iman

Editor Bahasa: Desi

(Visited 12 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

One Thought to “Aam Amiruddin : Tragedi Mina Jangan Timbulkan Fitnah”

  1. Rahayu Kinasih Roeslan

    Inna lillaahi Wainna ilaihi Roji’un

    Turut berbelasungkawa dan turut prihatin atas terjadinya “Tragedi MINA” semoga keluarga yg ditinggalkan diberikan Ketabahan dan keikhlasan. Aamiin YRA. Dan bukankah pelaksanaan Ibadah Haji itu, merupakan Panggilan Allah Swt yang notabene murni panggilan untuk orang2 terpilih, dan sudah benar2 berdasarkan Ibadah yang Karena Allah Swt, bahkan sebagian besar umat manusia mengharapkan ‘maut’ di Tanah Suci Makkah ketika sedang melaksanakan ibadah haji. Semoga dengan terjadi insiden tragedi Mina bukan berarti menyurutkan niat kita pelaksanaan Ibadah Haji di tahun yang akan datang. Kalo saya melihat kejadian itu, semua sudah takdir Allah Swt hanya saja jika membayangkannya tentu ‘mengerikan’. Semoga para korban menjadi Syuhada dan berada di tempat yang terindah di Sisi Allah Swt karena sejatinya kita semua akan kembali ke tempat keabadian sekalipun dengan cara, waktu, dan tempat yang berbeda. Semoga kepulangan kitapun ada dalam Ridho Allah Swt dan dengan cara yang indah. Aamiin YRA
    Terimakasih. Mohon Maaf jika ada kalimat yang tidak semestinya

Leave a Comment