Kalau Istri Kerepotan Urus Anak, Bagaimana Solusinya?

TANYA :

Assalaamu’alaikum, teh Sasa. Ini dengan Siti, ketua POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru) di sekolah anak saya. Waktu itu teteh waktu mengisi taklim di sekolah anak saya tersebut dan saya ingin sekali bertanya tentang prioritas dalam rumah tangga tapi tidak sempat. Jadi lewat SMS ini saya ingin berkonsultasi mengenai apa yang harus saya benahi dalam rumah tangga. Kondisi saya saat ini memiliki empat orang anak dan tanpa pembantu. Terkadang saya merasa kewalahan mengurus keempat anak saya, teh. Ketika hendak salat sunnah rawatib, anak malah merengek atau berantem. Jadi, saya merasa ibadah saya amburadul. Bagaimana solusinya teh?

iklan donasi pustaka2


JAWAB :

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, yuk sejenak kita melihat bagaimana rumah tangga Rasulullah Saw. Dibangun. Paling tidak, ada empat hal yang harus kita perhatikan.

1. Dominasi Tanggung Jawab Ayah Dalam Mendidik dan Memberikan Kasih Sayang Kepada Anak.

Dari sahabat Anas r.a., dia suka membantu Rasulullah Saw. Katanya bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang suami dan ayah yang paling tulus dan setia. Dia menggambarkan, “Saya tidak pernah melihat seseorang yang dapat mencintai anggota keluarganya lebih besar dari pada Rasulullah Saw.” (H.R. Bukhari)

Rasulullah Saw. selalu menegakkan salat, sebagaimana Allah Swt. memerintahkan dalah ayat “Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya…” (Q.S. Ţā Hā [20]: 132)

Perlu disadari bahwa waktu yang tepat mengajarkan salat adalah sejak batita dan balita. Sedari dini, anak-anak harus secara konsisten diajak, dibiasakan, dimotivasi untuk mengerjakan salat sehingga saat memasuki usia tujuh tahun mereka sudah terbiasa. “Suruhlah anak-anakmu salat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun (bila malas) dan pisahkanlah tempat tidur mereka (putra-putrimu).” (H.R. Abu Daud). Berkaitan dengan hadis tersebut, perlu diketahui bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah memukul siapa pun.

Disampaikan oleh Abdullah bin Abbas r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sayangilah anak-anakmu dan berilah mereka pendidikkan yang pantas.” (H.R. Ibnu Majah ). Dalam hadis lain diterangkan, “Tekunilah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka.” (H.R. Ibnu Majah). Selanjutnya, “Tidak ada pemberian yang paling utama dari seorang ayah kepada anaknya , selain (pemberian) berupa akhlak yang baik .” (H.R. Tirmidzi)

Dari sejumlah keterangan tersebut terlihat jelas bahwa peran ayah dalam mendidik anak memang seharusnya sangat dominan.

2. Tanggung Jawab Ayah Dalam Menafkahi dan Memberi Nama yang Baik Bagi Anak.

Dari Abu Qulabah menyatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Siapakah yang paling pantas menjadi orang yang diberi pahala (oleh Allah Swt.) daripada orang-orang yang mengeluarkan hartanya untuk anak-anaknya agar mereka selamat dari pada kemungkinan mengemis/meminta-minta dan menjadi makmur.” (H.R.Tirmidzi)

Kewajiban ayah adalah memberi nama anak yang mengandung doa dan harapan yang baik, Rasulullah Saw. berkata, “Engkau akan dipanggil dengan namamu dan nama ayahmu. Jadi, berilah nama-nama yang bagus untuk anak-anakmu.” (H.R.Abu Dawud)

Apabila ayah sedang sibuk mencari nafkah, kalau sangat memang dibutuhkan dan sifatnya darurat, ibu boleh mencari pengasuh untuk mengasuh anak-anak sementara waktu. Memang, hal ini berarti ayah harus mengeluarkan ekstra biaya untuk membayar pengasuh tersebut. Berkaitan dengan hal ini, ada baiknya kita perhatikan hadis yang berbunyi, “Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya.” (H.R. Adailami).

Tentu saja, menggunakan jasa pengasuh ini dilakukan dalam pengawasan Anda bersama suami.

3. Anak Adalah Amanah Bagi Orangtua, Perlakukan Mereka Secara Adil

Memiliki empat orang anak ibu berhadapan dengan empat kepribadian yang secara personal masing-masing membutuh perhatian, kasih sayang, dan waktu ibu sesuai dengan perkembangananya. Maka, dibutuhkan niat yang kuat, iman kepada Allah Swt. dan akhirat, serta teladan Rasulullah Saw. dalam membina rumah tangga agar buah hati menjadi investasi akhirat. Jangan sampai tebersit niat jahat atau bahkan menyesal mempunya anak seperti kasus kriminal yang pernah kita saksikan di berbagai media tentang seorang ibu yang tega membunuh anaknya karena kufur nikmat dan tidak tahan atas ujian materi dan pampatnya komunikasi dengan suami.

Di sini, perlu kiranya kita merenungi firman Allah Swt. yang berbunyi, “…Janganlah membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka… Demikianlah Allah memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.” (Q.S. Al-An‘ām [6]: 151)

Jadi, senantiasa jaga keramahan dan kelembutan, seletih apa pun kondisi ibu dan ayah ketika berinteraksi dengan buah hati. Ketahuilah bahwa keramahan itu merupakan akhlak yang baik. Kebalikan dari keramah tamahan adalah kata-kata kasar, kotor, dan kejam. Allah Swt. berfirman, “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Ia merasakan beratnya penderitaanmu dan sangat menginginkan keimanan dan keselamatan untukmu. Ia juga penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.” (Q.S. At-Taubah [9]: 128)

4. Bangunlah Rumah Tangga Dengan Tanggung Jawab dan Keteladanan

Perhatikan sejumlah keterangan berikut ini.

“Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah. ” (Q.S. Al-Aĥzāb [33]: 21)

“Sungguh, telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya…” (Q.S. Al-Mumtaĥanah [60]: 4)

“Hai, orang-orang beriman! Jauhkan diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat kasar dan tegas, yang tidak durhaka kepada Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.” (Q.S. At-Taĥrīm [66]: 6)

Tidak ada seorang bayi yang lahir melainkan dia lahir di dalam keadaan fitrah. Maka kedua-dua ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Nasai disebutkan bahwa barang siapa memberi teladan yang baik, maka baginya pahala ditambah dengan pahala orang yang mengerjakannya dengan tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang yang bersangkutan. Dan, barang siapa memberi teladan yang buruk, maka ada baginya dosa ditambah dosa orang yang mengerjakannya dengan tanpa mengurangi sedikit pun dosa dari orang yang bersangkutan.

Maka, tugas ibu adalah semampunya memberi arahan, teladan, dan nasihat terbaik bagi buah hati dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang ibu dan juga ayah terhadap anaknya tidak boleh dan tidak seharusnya terhalang oleh keletihan atau kemarahan. Maka, hanya dengan ketakwaan ibu dan ayah bisa bahu membahu mengurus dan membesarkan anak sambil tetap khusyuk beribadah disesuaikan dengan kondisi anak per anak. Karena, Rasulullah Saw. pun adakalanya salat sambil menggendong cucu beliau, Hasan dan Husein. Putra Fatimah Az-Zahra r.a. dan Ali bin Abi Thalib r.a. itu dibiarkan bermain-main di punggung Rasulullah Saw. hingga mereka turun sendiri. Keadaan yang kurang nyaman tidak dijadikan alasan oleh Rasul untuk tidak khusyuk beribadah. Rasulullah Saw. bahkan pernah bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ya, sebagai orangtua kita harus memberi contoh dan keteladanan, merawat penuh cinta kasih dan kelembutan, serta senantiasa mendoakan anak-anak kita. Ridai anak-anak karena keridaan Allah bergantung pada keridhaan ibu dan ayahnya. Rasulullah Saw. menekankan bahawa surga terletak di bawah tapak kaki ibu. Karenanya, amat penting seorang ibu meridai anaknya demi kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Akhir kata, saya ingin berpesan kepada para ibu. Wahai ibu, jadilah teladan yang baik bagi anak-anakmu dengan menjadi ibu sekaligus istri yang sesuai dengan ketentuan yang telah diatur oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Insya Allah, kelak di kemudian hari anak lelakimu akan menjadi suami yang baik bagi istrinya (atau sebaliknya, anak perempuanmu akan menjadi istri yang baik bagi suaminya). Saya juga turut mendoakan semoga anak-anak teh Siti khususnya dan anak-anak pembaca setia MaPI pada umumnya kelak mejadi anak yang saleh dan salehah serta bertakwa kepada Allah Swt karena atas izin-Nya telah diasuh oleh orangtua yang saleh dan sabar mendidik mereka sejak kecil. Amin ya Allah, ya rabbal ‘alamin.

Credit Foto Ilustrasi : Norman

nuwakaf008

(Visited 25 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment