Apakah Dunia Ini Kejam? Inilah Hakikatnya

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap detik dalam kehidupannya, manusia bergulat dalam mengatasi problematika hidup. Hanya dua kemungkinan yang akan dihasilkan, keberhasilan atau keterpurukan. Balasannya sangat jelas, berhasil akan meraih surga dan terpuruk akan berbuah neraka. Keadaan terpuruk ialah ketika manusia tak mampu menangkap esensi hidup, tujuan hidup di dunia. Ia hanya bisa menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, dan yang paling parah menyalahkan Allah swt. Naudzu billahi min dzalik!

Rasulullah saw. menerangkan, “Pada hari kiamat dihadirkan orang yang paling senang sewaktu di dunia. Ia termasuk calon penghuni neraka. Kemudian ia dimasukkan sebentar ke dalam neraka dan ditanya, “Wahai anak Adam, apakah kamu merasakan kesenangan, dan apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?” Ia menjawab, “Demi Allah tidak ada, wahai Tuhanku.” Lalu didatangkan juga orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia. Ia termasuk calon penghuni surga, kemudian ia dimasukkan sebentar ke dalam surga dan ditanya, “Wahai anak Adam, apakah kamu merasakan adanya kesedihan, dan apakah kamu pernah merasakan penderitaan?” Ia menjawab, “Demi Allah, saya tidak merasakan adanya penderitaan sedikit pun, juga tidak merasakan adanya kesedihan.” (H.R. Muslim).

iklan donasi pustaka2

Dua kutub yang berlawanan, antara kenikmatan duniawi dan kenikmatan surgawi. Kenikmatan surgawi mampu memupus kepedihan dunia. Bila berfoya-foya di dunia dengan amal ahli neraka, ingatlah ketika kembali kehadirat-Nya, kenikmatan tadi hilang sekejap dengan derita neraka. Oleh karena itu, dunia tidak kejam, melainkan kekejaman perilaku manusia, putus asa dari dunia-Nya.

Hakikat Dunia Menurut Hadis

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya dunia ini indah dan mempesonakan dan sesungguhnya Allah Ta’ala menyerahkannya kepada kalian. Kemudian Allah akan melihat bagaimana kalian berbuat atas dunia ini. Maka berhati-hatilah dalam urusan dunia dan berhati-hatilah juga terhadap wanita.” (H.R. Muslim).  Nabi saw. bersabda,  “Ya Allah, sebenarnya tidak ada kehidupan yang sesungguhnya kecuali kehidupan akhirat.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga hal yang mengikuti kepergian jenazah, yaitu keluarga, harta, dan amalnya. Dua di antaranya akan kembali, hanya satu yang tetap menyertainya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan yang tetap menyertai adalah amalnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ketiga hadis di atas mengajak manusia selamat dengan dunianya apabila memaknai kehidupan dunia dengan benar, memenej kesalehan diri, pria tidak tergoda dan menggoda wanita untuk berzina, meningkatkan diri menjadi anak saleh, dan mencintai dunia sebagai ladang kebahagiaan akhirat.

Hakikat Dunia Menurut Al Quran

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu bercampur (diserap) tumbuh-tumbuhan bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi menumbuhkan kesemarakan (tumbuh-tumbuhan) itu, dan menghiasi (dengan warna-warna), lalu pemiliknya mengira bahwa mereka menguasainya. (Tiba-tiba) datanglah kepadanya ketentuan Kami di waktu malam atau siang, maka Kami menjadikannya sudah tersabit seakan-akan tidak ada kemarin. Demikianlah Kami jelaskan tanda-tanda (kebesaran) Kami bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Yunus 10: 24). “Dan Allah menyeru (mereka) kepada negeri yang damai (surga) dan Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”  (Q.S. Yunus 10: 25).

Tafsir Ibnu Katsir menerangkan, Allah memberikan perumpamaan bahwa kehidupan dunia sangat cepat sirna seperti tanaman yang dikeluarkan Allah dari bumi dan disirami air dari langit. Apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, orang yang menanamnya mengira pasti bisa segera memanennya, tiba-tiba mereka dikejutkan petir, angin topan, sehingga daun-daunnya menjadi kering dan buahnya rusak. Selanjutnya datanglah kepada mereka azab di waktu malam atau siang. Lalu Allah menjadikan tanahnya seolah-olah telah dipanen, yaitu menjadi kering setelah sebelumnya segar, seakan-akan belum pernah tumbuh sebelumnya.

Qatadah menafsirkan, seolah-olah belum pernah menyenangkan dan belum pernah ada. Hal ini hanya dipahami oleh kaum yang berpikir saja, mengambil pelajaran dari perumpamaan itu. Pelajaran berupa lenyapnya kehidupan dunia dari pemiliknya dengan cepat, ketertipuan mereka olehnya, terbujuk janji-janji gemerlap dunia, lari dari kenyataan dunia. Kemudian pada ayat berikutnya, Allah swt. memotivasi manusia dengan menyeru ke Darussalam, yaitu surga, tempat yang terbebas dari berbagai bencana, kekurangan dan petaka bagi orang yang menempuh jalan shirathimmustaqiim (jalan yang lurus).

Bekal Hidup di Dunia

Jauhkan diri dari sifat tergesa-gesa. Memang manusia diciptakan dengan tabiat tergesa-gesa, “Manusia telah dijadikan bertabiat tergesa-gesa.” (Q.S. Al Anbiya 21: 37). Manusia umumnya tidak sabar menjalani proses ujian, tidak sabar ingin segera mendapat hasil dari yang diharapkannya, padahal segala sesuatu ada saatnya. Perintah Al Quran, “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (Q.S. Al Ahqaf  46: 35).

Jangan berputus asa. Manusia jangan menyerah, ulet dengan usaha, doa, harapan positif, optimis, berjuang terus diiringi ketaatan pada amal yang disukai-Nya, mampu sabar menahan derita ujian dunia dan godaan hawa nafsu keburukan. “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa…” (Q.S. Al A’raf 7: 128-129). Amin. Wallahu a’lam bishawwab.

 

Penulis: Sasa Esa Agustiana

Editor: Sly

Credit foto: Iman

nuwakaf008

 

(Visited 29 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment