12 Langkah Penting Lindungi Kesehatan Ibu dan Balita

Oleh: dr. Eddy Fadlyana, SpA(K)., M Kes*

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang merupakan tulang punggung pembangunan suatu bangsa. Apabila anggota keluarga dalam keadaan sehat, bangsa tersebut mempunyai derajat kesehatan yang tinggi. Akan tetapai bagaimana kalau terjadi sebaliknya ? Oleh karena itu marilah kita menelaah kembali upaya-upaya yang sudah dilaklukan keluarga-keluarga di seluruh dunia yang telah terbukti mempunyai dampak terhadap peningkatan derajat kesehatan suatu bangsa.

Pada hakikatnya keluarga diharapkan mampu berfungsi mewujudkan proses pengembangan timbal balik rasa cinta dan kasih sayang antara anggota keluarga, antara kerabat, serta antargenerasi yang merupakan dasar keluarga yang harmonis.  Karena sebagai unit yang terkecil dari masyarakat, kedudukan keluarga menjadi inti suatu masyarakat.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, WHO/UNICEF telah merekomendasikan 12 upaya pokok yang dapat dilakukan oleh keluarga untuk meningkatkan kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perkembangan anak/balita. Seluruh keluarga harus tahu bagaimana cara memberi dukungan gizi yang sesuai, mencegah dan mengobati penyakit yang sering didapat (termasuk mengetahui bagaimana cara merawat anak sakit), dan melaksanakan anjuran yang diberikan oleh petugas kesehatan.

Upaya Keluarga

WHO/UNICEF telah merekomendasikan 12 upaya pokok yang dapat dilakukan oleh keluarga untuk meningkatkan kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perkembangan anak/balita, yaitu:

  1. Beri anak imunisasi yang lengkap sebelum usia 1 tahun sesuai jadwal, yaitu BCG, Hepatitis B, DPT, Polio, dan Campak

Tujuan utama dilakukan imunisasi adalah agar bayi mempunyai kekebalan terhadap peyakit tertentu. Melalui imunisasi seperti yang diwajibkan oleh pemerintah, beberapa penyakit yang dapat dicegah melalui immunisasi adalah Tuberkulosis, Difteria, Pertusis, Tetanus, Polio, Hepatitis B, dan Campak. Saat ini sudah tersedia pula vaksin untuk penyakit lainnya seperti Hemofilus tipe B, Cacar Air, Hepatitis A, dan lain-lain.

Imunisasi merupakan upaya pencegahan yang telah berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian beberapa penyakit infeksi pada bayi dan anak. Penyakit-penyakit yang dicegah dengan imunisasi bertanggung jawab terhadap 10% dari penyebab kematian pada balita, atau sekitar 1,1 juta setiap tahunnya. Bawalah bayi untuk mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. Pada umur 1 tahun, bayi harus sudah mendapat imunisasi BCG 1 kali, Hepatitis B 3 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, dan Campak 1 kali.

  1. ASI eksklusif selama 6 bulan

Air Susu Ibu (ASI) memenuhi semua kebutuhan zat gizi sampai 6 bulan pertama kehidupan, di samping itu juga mudah diberikan dan mengandung zat anti bakteri maupun antivirus, sehingga ASI dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit. Keuntungan lainnya adalah harganya yang murah, tersedia pada suhu yang ideal, dan memperkuat ikatan batin antara ibu dan bayinya.

Harus diperhatikan, setiap kali akan menyusui keadaan bayi haruslah sedang bangun dan mau minum. Bayi akan bereaksi jika puting payudara ditempelkan pada mulutnya. Akan tetapi bila menolak tawaran ini, bayi belum mau minum, dan ibu tidak perlu memaksakan. Jika produksi ASI cukup, pertumbuhan bayi akan baik. Pada umur 5-6 bulan, berat bayi akan menjadi 2 kali lipat daripada berat lahirnya.

  1. Sejak umur 6 bulan mulai diberi makanan tambahan yang kaya energi dan zat gizi, dan ASI diteruskan sampai dua tahun atau lebih

Malnutrisi masih menjadi masalah di negara berkembang. Hampir sepertiga anak memiliki perawakan pendek. Malnutrisi ini menjadi menjadi penyebab –langsung ataupun tidak— 54% kematian anak. Selain pertumbuhan yang terlambat juga dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik, gangguan fungsi kognitif, dan kesulitan belajar.

Walaupun ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, dengan bertambahnya umur, suatu saat bayi yang sedang bertumbuh cepat memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah yang didapat dari ASI. Selain ASI, sejak usia 6 bulan bayi harus mendapatkan makanan tambahan. Makanan tambahan awal harus berupa bubur (makanan lunak/padat) yang mudah dicerna dan mengandung zat-zat gizi dengan keseimbangan yang baik, kemudian ditingkatkan kepadatannya secara bertahap.  Sebelum bayi berumur 10 bulan, nasi tim harus disaring/diblender terlebih dahulu. Teruskan pemberian ASI, minimal selama 2 tahun untuk melengkapi nutrisi dan kasih sayang terhadap bayi.

  1. Berikan anak makanan yang mengandung mikronutrien (Vit A, besi, dan zinc) dalam jumlah yang cukup atau melalui suplementasi

Vitamin A sangat diperlukan untuk fungsi kekebalan tubuh. Kekuranga vitamin A dapat menyebabkan gangguan pada mata dengan manifestasi berupa rabun senja dan xerophtalmia, apabila keadaan ini tidak ditanggulangi, akan berlanjut menjadi kebutaan. Kekurangan zat besi akan menyebabkan rendahnya kapasitas kerja/konsentrasi di sekolah. Sedangkan kekurangan zinc akan menyebabkan gangguan sistem kekebalan, sehingga anak akan mudah mendapat infeksi, pertumbuhan terhambat, diare, penyakit kulit, dan lain-lain.

Vitamin A dalam bentuk retinol terdapat pada ASI, hati, telur, mentega, susu sapi, sedangkan dalam bentuk karotin terdapat pada sayuran hijau, jeruk, mangga, dan lain-lain. Zat besi banyak terdapat pada hati, telur, dan daging. Menurut Allen (1998), adalah sulit untuk menentukan kebutuhan bayi dan anak dari makanan, oleh karena itu sulementasi dapat digunakan pada periode ini.

  1. Membuang feses pada tempatnya, mencuci tangan setelah BAB, sebelum makan, dan sebelum menyiapkan makanan

Kebersihan yang kurang, penggunaan air yang tidak memenuhi persyaratan, dan kebersihan perorangan yang buruk berhubungan erat dengan penyakit diare, cacingan, infeksi kulit dan mata, dan penyakit lainnya. Feses merupakan sumber utama kuman diare, 90% diare pada anak disebabkan kebersihan yang buruk, sukarnya mendapat air bersih, dan kebersihan pribadi yang buruk.

Mencuci tangan belum menjadi kebiaaan di negara berkembang. Di daerah pedesaan India hanya 2% ibu mencuci tangan setelah BAB dan hanya 4% mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan.

  1. Lindungi anak yang tinggal di daerah endemis Malaria terhadap gigitan nyamuk dengan cara menggunakan kain kelambu yang sudah diberi insektisida

Lebih kurang 1 juta balita meninggal setiap tahunnya karena Malaria, 90%-nya merupakan balita di Afrika. Penggunaan kain kelambu yang sudah diberi insektisida akan membunuh nyamuk yang menghinggapinya serta merupakan alat pertahanan sewaktu tidur terhadap gigitan nyamuk.

  1. Ketika anak sakit, lanjutkan pemberian makanan dan perbanyak pemberian cairan termasuk ASI

Anak yang sedang menderita sakit membutuhkan energi yang lebih tinggi sehingga tetap memerlukan makan dan minum, hal ini diperlukan untuk mencegah malnutrisi dan dehidrasi. Ibu dianjurkan untuk tetap melanjutkan meneteki sesering yang dikehendai anak dan juga memberi makanan pendamping yang bergizi tinggi.  Sebagai contoh: bubur ditambah telur, ayam, ikan, tempe, tahu, daging sapi, wortel, bayam, kacang hijau, santan, atau minyak.

  1. Berikan perawatan di rumah yang baik sewaktu anak menderita sakit

Tidak semua penyakit infeksi memerlukan pengobatan dari petugas kesehatan.  Sebgai contoh, diare ringan tanpa komplikasi dapat ditanggulangi di rumah dengan cara pemberian cairan oralit.

Apabila anak dibawa berobat ke petugas kesehatan, sebelum pulang biasanya diberikan penyuluhan mengenai cara makan obat, cara merawat anak di rumah, dan kapan harus kembali.

  1. Kenali tanda-tanda anak memerlukan rujukan ke petugas kesehatan

Perawatan yang sesuai berarti dapat mengenali secara dini kebutuhan merujuk anak berobat keluar rumah atau dirujuk ke tempat perawatan/petugas kesehatan yang sesuai. Penyakit infeksi yang tidak diobati merupakan penyebab utama kematian dan penyakit pada anak di negara berkembang. Oleh karena itu keluarga/pengasuh anak harus mengetahui 3 komponen utama: mengenal tanda-tanda awal anak menderita sakit, dapat menentukan beratnya penyakit, dan pada waktu yang tepat dapat melakukan rujukan.

10. Ikuti nasihat petugas kesehatan mengenai pengobatan, tindak lanjut, dan rujukan

Sudah banyak anak sakit yang dapat disembuhkan dengan cara pengobatan, pengamatan, dan rujukan melalui panduan yang dibuat oleh WHO, yaitu Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Untuk pemulihan yang cepat dan menyeluruh, penting bagi pengasuh untuk mengikuti nasihat petugas kesehatan terutama mengenai cara, jumlah, waktu makan obat, dan memenuhi janji untuk diperiksa kembali, dan kapan untuk harus segera dirujuk.

Pada waktu kunjungan ulang, petugas kesehatan dapat menilai apakah anak membaik setelah diberi obat atau tindakan lainnya.

11. Tingkatkan perkembangan mental dan sosial melalui stimulasi

Anak-anak yang berisiko mengalami keterlambatan perkembangan adalah anak yang berat lahirnya rendah, prematur, kelainan kongenital, asfikisia, dan lain-lain. Faktor-faktor –langsung ataupun tidak— dapat mengganggu perkembangan gerak, komunikasi, kognitif, emosi sosial, dan perilaku. Semakin banyak faktor risiko, semakin banyak dan berat aspek perkembangan yang terganggu. Bentuk gangguan perkembangan yang tersering adalah palsi serebral, gangguan bicara, dan perilaku.

Untuk memperbaiki hasil perkembangan anak, keluarga dan masyarakat harus melakukan stimulasi/rangsangan melalui cara berbicara dan bermain. Pada umumnya stimulasi/rangsangan yang diberikan meliputi rangsang taktil (pijat), verstibular kinestetik (menggoyang, mengayun), pendengaran (menyanyi, musik), dan visual (gerakan, warna, bentuk). Stimulasi dilakukan dengan prinsip sebagai berikut:

  1. Sebagai ungkapan rasa cinta dan kasih sayang, bermain dengan anak sambil menikmati kebahagiaan bersama anak.
  2. Bertahap dan berkelanjutan serta mencakup 4 bidang kemampuan perkembangan.
  3. Dimulai dari tahapan perkembangan yang telah dicapai.
  4. Dilakukan dengan wajar, tanpa paksaan, hukuman, atau bentakan bila anak tidak mau.
  5. Anak selalu diberi pujian atas keberhasilannya.
  6. Alat bantu stimulasi bila diperlukan dicari yang sederhana dan mudah didapat, misalnya mainan yang dibuat sendiri dari bahan bekas, alat-alat di sekitar rumah, atau benda-benda yang terdapat di alam bebas.
  7. Suasana dibuat segar, menyenangkan, dan bervariasi agar tidak membosankan.

12.  Setiap ibu hamil memerlukan pemeriksaan kesehatan minimal 4 kali dan mendapat imunisasi Tetanus (TT) sesuai jadwal. Ibu hamil juga memerlukan dukungan tak hanya dari keluarga tetapi juga dari masyarakat sekitarnya pada waktu melahirkan, sesudah melahirkan, dan periode menyusui

Kesehatan ibu selama hamil akan berdampak terhadap bayi yang dikandungnya, misalnya keadaan nutrisi ibu yang kurang akan bermanifestasi terhadap berat bayi lahir rendah, demikian juga infeksi virus yang dialami pada ibu hamil, terutama pada trimester pertama, mempunyai risiko tinggi menularkan pada bayinya.

Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menurunkan kematian ibu dan bayi, WHO merekomendasikan minimal 4 kali kunjungan antenatal. Pada kunjungan antetanatal ini akan diberikan imunisasi Tetanus Toksoid. Keluarga sudah seharusnya merawat anak dengan baik agar tumbuh kembangnya optimal. Ketidaktahuan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi buruknya perawatan pada anak. Rekomendasi dari WHO/UNICEF berdasarkan bukti yang dikumpulkan dari berbagai negara merupakan petunjuk praktis yang harus dilakukan oleh keluarga.

*Penulis adalah praktisi dan konsultan kesehatan serta pegiat dakwah
Foto Ilustrasi : A smiling baby” by Kenny Louie from Vancouver, Canada – Hah!. Licensed under CC BY 2.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 12 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment