Kurban Saat Tepat Ajarkan Makna Cinta dan Ketaatan Pada Allah.

 

Sobat Mapi, bulan ini saudara kita yang telah diundang Allah Swt ke Baitullah akan serangkain ritual ibadah haji. Dalam bulan haji ini juga ada satu momen yang tidak kalah agung dan mulianya yakni ibadah kurban .Sebuah ibadah yang sarat keteladanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As tentang kecintaan dan ketaatannya kepada Allah Swt yakni lewat sebuah pengorbanan. Meski pada awalnya Nabi Ismail yang akan dikorbankan sebagai bukti ketaatan namun Allah menggantinya dengan binatang domba.

Risalah ini kemudian oleh Allah perintah juga kepada ummat Rasulullah Muhammad Saw yang berkurban dengan binatang ternak (domba atau sapi). Momen ini dijadikan sebagai syiar Islam dan juga bisa dimanfaatkan untuk menanamkan hakekat cinta dan ketaatan kepada Allah pada anak-anak kita. Sayang sekali jika anak-anak kita hanya menyaksikan penyembelihan domba  dan sapi kurban sebatas fisiknya saja. Untuk itu momen ini saat tepat mengajarkan anak-anak akan pemahaman dan hikmah di balik sejarah kurban yang agung ini.Berikut beberapa hal akan pengajaran hikmah kurban bagi anak-anak:

  1. Ujian kesungguhan cinta Nabi Ibrahim as kepada Allah Swt

Beri pemahaman bahwa semua manusia pasti akan mendapat ujian dari Allah Swt sebagai bukti keimanan. Demikian juga yang dialami para nabi dan rasul termasuk Nabi Ibrahim as. Meski sudah tua Nabi Ibrahim diuji dengan belum dikaruniai seorang anak padahal beliau sangat menginginkan sebagai pelanjut dakwahnya. Setelah melalui ikhtiar yang panjang dan lama serta doa yang tiada henti,akhirnya Siti Hajar istri Nabi Ibrahim bisa mengandung dan lahirlah anak  diberi nama Ismail.

Tentu saja Nabi Ibrahim dan Siti Hajar sangat mencintai dan menyayangi Ismail, anak semata wayangnya. Ismail pun tumbuh menjadi anak yang saleh sehingga semakin menambahkan rasa cinta dan sayangnya. Namun ujian dari Allah pun datang, dimana pada suatu malam Nabi Ibrahim bermimpi dan diminta oleh Allah agar menyembelih Ismail. Bisa dibayangkan bagaimana risau dan gundahnya hati beliau.

Namun beliau yakin bahwa mimpinya berasal dari Allah Swt bukan permaian setan yang ingin menggodanya. Tanpa ada keraguan sama sekali dalam menunaikan perintah Allah tersebut, Nabi Ibrahim siap menyembelih Ismail. Ia buktikan bahwa cinta dan taatnya kepada Allah lebih besar ketimbang cintanya pada putra satu-satunya. Allaahuakbar!

Itulah artinya berkurban, dengan mengorbankan sesuatu yang dicintai untuk membuktikan kesungguhan cinta dan taat kepada Allah Swt. Allah menerima kesungguhan Nabi Ibrahim dalam membuktikan ketaatannya dengan mengganti seekor domba sebagai ganti Ismail

  1. Kepatuhan seorang anak saleh pada orangtua dan juga Allah.

Ayah Bunda bisa menceritakan juga tentang kesalehan dan kepatuhan Ismail kepada orangtua serta taat pada perintah Allah. Bisa disimak saat Ismail tidak menolak ketika ayahnya memberitahukan perintah Allah untuk menyembelih dirinya. Ismail juga sangat berani dan tak gentar menghadapi pedang tajam yang akan menyembelihnya, karena ia yakin bahwa Allah memerintahkan yang terbaik untuk orang-orang saleh.

Benar saja, ketika pedang itu hendak menyembelih Ismail, Allah menggantinya dengan seeekor biri-biri besar. Ismail selamat, Nabi Ibrahim pun tak kehilangan nyawa putranya. Bahkan Allah menambahkan nikmat mereka berdua dengan mengabadikan momen kurban tersebut menjadi syariat bagi kaum muslimin yang terus dilaksanakan hingga ribuan tahun kemudian.

  1.  Membangun komunikasi yang baik antara orangtua dan anak

Ayah Bunda bisa mengambil hikmah tentang pola komunikasi yang baik antara orangtua dengan anak dalam peristiwa kurban ini. Sebelum menunaikan printah Allah, Nabi Ibrahim terlebih dahulu memberitahukan dan minta pendapat dari Ismail mengenai perintah Allah untuk menyembelih dirinya.

Meski diyakini bahwa perintah tersebut datang langsung dari Allah Swt, Nabi Ibrahim tidak serta merta melakukannya dengan mengabaikan pendapat anaknya yakni Ismail. Dari dialog ayah dan anak ini dapat kita ketahui seorang anak yang saleh akan mendukung ayahnya jika berkenaan dengan ketaatan kepada Allah. Padahal bisa saja Ismail menganggap ayahnya akan berbuat gila di luar sifat kemanusiaan,bagaimana mungkin ada orangtua yang tega membunuh anaknya sendiri?. Namun itu tak dilakukan oleh anak yang saleh,salah satu sebabnya karena komunikasi yang baik.

Jadi salah satu cara untuk menumbuhkan anak yang saleh adalah melaui komunikasi yang baik dengan anak,seperti yang dicontihkan Nabi Ibrahim kepada putra Ismail. Sekarang dapat kita lihat, berapa banyak orangtua yang memaksakan kehendak pada anak tanpa menanyakan persetujuan anak terlebih dulu? Biarpun untuk kebaikan semisal menyekolahkan anak di pesantren penghafal quran, tetap saja perlu untuk mengajak anak berkomunikasi dan meminta pendapatnya, inilah salah satu hikmah luar biasa juga dari peristiwa kurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail.

  1. Allah pasti akan menguji orang beriman, tetaplah berprasangka baik pada ujian-Nya

Jangankan kita yang manusia biasa, para Rasul saja diuji sedemikian rupa, sampai-sampai mendapat titah untuk menyembelih anak sendiri. Namun bedanya… Para Nabi dan Rasul senantiasa berprasangka baik pada Allah, sementara kita… Diuji tak seberapa saja langsung mengeluh, komplain, protes, bahkan ada yang mogok beribadah. Sungguh mengenaskan!

Sesuatu atau keadaan yang tidak mengenakan selalu dianggap sebagi sebuah musibah. Tidak berhenti sampai disini,bahkan terkadang kita berburuk sangka bahwa Allah tidak adil,tidak sayang. Padahal tidak demikian adanya, yang buruk dimata kita belum tentu buruk bagi kita demikian juga sebaliknya.

Ujian harus dimaknai sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang senantiasa taat dan patuh dalam segala kondisi. Ujian dimaksudkan agar derajat kita naik dan menjadi insan yang mulia. Maka dari itu, semoga kita makin menyadari pentingnya berprasangka baik pada Allah, sesungguhnya Allah selalu menyiapkan kejutan kebaikan di balik segala ujian yang ia berikan pada kita. Selamat berkurban,Sobat Mapi.

 

Foto Ilustrasi : “Sapi peliharaan (13)” by Wagino 20100516Own work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

 

(Visited 48 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment