Mengukur Kualitas Shalat Kita

shalat

PERCIKANIMAN.ID – Esensi dari keberamalan seorang muslim adalah shalat. Perihal ini, bisa dirujuk dari hadits populer yang menyebutkan bahwa kelak, di hari penghakiman, amal yang pertama kali diperiksa dari seorang hamba adalah shalatnya, bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amal lainnya, tetapi bila shalatnya buruk, maka jadi tidak berarti amalan baik lainnya.

Parameter dari amal baik tersebut adalah shalat. Sehingga, menjadi sesuatu yang urgent untuk mengetahui mengapa bisa sampai begitu, seolah-olah amal yang lainnya sangat tergantung terhadap shalat yang mengindikasikan bahwa pangkat tertinggi dari amal itu adalah shalat, sehingga bila sedari sekarang kita mengerti dan segera menyadari akan nilai shalat yang sungguh sangat penting itu, akan menjadi mengerti dan paham pula akan kedudukan shalat dalam kehidupan seorang muslim.

iklan donasi pustaka2

Allah Swt tidak mungkin sembarangan dan tidak mungkin main-main ketika memerintahkan umat muslim untuk menjalankan shalat wajib 5 waktu (yang awal mula turun perintah shalat ini, disebutkan hingga 50 waktu), terlebih perintah shalat ini langsung Allah Swt sampaikan kepada Rasul, tanpa perantara malaikat Jibril‘alaihi as-Salam ketika waktu peristiwa isra Mi’raj yang luar biasa itu. Tentu saja ini ada maksud dan tujuannya. Hadits Rasul diatas pun bukan untuk sekedar di ingat dan di hafal saja. Rasul sedang benar-benar menekankan tentang arti penting shalat bagi setiap individu muslim. Karena bila kualitas individu muslimnya baik, yang dalam hal ini bisa dilihat dari kualitas shalatnya, maka dengan sendirinya secara kolektif akan baik pula kualitas masyarakat muslimnya. Maka, bisa jadi, dari sekian banyak permasalahan multidimensi yang dirasakan umat muslim di Indonesia jaman kiwari, bisa untuk merujuk pada problem dasarnya tentang bagaimanakah kualitas shalat mereka.

Patut untuk dipertanyakan sejauh mana kekhusyuan dan penghayatan akan nilai-nilai yang ada dalam shalatnya tersebut. Itu artinya, seseorang melakukan shalat itu bukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja, tetapi ada realisasi dan implementasi sesudahnya. Implementasi inilah yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika berhubungan dengan sesama manusia (Hablu mina an-Nass) dalam konteks sosial, dan hubungan dengan Allah (Hablu mina Allah) dalam konteks antara Makhluk dengan Khalik.

Bila seseorang mempunyai kesempatan di penghabisan hidupnya untuk bisa melakukan suatu hal, maka logikanya, pastilah yang akan dilakukan orang tersebut adalah sesuatu yang benar-benar penting melebihi hal-hal lainnya. Itu adalah kesempatan untuk terakhir kalinya dan tidak akan ada kesempatan lainnya sehingga tidak mungkin akan disia-siakan dan dilewatkan begitu saja. Nah, karenanya, kita bisa mengambil kesimpulan ketika di akhir hidupnya Rasul mewanti-wanti umatnya. UMATNYA! Dan justru bukan tentang dirinya “untuk jangan sampai melupakan, apalagi meninggalkan Shalat”. Bahkan tak cukup sekali, hingga 3 kali seruan Rasul tersebut kepada umatnya untuk tetap menjaga shalat. Ini menunjukan bahwa Shalat, dalam keterkaitannya dengan menjaga intensitas interaksi umat dengan Allah Swt, menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Maka, tidak menjadi berlebihan pula bahwa yang membedakan antara seorang muslim yang benar-benar muslim dengan muslim yang munafik atau dengan yang jelas-jelas bukan muslim, adalah dari shalat. Parameter yang sederhana namun memang merupakan esensi dari keberislaman seseorang. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya seorang muslim, yang ingin selamat dalam kehidupan di dunia dan akhirat serta yang dengan sukarela untuk pasrah kepada Allah yang dibuktikan dengan ketaatan yang sempurna dan totalitas untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka dengan sendirinya dia akan menganggap shalat itu sebagai sebuah kebutuhan hidup, bukan kewajiban.

Kita butuh terhadap shalat, sebagaimana kita butuh terhadap handphone (hp), yang menjadikan kita bisa bebas berkomunikasi dan intens menjalin kedekatan dan kebersahajaan dengan Tuhan, Rabb semesta alam. Bagaimana jadinya bila seorang hamba lost contact dengan Tuhannya, sehingga untuk menghubungi saja susah. Lebih parahnya, bagaimana jadinya bila si hamba tersebut sampai dilupakan oleh Allah swt? Naudzubillah, kita memohon perlindungan dari hal-hal yang begitu. Tetapi bagaimana ceritanya kita bisa lost contact dengan Allah? Bisa saja. Bahkan mungkin banyak dari kita yang sudah tidak mempunyai hasrat dan minat untuk berkomunikasi lagi dengan Allah, yang sebenarnya, bukan Allah yang menjauhi kita, tetapi kitalah yang sedang menjauhi-Nya. Karena jelas, kata Allah, bila kita mendekatinya sejengkal, maka Allah akan mendekati kita sedepa.

Bila kita mendekati Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendekati kita dengan berlari. Ini, jangan dipahami secara harpiah, bahwa Allah mempunyai kaki untuk berlari, atau membayangkan bahwa Allah lah yang lebih butuh terhadap kita. Bukan. Bukan seperti itu. Maha Suci Allah dari hal-hal yang seperti itu, bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa, tetapi disamping itu juga Maha Penyayang, lagi Maha Pengasih, adalah jelas. Tetapi bila sudah berhubungan dengan bagaimana si hamba berinteraksi dengan Allah, maka secara proporsional dan penuh dengan keadilan, Allah pun akan memperlakukan hamba sebagaimana si hamba tersebut memperlakukan-Nya. Dalam sebuah ungkapan ulama tasawuf, disebutkan bahwa untuk bagaimana melihat posisi dan kedudukan kita di hadapan Allah, sangat gampang caranya, tinggal melihat bagaimana posisi dan kedudukan Allah dalam hati kita.

Dan ketika kita mulai melupakan shalat, melalaikan shalat, hingga meninggalkan shalat, maka itu adalah langkah awal untuk ‘menghapus’ Tuhan dalam list phone book kehidupan kita. Dan bila itu terjadi, tidak ada kemalangan yang menimpa seorang hamba, selain dilupakan oleh Tuhannya. Naudzubillah, ..apalagi yang bisa dilakukan dan diharapkan dari seorang hamba bila Tuhan sudah tidak berkenan lagi untuk melihatnya. Meskipun tetap saja, mau bagaimana pun durhakanya kita terhadap Allah, toh Allah tetap merahmati dan memberikan karunianya. Tidak serta merta langsung dihukum atau dibiarkan begitu saja. Itulah Allah. Yang benar-benar Maha Pengasih kepada seluruh makhluk, tanpa pandang bulu, tanpa kecuali. Tapi kita, sebagai makhluknya, betapa sangat tidak tau diri dan keterlaluan sekali, bila sudah diberi karunia dan rahmat oleh Allah, tetapi masih juga membangkang.

Dalam beberapa penggalan ayat dalam al-Quran, selalu ditekankan perihal “Aqim ash-Shalah”. Terjemahan umum yang kita kenal mengartikan kalimat tersebut dengan “Dirikanlah Shalat”. Kata Prof. Quraish Shihab, ulama pakar tafsir dan kebanggaan Indonesia ini, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa terjemahan tersebut keliru, karena kata “Aqim” tidak terambil dari kata dasar Qama yang artinya berdiri, melainkan dari kata Qawama yang berarti “Sesuatu yang dilakukan secara sempurna dan berkesinambungan.” Ini jelas. Bahwa shalat itu harus dilakukan secara sempurna dan berkesinambungan. Karena antara satu shalat dengan shalat selanjutnya selalu merupakan hubungan rantai dan ikatan yang saling menyambung. Kita bisa menilai baiknya shalat kita bila shalat selanjutnya baik, dalam artian, semisal, bila shalat sebelumnya kita tepat waktu dan menyempurnakannya, maka minimal shalat selanjutnya pun harus sama tepat waktunya, dan lebih baik lagi kualitasnya (bacaannya).

Shalat, tidak hanya harus dihayati ketika proses shalat tersebut tengah berlangsung. Tetapi penghayatan kita terhadap shalat, haruslah komprehensif dan integratif. Menyeluruh terhadap segala aspek kehidupan kita, sehingga makna bahwa “Shalat itu bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar”, (QS. Al ‘Ankabut: 45), bukan isapan jempol belaka. Jika kita maknai maka shalat dari takbir hingga salam, mengajarkan kepada kita untuk tawadhu (rendah hati), dalam ketundukan yang sempurna kepada Allah Swt. Bahwa tidak ada lagi yang menyita perhatian seorang hamba yang sedang shalat, bahkan termasuk dunianya sekalipun, melainkan semuanya terfokus pada Dzat yang sedang di hadapinya, yaitu Allah Swt yang Maha Agung. Lihat saja ketika takbiratul ihram, dengan ucapan Allahu Akbar, sedari awal sudah mengharuskan kita untuk menyadari bahwa selain Allah, tidak ada apa-apanya. Sesuatu yang kecil dan sepele. Bahwa hanya Allah lah yang Maha besar. Tempat kita bergantung dan bertaut, tidak pada selain-Nya.

Shalat juga mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan konsisten. Selalu menjaga amanah dan istikomah dalam kebaikan. Dan itu bukan perkara yang mudah. Bisa dibilang, perkara istikomah atau konsisten itu merupakan perkara yang berat. Bahkan Rasul saja hingga muncul uban di rambutnya tatkala menerima wahyu yang memerintahkan untuk istikomah, saking beratnya untuk bisa istikomah. Karena istikomah itu, mensyaratkan kita untuk stabil dan tetap kontinyu untuk menjalankannya. Terlebih manusia adalah makhluk yang gampang lupa, mudah tergoda dan tergiur dosa, maka menjadi sesuatu yang perlu perjuangan lebih untuk bisa istikomah

Shalat, menyediakan akses untuk bisa ke tahap istikomah itu. Dengan intensitas 5 kali sehari (yang kadang, meski 5 kali banyak dari kita yang masih mengeluh dan merasa, barusan sudah sholat, kok sekarang sudah shalat lagi) dan itu benar-benar berat. Pantaslah Allah berfirman dalam Al-Quran bahwa “Shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (Al-Baqarah: 45-46). Sementara khusyu itu setara tingkatannya dengan mustaqimun, atau orang yang istikomah. Lebih lanjut, padanan kata mustaqim ini bisa pula berarti sesuatu yang lurus (Ihdinas ash-Shirotol Mustaqim ; Tunjukillah kami jalan yang lurus- QS.Al-Fathihah:6). Karena insya Allah, orang yang istikomah dalam kebaikan, merupakan orang yang ditunjuki kepadanya jalan yang lurus, jalan yang insyaAllah, di Ridhoi oleh Allah Swt. Wallahu’alam

Penulis : Sandra Sopian *,  mahasiswa Politeknik Negeri Bandung (Polban) penerima Beasiswa Percikan Iman (BSPI) level 5

 

Ilustrasi foto: google

 

(Visited 55 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment