Tips Kawal Anak Melewati Masa Pubertas

 

Rasanya baru kemarin ayah bunda menyanyikan lagu Nina Bobo untuk menidurkan bayi mungil di dalam pelukan. Tapi tahu-tahu, tanpa terasa, bayi mungil itu sudah tumbuh menjadi gadis cantik ataupun jagoan ganteng yang tengah beranjak dewasa. Sudah pasti akan ada banyak pertanyaan yang melintas dalam benak si praremaja mengenai berbagai perubahan yang dialaminya tersebut. Bagaimana cara ayah bunda mendampingi atau mengawal masa puber sang buah hati secara bertanggungjawab ? Seperti dikutip parenting.co.id berikut tipsnya:

  1. Jujur dan terbuka.

Biarkan anak Anda tahu bahwa Anda selalu ada untuknya setiap saat, untuk membantunya menjawab berbagai pertanyaan yang muncul. Ada baiknya pula menjadwalkan waktu rutin untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, misalnya setiap Sabtu pagi sembari menemani Anda menyiram tanaman. Jawablah setiap pertanyaannya secara jujur dan terbuka. Jika ada pertanyaan yang tidak bisa Anda jawab, konsultasikan pada dokter dalam jadwal kunjungan berikutnya.

iklan donasi pustaka2
  1. Bicarakan lebih awal.

Ketika anak menginjak usia 8 tahun, meski belum memasuki usia puber, tak ada salahnya Anda memulai pembicaraan tentang pubertas. Idealnya, anak perempuan berbicara dengan mama, dan anak laki-laki dengan papanya. Dengan membicarakan masalah ini sejak awal, si praremaja sudah akan siap ketika perubahan-perubahan pada tubuhnya mulai muncul. Pada anak perempuan, hal ini amat berguna terutama untuk mengatasi rasa kaget dan takut ketika muncul menstruasi untuk pertama kali. Untuk mengawali pembicaraan, Anda bisa menceritakan pengalaman sendiri ketika menjalani masa puber.

  1. Ajari langkah praktis.

Kebanyakan anak perempuan lebih tertarik—dan seringkali lebih berguna pula bagi mereka, apabila Anda membicarakan langkah praktis kala menghadapi masa puber. Misalnya, bagaimana cara memilih bra yang pas dan apa yang harus ia lakukan apabila menstruasi muncul ketika ia sedang berada di sekolah.  Akan berguna pula apabila Anda membekali gadis kecil Anda dengan pembalut dan pakaian ganti untuk disimpannya di dalam loker di sekolah, sekadar untuk jaga-jaga. Untuk anak laki-laki, Anda bisa mengajarinya cara mencukur kumis dan (mungkin) memberikannya deodoran untuk mengantisipasi aroma tubuh ”khas” dewasa yang muncul kelak.

  1. Berikan rasa aman.

Anak perempuan terkadang menunjukkan perasaan insecure tentang penampilannya, terutama ketika tanda-tanda pubertas pada tubuhnya muncul lebih awal daripada teman-teman sebayanya. Untuk mengembalikan rasa percaya dirinya, yakinkan gadis kecil Anda bahwa setiap orang memiliki periode pertumbuhan yang berbeda-beda—ada yang lebih awal dan ada pula yang lebih lambat. Tetapi satu hal yang pasti adalah semua anak perempuan akan melalui pula apa yang dialami olehnya.

Dalam Islam sendiri kita kenal dengan istilah masa aqil baligh yang secara fisik maupun psikis tidak jauh beda dengan bahasan psikologis. Pada masa ini seorang anak sudah ditekankan  untuk shalat wajib. Selain itu sudah pula dipisahkan tempat tidurnya dan dijelaskan batasan aurat yang boleh dan tidak boleh terlihat orang lain. Dengan demikian persiapan akil baligh merupakan hal yang mutlak dilakukan orang tua, agar anak segera dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya. Adapun persiapan tersebut meliputi :

  1. Penanaman Iman.

Iman merupakan pendidikan awal yang harus diberikan orang tua. Karena iman merupakan modal dan benteng bagi anak dalam menghadapi ujian hidup. Termasuk didalamnya budaya-budaya tidak islami akan disaring oleh iman. Dengan iman, anak akan selektif dan memiliki pengendalian terhadap berbagai perilaku buruk. Ia menyadari bahwa perilaku buruknya akan merugikan dirinya sendiri dan diperhitungkan di yaumil akhir. Dengan nilai-nilai iman, anak memiliki sensor untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk. Ia akan secara sadar merasakan adanya pengawasan Allah. Disinilah kemudian muncul tanggung jawabnya sebagai seorang individu yang matang.

  1. Penanaman Akhlaq.

Orang tua harus mengajarkan anak adab-adab sejak dini karena mengajarkan adab pada saat anak sudah baligh jauh lebih sulit karena pada tabiat anak pada masa ini sulit diatur. Dengan pengajaran adab, anak akan berperilaku yang seharusnya sesuai dengan yang diajarkan oleh agama. Bagaimana seharusnya perempuan berperilaku, berbicara, bagaimana pula seorang laki-laki mengendalikan nafsunya, menjaga mulut dan kelaminnya, bagaimana adab pergaulan laki-laki dan perempuan, anak sudah terlatih menjaga hubungannya dengan lawan jenis.

  1. Persiapan Aqliyah.

Dalam masa akil baligh, pertumbuhan fisik anak berkembang jauh lebih pesat ketimbang akal dan mentalnya. Sekalipun fisiknya sudah menyerupai orang dewasa, namun akal dan mentalnya masih seperti anak-anak. Maka akal dan mentalnya harus senantiasa diisi dan diasah agar anak terbiasa berpikir, memecahkan persoalan-persoalannya, mengambil keputusan terhadap urusannya, menentukan pilihan hidupnya sesuai dengan ajaran agama. Anak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan tidak tergantung kepada orang tua ataupun orang lain. Dengan kemandiriannya anak akan memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri.

 

Ilustrasi foto: google

 

AQM

(Visited 16 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment