Bermesraan Sebelum Nikah?

pacaran, pria, wanita, pasangan

TANYA :

Teh Sasa, saya mohon saran teteh. Saya seorang wanita berumur 25 tahun. Alhamdulillah saya sudah menemukan calon pendamping hidup. Umurnya setahun lebih muda dari saya.

iklan donasi pustaka2

Dia dan saya sama-sama berprofesi sebagai guru di suatu sekolah. Sebenarnya, kami sudah siap menuju ke jenjang pernikahan. Namun, karena dia mempunyai seorang kakak perempuan yang belum menikah dah tidak mau dilangkahi sehingga keinginan kami untuk menikah belum bisa terwujud. Hal tersebut pun didukung oleh orangtuanya yang berkeras bahwa kakaknya harus menikah terlebih dahulu.

Untuk urusan fisik, alhamdulillah kami masih bisa menjaga. Tapi, saya khawatir dengan hati saya dan juga hatinya. Seringkali kami bermesra-mesraan di SMS atau telepon. Padahal dulu, saya adalah kader dakwah. Saya sama sekali tidak pernah pacaran dan memang dari dulu brprinsip seperti itu. Tapi, hubungan kami kini jadi seperti orang pacaran. Apa yang harus kami lakukan, Teh Sasa? Jazakillah.

 

JAWAB :

Sebelum menjawab pertanyaan ukhti tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu hukum bermesraan sebelum menikah menurut Islam.

Bermesraan sebelum menikah itu tidak ada dalam Islam. Khitbah atau melamar adalah masa perkenalan saat keduanya boleh bertemu dan berbincang-bincang dengan ditemani oleh mahramnya.

Pacaran yang dilakukan oleh anak muda zaman sekarang adalah haram, ukhti. Mengapa? Karena gaya pacaran mereka akan membawa pada perzinaan yang merupakan dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah Swt. Perhatikan keterangan berikut ini.

“Jangan kamu dekati zina. Sungguh, zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 32)

Ayat tersebut tidak mengatakan jangan berzina, melainkan jangan mendekati zina. Mengapa demikian? Karena, biasanya orang yang berzina itu tidak dilakukan secara langsung, tapi melalui tahapan-tahapan seperti saling memandang, saling berikirim SMS, saling telepon, jalan bareng, bercumbu, kemudian baru berbuat zina (hubungan intim).

Dalam hukum Islam, jika sesuatu itu diharamkan, maka segala sesuatu yang berhubungan dengan yang diharamkan itu juga diharamkan. Misalnya minuman beralkohol. Bukan hanya minuman tersebut yang diharamkan, tapi juga yang memproduksinya, yang menjualnya, yang membelinya, yang duduk bersama orang yang meminum minuman tersebut juga diharamkan.
Demikian juga halnya dengan zina. Oleh sebab itu syariat Islam memberikan tuntunan pencegahan dari perbuatan zina karena Allah Mahatahu tentang kelemahan manusia.

Nah, cara pencegahan agar kita tidak terjerumus dalam perzinaan adalah sebagai berikut.

1. Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dilarang untuk berdua-duaan. Nabi Saw. bersabda, “Apabila laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan, maka yang ketiga adalah setan.” Setan juga pernah berkata kepada Nabi Musa a.s., apabila laki dan perempuan berdua-duaan maka aku akan menjadi utusan keduanya untuk menggoda mereka. Zina ini termasuk perbuatan kriminal yang harus dikenai hukuman. Jenis hukumannya hanya ada dua, yakni jilid dan rajam. Bagi pezina ghairu muhson yang dijatuhi hukuman jilid, bisa saja dinikahkan setelah menjalani hukuman sebagaimana diterangkan dalam ayat berikut ini.

“Deralah pezina perempuan dan pezina laki-laki masing-masing seratus kali. Janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegahmu untuk menjalankan hukum Allah jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang beriman.” (Q.S. An-Nūr [24]: 2)

Bila setelah dicambuk mereka masih hidup, maka keduanya diperbolehkan untuk menikah. Tentu saja, ini berbeda dengan pezina muhson (berstatus menikah/pernah nikah) yang dijatuhi hukuman rajam hingga mati. Kesempatan mereka untuk menikah bisa dikatakan hampir tidak ada. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah diceritakan bahwa ada seorang budak laki-laki yang masih bujang mengaku telah berzina dengan tuan perempuannya. Kepada yang bersangkutan, Rasulullah Saw. menetapkan hukuman seratus cambukan dan diasingkan selama satu tahun. Namun demikian, Rasulullah Saw. tidak secara otomatis menghukum sang wanita. Rasulullah Saw. memerintahkan Unais (salah seorang sahabat) untuk menemui wanita tersebut. Jika mengaku, dia baru dihukum rajam (lihat Bulugh al-Maram bab Hudud).

Dalam pandangan Islam, zina merupakan perbuatan kriminal (jarimah) yang dikatagorikan hukuman hudud, yakni jenis hukuman atas perbuatan maksiat yang menjadi hak Allah Swt. sehingga tidak ada seorang pun yang berhak memaafkan kemaksiatan tersebut, baik oleh penguasa atau pihak lainnya. Berdasarkan Q.S. An-Nūr [24]: 2, pelaku perzinaan, baik laki-laki maupun perempuan, harus dihukum jilid (cambuk) sebanyak 100 kali. Namun, jika pelaku perzinaan itu muhson (pernah menikah/masih menikah), sebagaimana ketentuan hadis Nabi Saw. maka diterapkan hukuman rajam.Yang memiliki hak untuk menerapkan hukuman tersebut hanya khalifah (kepala negara Khilafah Islamiyyah) atau orang-orang yang ditugasi olehnya. Jika sekarang tidak ada khalifah, yang dilakukan bukan menghukum pelaku perzinaan itu, namun harus berjuang menegakkan Daulah Khilafah terlebih dahulu.

Yang berhak memutuskan perkara-perkara pelanggaran hukum adalah qadhi (hakim) dalam mahkamah (pengadilan). Tentu saja, dalam memutuskan perkara tersebut qadhi harus merujuk dan mengacu pada ketetapan syara’. Dan, yang harus dilakukan pertama kali oleh qadhi adalah melakukan pembuktian. Dalam Islam, ada empat hal yang dapat dijadikan sebagai bukti, yakni saksi, sumpah, pengakuan, dan dokumen atau bukti tulisan. Dalam kasus perzinaan, pembuktian perzinaan ada dua, yakni saksi yang berjumlah empat orang dan pengakuan pelaku. Tentang kesaksian empat orang, ini didasarkan pada Q.S. An-Nūr [24]: 4.

2. Harus menjaga pandangan mata, sebab mata itu kuncinya hati.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 36 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment