Inilah Bukti Homoseksualitas Itu Tidak Normal dan Menyimpang ( bag.2 )

Oleh : dr. Hanny Ronosulistyo, Sp.OG(K), MM*

 

 

Saat ini homoseksualitas lebih dianggap sebagai “selera” seksual yang berbeda dan sudah dikeluarkan dari daftar penyakit kejiwaan sejak sekitar tahun 1960-an (mungkin sekitar era teori dr. Kinsey).

iklan donasi pustaka2

Klasifikasi dr. Alfred Kinsey

Menurut dr. Alfred Kinsey, sisa manusia 96% yang biseksual itu dimasukkan ke dalam beberapa kelas sesuai derajat homoseksualitas dan heteroseksualitasnya, misalnya kelompok tengah adalah kelompok 50:50. Derajat seksualitas ini tidak berarti sebagai ekspresi seksualitas. Kalau seperti di Indonesia lingkungan heteroseksual lebih kuat, maka aspek heteroseksual masyarakatnya akan lebih terekspresi. Walaupun seseorang berada pada kelompok ekstrem kanan dalam skema Kinsey, yaitu 10% heteroseksual dan 90% homoseksual, akan tetapi karena sejak kecil berkembang di lingkungan heteroseks, potensi homoseksnya yang 90% itu tidak akan berkembang dan bisa saja seumur hidup dia merupakan heteroseks yang baik karena aspek berlawanannya tidak berkembang. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi pada orang yang berada dalam kelompok ekstrem kiri yaitu 90% heteroseks dan 10% homoseks, bila berkembang di lingkungan homoseks, bisa saja terekspresi sebagai seorang homoseks tulen karena aspek heteroseksnya tidak berkembang. Dari teori ini, kita melihat bahwa lingkungan sangat dominan mempengaruhi orientasi seksual manusia. Oleh karena itu dalam agama Islam, pendidikan seks yang pertama dan utama adalah masalah gender.

Akhwat adalah akhwat dan ikhwan adalah ikhwan, dari kecil semuanya harus jelas. Pakaiannya dibedakan, shaf shalatnya dibedakan, pergaulannya pun dipisahkan. Pakaian uniseks yang pernah populer di Indonesia, sebenarnya adalah sesuatu yang terlarang dalam agama Islam.

Hal yang bisa mempengaruhi orientasi seksual

  1. Pada masa anak dan remaja. Kelompok ini sangat membutuhkan atensi dari luar dirinya untuk membantu pembentukan kepribadian. Terkadang secara tidak sadar kita mengemukakan pendapat terhadap seorang anak yang bisa mereka artikan sebagai atensi, misalnya kepada anak laki-laki kita berkata, “Lho, laki-laki, ya? Kok cantik sekali, sih?!” atau misalnya kakak perempuan memakaikan pakaian perempuan pada adik laki-lakinya dan kemudian menertawakannya. Adik laki-laki ini akan membuat persepsi dalam dirinya bahwa mengenakan pakaian seperti wanita akan bisa menarik perhatian orang. Atau misalnya anak perempuan bermain dengan mainan laki-laki, kemudian ada ucapan, “Lho, kok perempuan lebih hebat dari laki-laki ….” ini akan merangsang perbuatan serupa diulanginya karena ia ingin diperhatikan lingkungannya. Dalam dunia hiburan, kesalahan seperti ini justru dibuat menjadi komoditi bisnis, seperti kita kenal beberapa artis selalu tampil sebagai lawan jenisnya di panggung. Bagi dirinya kalau dia sudah “matang kepribadian seksualnya”, hal ini tidak jadi masalah karena hanya merupakan profesi dan bukan orientasi seksual, akan tetapi harus dipikirkan bahwa akibat perbuatannya dia bisa menjadi “trend setter” sehingga remaja akan menirunya, sedangkan kepribadian seksual mereka belum terbentuk, dan hal yang lucu-lucu ini akan menjadi kenikmatan baginya untuk mendapatkan atensi lingkungan dan biasanya berpengaruh pada orientasi seksualnya karena aspek homoseksualnya berkembang.
  2. Pengalaman seks yang pertama. Hal ini sering sangat berpengaruh pada orientasi seks selanjutnya, terutama bila terjadi pada mereka yang belum matang kepribadian seksualnya. Misalnya seorang remaja diajak melakukan kegiatan seks hetero oleh orang dewasa dan tidak menyenangkan, maka remaja itu mungkin akan menolak hubungan seks hetero selanjutnya. Ini bisa berpengaruh pada kehidupan seks dalam pernikahannya atau bahkan akan mendorongnya untuk menjadi homoseks. Ini sering terjadi akibat dampak buruk kekerasan seksual atau perkosaan. Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Hubungan homoseks pada remaja yang tidak menyenangkan bisa saja membuat yang bersangkutan menjadi sangat membenci homoseksualitas. Sebaliknya, bila remaja diajak berhubungan homoseksual dan menyenangkan, kemungkinan besar potensi homoseksual dalam dirinya menjadi sangat berkembang, sedangkan potensi heteroseks (yang mungkin lebih besar) tidak berkembang, sehingga ia tumbuh menjadi homoseksual aktif. Secara mudahnya mungkin bisa disederhanakan sebagai berikut, bila pengalaman pertama:
  • homoseksual tidak menyenangkan * heteroseks pembenci homoseks
  • heteroseksual tidak menyenangkan * homoseks tak mau menikah, pembenci heteroseks
  • homoseksual menyenangkan * homoseks aktif
  • heteroseksual menyenangkan * heteroseks (promiscuous/kendali seks longgar)

Karena itulah maka semua negara harus menerapkan sanksi hukum yang tegas kepada para pelaku pelecehan seksual/perkosaan pada mereka yang di bawah umur (baca: belum memiliki orientasi seksual) dan terutama karena banyak sekali pelecehan seksual terjadi di dalam lingkungan yang tertutup (tahanan/penjara/bahkan asrama yang ketat aturannya) maka mereka yang di bawah umur tidak boleh disatukan dengan orang dewasa.

Kita beri contoh ekstrem misalnya di dalam penjara, bila terjadi aktivitas homoseksual pada orang dewasa di sana, itu mungkin masalah keterpaksaan atau masalah lingkungan saja. Ketika keluar dari lingkungan tersebut, biasanya orang dewasa akan kembali pada orientasi seksualnya semula dan tidak mempengaruhi kehidupan seks pernikahannya, walaupun mungkin ia menikmati hubungan homoseksual di penjara. Hal ini yang mendorong beberapa negara maju, dengan mempertimbangkan hak asasi manusia, membuat kamar khusus. Para tahanan bisa bermalam dengan istrinya untuk waktu yang telah ditentukan. Sayangnya, ini sama sekali tidak diperhatikan oleh  kebanyakan negara berkembang.

Renungan

Homoseks pada pria disebut gay (gembira, ceria) dan pada wanita disebut lesbian (dari kata Lesbos). Kelompok masyarakat ini biasanya menjadi sangat seksual (zina) karena merasa tidak memiliki risiko kehamilan, sehingga sangat berat bagi kelompok ini untuk mengamalkan perintah wa la takrobu jinnah. Karena jabatannya sebagai khalifah, reproduksi merupakan suatu tugas Illahiyah, maka manusia harus berusaha menjaga eksistensinya melalui cara reproduksi tadi. Pada kelompok homoseksual tidak akan ada reproduksi, sehingga perannya untuk menjaga eksistensi tadi nihil. Pengobatan tidak ada karena ini memang bukan penyakit, akan tetapi pencegahannya dapat dilakukan masyarakat terutama dengan mengamalkan Al Quran secara kaffah. Aturan yang digariskan agama Islam secara baik sebaiknya dipelajari dan diamalkan. Pengaturan gender di dalam Islam sudah sangat jelas dan jangan dicampuradukkan dengan paham barat seperti emansipasi, kesetaraan, ataupun hak asasi dalam artian yang sempit. Haruslah dirinci kesetaraan gender karena Allah menciptakan manusia dengan gender yang berbeda, ikhwan dan akhwat. Penyamarataan ikhwan ahwat sama saja bisa menyebabkan kebingungan gender dan bentuknya antara lain adalah berkembangnya potensi homoseksualitas dalam diri. [Habis]

*Penulis adalah dokter spesialis kandung dan pegiat dakwah

 

Ilustrasi foto: google

 

wakaf1 quran

(Visited 23 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment