Inilah Bukti Homoseksualitas Itu Tidak Normal dan Menyimpang (bag.1)

Oleh : dr. Hanny Ronosulistyo, Sp.OG(K), MM*

 

 

Pembagian seksualitas manusia:

iklan donasi pustaka2
  • Heteroseksual, yaitu reaksi seksual antara makhluk berbeda jenis kelamin;
  • Homoseksual, yaitu reaksi seksual antara mahluk sesama jenis kelamin; dan
  • Biseksual, yaitu gabungan antara keduanya.

Homoseksualitas dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu homoseksualitas pada wanita yang dikenal dengan istilah lesbianism dan pada pria yang disebut gay. Homoseksualitas juga terjadi pada hewan. Hewan mamalia biasanya hanya bersatu pada saat “estrus” atau birahi, yaitu pada saat hewan betina subur dan siap untuk dibuahi. Pada beberapa hewan, jantan hanya akan menemani betina sampai anaknya dilepas, hanya sedikit saja hewan yang bersikap seperti manusia, bersatu selama hidup. Pada saat di luar masa birahi tadi, biasanya hewan jantan berkumpul bersama jenisnya, demikian pula yang betina, pada saat itulah biasanya terjadi hubungan homoseksual pada hewan. Hewan yang sangat seksual di Indonesia adalah “bandot” atau domba Garut jantan. Hewan yang satu ini hampir selalu dalam keadaan seksual sehingga selalu berusaha menunggangi domba lain walaupun sejenis. Oleh karena itu lelaki yang senang seksual dengan lebih dari satu wanita sering disebut dengan sebutan seperti domba tadi.

Sejarah menggambarkan bahwa homoseksualitas telah ada sejak zaman dahulu kala. Al Quran menyebutkan kisah Nabi Luth lebih dari enam kali. Nabi Luth dikisahkan dalam cerita Sodom & Gomorah, inilah yang menyebabkan aktivitas seksualitas antarpria disebut Sodomi, atau hubungan kelamin anal yang biasa dilakukan di kota Sodom pada zaman Nabi Luth.

Cerita mengenai homoseksualitas ini berkembang sejak zaman Yunani dan Romawi kuno, bahkan ada cerita yang lebih tua lagi. Di Indonesia sendiri pernah kita kenal tradisi “gemblakan” yang dilakukan para warok (jawara) di daerah Ponorogo Jawa Timur. Tradisi ini bermula dari kepercayaan para warok bahwa jika mereka berhubungan seks dengan lawan jenis akan merusak ilmu yang telah mereka pelajari dengan susah payah. Mereka melamar resmi anak laki-laki muda untuk menjadi “teman” mereka dengan memberikan mas kawin pada orang tuanya. Para orang tua di sana akan merasa terhormat bila anaknya diminta oleh warok-warok terkenal. Dengan masuknya agama Islam, saat ini tradisi ini sudah punah. Para warok Ponorogo sekarang bukan lagi berprofesi sebagai jawara, mereka sudah banyak bergelut di dunia kesenian.

Teori dr. Alfred Kinsey mulai dikenal sekitar tahun 1961, yakni bahwasanya 96% manusia itu biseksual. 2% homoseksual murni dan 2% heteroseks murni. Dalam teori statistik, hal ini dikenal dengan istilah kurva distribusi normal. Bila suatu populasi dikelompokkan, akan terbentuk kurva distribusi pada kedua ujungnya, 2% kanan dan 2 % kiri dianggap sebagai standar deviasi atau abnormalitas. Jadi, sesuai dengan teori dr. Kinsey, yaitu 2% homoseks dan 2% heteroseks dianggap abnormal.

Heteroseks murni tidak normal

Yang dimasukkan ke dalam kelompok heteroseks murni adalah orang yang 100% orientasinya heteroseks. Orang ini tidak mungkin bisa bergaul di masyarakat dan menjadi penyakit masyarakat, seperti juga halnya dengan kelompok homoseksual murni. Mereka tidak bisa berkomunikasi dengan sesama jenis dalam bentuk apa pun. Misalnya kalau ada sesama jenis yang kebetulan memandang kepadanya, dia akan segera tersinggung bahkan marah, akibatnya orang seperti ini tidak mungkin bisa bekerja karena akan terus menimbulkan konflik dengan sesama jenisnya (bila heteroseks murni) dan dengan lawan jenisnya (bila homoseks murni).

Bukti Bahwa Kita adalah Biseksual

Dalam pergaulan sering kita berkontak dengan sesama jenis, kebiasaan cium (pipi) misalnya merupakan hal yang umum pada kerabat dekat atau saudara, ini tidak mungkin terjadi pada kelompok heteroseks murni. Mungkin timbul perasaan jijik atau mau muntah bila ada sesama jenis mencium pipi atau tangannya. Juga misalnya jika menonton sesuatu, tidak mungkin kelompok heteroseks murni bisa menilai (cakep/cantik) sesama jenisnya karena yang ada malah perasaan jijik. Ekstremnya, golongan murni ialah mereka yang melihat dunia hanya sebelah, sebelah menggairahkan dan sebelah menjijikan, karena itu mereka dianggap abnormal. Ini sangat berseberangan dengan biseksual.

Normalkah Homoseksual?

Pada zaman dahulu memang homoseksual dianggap sebagai penyakit kejiwaan. Mereka dibakar atau dihukum sangat keras. Bahkan “pengobatannya” lebih banyak menimbulkan trauma kejiwaan daripada kesembuhan. Cara penyembuhan homoseksual pada zaman dulu adalah sebagai berikut: mereka didudukkan pada kursi (biasanya terikat), kemudian dirangsang secara visual dengan gambar-gambar heteroseks yang seronok disertai dengan perangsangan indra yang menyenangkan seperti misalnya udara yang sejuk, bau wewangian, alunan musik yang disukai, rabaan-rabaan yang halus, diberi makanan kecil yang disukai, kemudian tak lama diganti dengan rangsangan visual seks sejenis (homoseksual) disertai dengan rangsangan indra yang tidak disukai seperti sinar yang menyilaukan, suara-suara yang menyeramkan atau bising yang mengganggu, disetrum dengan listrik atau dipukuli, bau-bauan yang busuk menyengat. Ini dilakukan berulang-ulang sehingga pasien menjadi tidak terangsang lagi pada gambaran visual seks sejenis. Hal ini mungkin hampir sama dengan penyiksaan para tahanan penjara atau tahanan perang. Cara seperti ini sudah dilarang di banyak negara karena dianggap bertentangan dengan kemanusiaan dan trauma kejiwaan yang timbul terlampau besar. [Bersambung….]

 

*Penulis adalah dokter spesialis kandung dan pegiat dakwah

 

Ilustrasi foto: google

 

wakaf1 quran

 

(Visited 26 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment