Berita Buruk Medis

Oleh: dr. Hanny Ronosulistyo,Sp.OG*

(yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan mematikan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (Asy-Syu’ara 26: 78-82)

Seperti yang telah dengan jelas diungkapkan pada Q.S. Asy-Syu’ara di atas, dalam suatu upaya medis, hasil akhir terletak pada kehendak Allah swt. Allah mempunyai rahasia dan kehendak untuk menyembuhkan atau mematikan seorang manusia. Ini merupakan salah satu bukti Kemahabesaran Allah swt. Pencipta dan Penguasa semesta ini.

Jika demikian adanya, layakkah sebuah upaya pengobatan?

Dalam sebuah sekte agama Kristen ada sebuah ketentuan; Para pengikut sekte ini dilarang berobat ke dokter, pengobatan hanya layak dilakukan oleh pendetanya sendiri dengan cara psikoreligioterapi, bahkan caranya pun ada yang hanya lewat telepon. Jadi,  pendeta itu akan membacakan doa dan menyugesti pasien. Allah (melalui tangan pendeta), akan menyembuhkan. Ada juga sekte Kristen lain yang melarang jamaahnya untuk transfusi darah.

Dalam agama Islam, hal semacam ini tentu tidak diperkenankan! Mengapa? karena ada hadis yang berbunyi, “Jika suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran.

Pendeta bukan ahli medis, sehingga kemungkinan kesalahan pendiagnosisan penyakit amatlah besar. Dalam ilmu kesehatan, ada beberapa pembagian kewenangan. Dokter mendiagnosis (mencari penyebab penyakit) dan memberi pengobatan; perawat merawat yang sakit, memberi pengobatan atas saran dokter; bidan menolong persalinan dengan pengawasan dokter; dan apoteker memberikan obat yang diminta dokter melalui pasien. Jadi, kewenangan memberi pengobatan ada pada diri dokter. Dokter berikhtiar untuk mengobati pasien dan meminta keridoan Allah swt. agar ikhtiarnya dikabulkan, yaitu kesembuhan pasien.

Allah menciptakan manusia dengan karakter berbeda. Semua mempunyai kekhususan. Subhanallah. Penanda khusus itu disebut gen. Gen merupakan bagian terkecil yang terletak di dalam inti setiap sel tubuh. Terdiri atas untaian protein dan basa, suatu susunan kimia yang mengatur setiap proses yang terjadi untuk sel tersebut. Saya pernah menyampaikan dalam edisi terdahulu mengenai seorang peneliti yang pernah mengutak-atik rantai protein yang disebut gen ini. Ditemukan bahwa di dalam satu sel, kalau rantai protein ini diluruskan, panjangnya sekitar dua meter. Apabila dari seluruh sel dalam tubuh disatukan, panjangnya mencapai jarak bumi ke bulan

Jadi, akibat dari pengaturan Allah swt. ini, setiap tubuh manusia berbeda. Sekarang, bagaimana ilmu kedokteran bisa mengetahui setiap karakteristik dan perbedaan dalam tubuh? Secara teoretis hal ini bisa dilakukan jika manusia berhasil membuat pemetaan dari semua (berjuta) jenis gen yang ada di dalam tubuh. Contohnya pemenang Nobel Kedokteran tahun ini, mereka berhasil mengindentifikasi sepuluh ribu gen yang mengatur/berhubungan dengan indera penciuman. Dengan ilmu Allah ini, melalui tangan mereka akan berkembang berkembang ribuan atau jutaan wacana untuk penelitian lanjutan. Dapat dipastikan, semuanya akan berakhir pada kekaguman akan kesempurnaan dan keagungan Allah swt. Jadi kalau saat ini kita merasa bahwa ilmu kedokteran tak mungkin bisa membuat individualisasi ilmu sehingga setiap manusia bisa diketahui karakteristiknya dengan pasti, tunggu di masa depan. Insya Allah.

Berita buruk dalam kedokteran itu ada beberapa macam:

  1. Berita kegagalan upaya pengobatan.
  2. Berita ditemukannya proses keganasan atau penyakit lain yang juga belum ditemukan pengobatannya, seperti HIV/AIDS.
  3. Berita terjadinya atau mungkin akan terjadinya suatu kecacatan.
  4. Berita kemungkinan adanya kecacatan anak (misalnya lewat diagnosis USG)
  5. Berita kematian atau menuju mati (tak ada harapan hidup).
BACA JUGA  Lebaran, Mengapa Harus Baju Baru?

Bagaimanakah cara kita menyikapi bila menerima berita buruk semacam ini?

Masalah ini menjadi sebuah topik khusus yang tidak pernah habis dibicarakan dalam forum kedokteran. Apakah dokter sebaiknya diam saja? Memberi tahu langsung saat itu? Memberitahu sesaat kemudian? Tidak memberitahu pasien, tetapi memberitahu keluarga terdekat?

Dokter dikenai aturan Sumpah Dokter, yaitu kewajiban merahasiakan (terutama yang berhubungan dengan aib) pasiennya. Tujuannya agar pasien berani mengemukakan permasalahan yang mungkin berhubungan dengan penyakit dan kesembuhannya. Penulis pernah membuat penelitian mengenai hal ini sekitar tahun 1987. Data yang didapat, dari sekitar 30 calon ibu yang pernah di USG dan didiagnosis akan melahirkan bayi yang cacat, sebagian mengakui bahwa dokter mereka menginformasikan berita ini secara langsung, hal ini menyebabkan para calon ibu menjadi stres padahal mereka masih harus melanjutkan kehamilannya. Sebagian lagi mengaku bahwa mereka baru mengetahui kecacatan bayinya begitu bayi mereka lahir. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mengetahui kecacatan bayi ketika dilahirkan, lebih baik daripada mengetahuinya ketika masih di dalam kandungan. Reaksi setiap individu memang akan berbeda, karena Allah mengatur tubuh manusia secara berbeda. Ada yang berterima kasih telah dibantu, ada yang menangis tak menerima rahasia Allah swt., ada yang shok, diam saja, ada yang marah, bahkan ada yang sampai melakukan tindakan fisik kepada dokter, atau bahkan menuntut dokternya di depan hukum.

Jadi kalau terjadi hal-hal tidak diinginkan, sebaiknya kita merujuk pada Q.S. Asy-Syu’ara ayat 78-82 di atas, dan disertai dengan hadis, “…Beribadahlah seperti kau akan mati besok.”

 

*Penulis adalah dokter spesialis dan pegiat dakwah

 

Ilustrasi foto: google

 

wakaf1 quran

 

 

 

 

(Visited 9 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment