Waspada ! Ortu Kecanduan Smartphone, Berdampak Anak tak Bisa Bicara

Wakil Menteri Pendidikan Inggris, Tristram Hunt, mengingatkan para orangtua agar tidak kecanduan smartphone. Menurutnya banyak orangtua muda yang  lebih tertarik memperbarui status di Instagram atau Twitter, memeriksa ponsel atau belanja lewat internet dibandingkan  mengajari balitanya berbicara dengan pola-pola ujaran berulang dan berirama agar ditiru anaknya.

“Anak-anak yang mulai sekolah tak mampu berbicara dengan benar akibat orang tua mereka terlalu sibuk dengan smartphone atau media sosial ketimbang mengobrol dengan anak mereka,” kritik Hunt seperti dikutip Dailymail belum lama ini.

Hunt mengaitkan kritikannya dengan risiko dampak merokok dalam mobil yang berisi anak-anak. Menurutnya adalah tanggung jawab orang tua terhadap perkembangan keluarga, termasuk kesehatan anak-anaknya.

Munculnya smartphone sebelumnya telah dikaitkan dengan kecelakaan anak-anak lebih banyak di taman bermain karena orang tua tidak mengawasi dengan benar. Tapi Hunt memperingatkan bahwa dampak jangka panjang bisa menjadi lebih signifikan, di mana anak-anak tak mampu berbicara karena mereka diabaikan di rumah. Hunt justru mengatakan masalahnya sekarang sangat serius dimana orang tua bahkan telah berhenti berbicara dengan anak-anak mereka saat di rumah dan lebih nyaman berinteraksi dengan smartphone masing-masing.

“Dampak dari orang tua tidak berbicara dengan anak-anak mereka, melainkan menggulir (scrolling), memeriksa skor sepak bola, memesan di Amazon, dan asyik twitteran – menyebabkan anak-anak sekolah tidak mampu berbicara dengan baik,” imbuh Hunt seperti dimuat dalam artikel untuk Telegraph.

Menurut Hunt, selama ini sekolah sudah terlalu sering diandalkan dalam mengatasi kesenjangan belajar khususnya masalah kemampuan bicara muridnya. Akan tetapi orangtua yang buruk yang (sebenarnya) bersalah. Hal ini, sambungnya, bukan masalah materi semata. Namun hendaknya setiap orangtua mampu untuk berbicara dengan anak-anak mereka secara baik dan benar sejak dini.

Tapi ia menyalahkan masalah budaya pada orang tua yang buruk, yang sering merupakan korban keburukan menjadi orangtua itu sendiri. Mereka tidak mengerti dampak kumulatif dari scrolling layar smartphone mereka daripada terlibat diskusi dengan buah hati hingga minimal usia 6 bulan.

“Kata-kata berirama dan dongeng pengantar tidur anak-anak mungkin kurang menarik bagi orangtua daripada Instagram, tapi sukses jangka panjang anak-anak sebenarnya dapat bergantung pada para orangtua dalam mengajarkan biacara,”tegasnya.

 

Ilustrasi foto: google

 

wakaf1 quran

(Visited 4 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment