Dilema Hamil di Luar Nikah

perselingkuhan

Saya mempunyai sepupu perempuan, sebut saja X yang hamil di luar nikah (MBA: married by ‘accident’). Demi menutupi aib, anak yang dilahirkannya (sebut saja Y) diasuh, tinggal, dan biaya hidupnya ditanggung oleh orangtua X (sebut saja Z) dan setelah itu X pun dinikahkan pasangan MBA-nya. Dari pernikahan tersebut, X dikaruniai anak ke-2 dengan rentang usia dengan Y sekitar enam tahun. Sekarang, usia Y sudah 7 tahun. X dan Y sering bertemu. Apabila bertemu, mereka tidak terlihat seperti ibu dan anak, melainkan adik dan kakak karena Y pun memanggil X dengan sebutan “teteh”. Sampai saat ini, Y hanya tahu Z yang notabene adalah orangtua X adalah orangtuanya.

Dulu, saya sempat membujuk X untuk mengambil hak asuh Y, tetapi hasilnya nihil. Orangtua X yaitu Z tidak mengizinkan karena waktu itu X dinilai belum mampu mengurus Y. Z sebenarnya pernah berkata kepada saya bahwa menurut mereka X pilih kasih alias lebih menyayanyi anak keduanya dibandingkan Y. Z pun berniat untuk mengganti akte kelahiran Y, alias menjadikannya sebagai anak bungsu mereka. Sebenarnya, Z sempat berniat untuk memberi tahu semua masalah ini kepada Y apabila ia sudah dewasa.

Saya ingin yang terbaik untuk keluarga ini, ustadz. Jadi, apa yang sebaiknya saya lakukan? Bagaimana kasus ini di pandang dari ajaran Islam? Jazzakumullah khairan katsir atas jawabannya.

 

Keinginan Anda sungguh mulia. Mudah-mudahan setiap kebaikan Anda berbalas pahala yang berlipat ganda dari Allah Swt. Amin.

Yang dilakukan sepupu Anda, secara syariah, telah melanggar norma-norma Islam. Adanya rasa malu atas peristiwa tersebut mudah-mudahan sedikit banyak dapat mengurangi murka Allah kepadanya. Namun, hal itu tidak berarti bahwa rasa malu tersebut dapat menggagalkan kewajiban sebagai orangtua yang diamanahi untuk mengurus anak dengan sebaik mungkin. Jika dinilai perlu bantuan pihak lain (khususnya orangtua) untuk mengurusnya, tentu tidak dipersalahkan. Namun, jangan sampai pihak yang membantu menjadi pihak yang dibantu.

Melihat kasus sepupu Anda tersebut, saya berpendapat bahwa ada proteksi yang berlebihan dari Z dengan tidak memberikan kepercayaan penuh kepada X untuk mengurus Y. Padahal secara kejiwaan, Y tentu sangat ingin ada dalam pelukan ibu kandungnya. Kalau kemudian Z menilai X pilih kasih, maka hal tersebut dikarenakan akses kepada Y dipersempit.

BACA JUGA  Kriteria Calon Suami Yang Ideal

Sebagai saudara, tentu Anda berkewajiban untuk menyampaikan kepada Z bahwa sebenarnya hak asuh Y ada pada ibu kandungnya yaitu X. Segeralah minta kepada Z untuk melepaskan Y ke pelukan X. Kecuali jika X akan sangat kerepotan atau berhalangan sehingga kalaupun dipaksakan hanya akan membuat Y menderita. Dalam kondisi seperti ini, silakan Z sebagai kakek dan nenek dari Y untuk mengurusnya.

Perlu diketahui bahwa dalam Islam, tidak perlu pengalihan status anak, misalnya anak angkat menjadi anak kandung atau cucu menjadi anak. Karena, status hukum nasab dalam Islam dilihat dari fakta yang sebenarnya dan bukan berdasarkan data administratif. Wallahu a’lam.

***

*  Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 28 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment