9 Tips Menjaga Kadar Ketaqwaan Pascaramadhan

0
112

Grafik kaum muslim untuk melakukan ibadah mengalami kenaikan pesat saat Ramadhan lalu. Pasalnya, di bulan suci tersebut banyak keistimewaan serta janji kemenangan bagi mereka yang beriman. Setiap orang beriman yang taat beribadah di bulan yang penuh keberkahan ini akan diberi banyak pahala yang melebihi pahala ibadah di bulan-bulan lainnya.

Di bulan Ramadhan, dibukalah pintu pengampunan bagi yang mau bertobat meraih ampunan dari Allah. Menurut hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, terdapat lima keistimewaan dalam bulan Ramadhan. Pertama, bulan yang penuh keberkahan; kedua, dibuka pintu-pintu surga; ketiga, ditutup pintu-pintu neraka; keempat, dibelenggu setan-setan; dan kelima, di dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan yang lain. Inilah lima keutamaan yang berusaha diraih kaum muslim di bulan Ramadhan.

iklan

Ganjaran yang begitu besar tersebut, tentu saja menjadi penarik yang cukup kuat bagi kaum muslim untuk beribadah.  Namun demikian, apakah bara semangat beribadah tersebut akan juga tetap menyala di sebelas bulan lain selain Ramadhan? Ternyata jawabannya adalah tidak.

Kobar semangat itu memudar, bahkan bisa saja padam sama sekali,setelah Ramadhan usai. Pada satu atau dua bulan pertama seusai Ramadhan, mungkin kobar semangat beribadah tersebut masih menyala. Tapi apakah bara tersebut tetap berkobar di bulan ketiga atau kelima pasca Ramadhan, tidak seorang muslim pun dapat menjamin hal itu. Pasca Ramadahan, frekuensi ibadah pun akan kembali ke level semula. Kebanyakan umat Islam akan melakukan ibadah seperti biasa dan mungkin hanya ala kadarnya. Ibadah dilakukan sekadar untuk memenuhi kewajiban kepada Allah Swt. Begitulah seterusnya sampai kembali datang Ramadhan selanjutnya dan hal ini terus berulang dari tahun ke tahun.

Mengapa hal ini terjadi? Mungkin semua itu disebabkan oleh keinginan mencari jalan pintas dalam mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya. Ya, gaya hidup yang serba instan dan selalu mengambil jalan pintas saat ini nampaknya juga berpengaruh pada cara beribadah umat Islam. Tak heran jika kemudian pada bulan-bulan selain Ramadhan, mereka hanya mengerjakan ibadah wajib atau mungkin tidak beribadah sama sekali. Masya Allah! Itu adalah sebuah kesalahan yang harus segera diperbaiki.

Nah, kalau mereka saja bisa meramadhankan sebelas bulan di luar Ramadhan, tidak inginkah kita melakukan hal yang sama? Sembilan langkah di bawah ini diharapkan dapat membantu kita dalam mewujudkan nuansa Ramadhan sepanjang tahun.

Langkah 1: Muhasabah
Di sini kita berupaya merenungkan kembali segala amal yang telah kita lakukan. Lakukanlah evaluasi secara total dan kritis terhadap ibadah yang telah kita laksanakan di bulan Ramadhan. Bila kita telah melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap ibadah shaum dan amaliah Ramadhan lainnya yang kemudian diikuti dengan usaha perbaikan atas segala kekurangannya, maka selanjutnya semua kita serahkan kepada Allah Swt. Biarlah Allah Swt. yang menilai segala upaya maksimal kita dalam beramal dan muhasabah (evaluasi). Sikap ini harus pula kita iringi dengan khauf dan raja sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya Ulumuddin. Di sana ia mengatakan bahwa setelah melaksanakan ibadah puasa dan amalan-amalan lainnya, kita harus menyikapinya dengan dua maqam, yaitu, khauf (khawatir) dan raja (harap). Maksudnya, kita takut kalau-kalau ibadah kita tidak diterima Allah dan berharap kiranya ibadah kita diterima-Nya.

Langkah 2: Buatlah Komitmen Bersama Keluarga
Melakukan muhasabah saja belumlah cukup jika tidak ditindaklanjuti dengan komitmen diri serta orang-orang terdekat untuk melanjutkan amalan-amalan positif dan mencegah perbuatan negatif agar tidak berkembang secara individu maupun sosial pada bulan-bulan berikutnya.

Langkah 3: Jadikan Ramadhan Sebagai Turning Point
Memaknai Ramadhan sebagai turning point (titik tolak) untuk senantiasa istiqamah dalam beribadah adalah dengan tidak menjadikan Ramadhan sebagai tujuan akhir. Hal ini akan membantu melestarikan bara spiritualitas Ramadhan. Ramadhan adalah bulan perubahan menuju hal-hal positif serta momen pembekalan mental dan spiritual. Aspek-aspek yang dilatih dalam Ramadhan mulai dari keteraturan dan ketepatan waktu, keseimbangan antara asupan suplemen jasmani dan rohani, kesabaran, hingga kepekaan sosial. Namun demikian, semuanya adalah modal awal yang harus dikembangkan di bulan-bulan selanjutnya.

Langkah 4: Dirikanlah Shalat
Dirikanlah shalat lima waktu secara berjamaah, khususnya Shubuh. Sedapat mungkin shalat berjamaah tersebut dilakukan di masjid. Kalau hal itu belum bisa dilakukan, setidaknya dirikanlah shalat tepat di awal waktu. Prestasi shalat berjamaan di masjid selama Ramadhan hendaknya dapat menjadi pemacu agar kita lebih giat lagi melakukan hal yang sama di luar Ramadhan.

Langkah 5: Tilawah
Kalau masih belum bisa mengkhatamkan Al-Quran dalam satu bulan sebagaimana yang dilakukan saat Ramadhan, paling tidak setiap hari kita menyempatkan diri membaca beberapa ayat disertai terjemahannya. Meski jumlah ayat yang dibaca sedikit tidaklah mengapa karena yang ditekankan di sini adalah konsistensi kita dalam bertilawah. Semoga lambat laun jumlah ayat yang dibaca per hari menjadi lebih banyak dan akhirnya target khatam Al-Quran sebulan sekali di luar Ramadhan pun tercapai.

Langkah 6: Jujurlah Selalu
Selama Ramadhan, kita dilatih dan digembleng untuk jujur, bukan hanya kepada orang lain tapi juga terhadap diri sendiri. Ya, kita dilatih untuk jujur dalam beribadah serta segala aktivitas sehari-hari lainnya. Sifat jujur ini harus terus kita jaga dan pertahankan di bulan-bulan berikutnya setelah Ramadhan karena ini adalah barometer agar kita senantiasa berada di jalan-Nya yang lurus.

Langkah 7: Semangat Bersungguh-sungguh
Bila di bulan Ramadhan kita sanggup dan mampu menahan lapar, menahan kantuk, ‘membanting tulang’ dalam memacu amal ibadah dan aktivitas taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah, maka tidak ada alasan untuk tidak melakukannya di luar Ramadhan. Para pendahulu kita (shalafus-shaleh) pun banyak mencatat kegemilangan di bulan Ramadhan. Mereka bahkan bisa memenangkan perang Badar, membebaskan kota Mekah, bahkan merebut kemerdekaan Indonesia ketika sedang melaksanakan shaum di bulan Ramadhan. Dan kunci dari kekuatan mereka adalah kesungguhan. Kalau kita gagal mempertahankan keistiqamahan ibadah di luar Ramadhan, maka kesungguhaan kita patut dipertanyakan.

Langkah 8: Berkawan dengan Hamba yang Shalih
Mencari dan memilih sahabat atau kawan shalih dalam mendampingi kegiatan keseharian akan membantu melestarikan ketaatan dan ketakwaan kita. Seorang kawan yang sholeh senantiasa mengajak pada kebaikan dan selalu mengingatkan di kala kawannya melakukan kemaksiatan.

Langkah 9: Doa
Kita tidak boleh lupa untuk senantiasa memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Banyak ayat dan hadits yang memberitahukan tentang keutamaan doa dan menyarankan manusia untuk memperbanyaknya. Allah telah menjamin bahwa Ia akan menjawab dan mengabulkan doa hambanya, terlebih hamba-hamba yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan Allah Swt. murka kepada hamba yang tidak pernah memanjatkan doa kepada-Nya seakan ia sudah tidak memerlukan Rahmat dari-Nya lagi. Setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan Tuhannya. Maka sudah selayaknya seorang manusia mengalokasikan sedikit waktu yang dimilikinya dalam sehari untuk berdoa kepada-Nya, walau sekedar dua atau tiga menit. Berdoalah untuk ditetapkan atau ditambahkan kadar ketaatan dan ketakwaan dalam menghadapi hari-hadi di luar Ramadhan.

Demikian beberapa langkah dan kiat yang bisa dilaksanakan guna menjaga kadar ketaqwaan setelah Ramadhan. Setelah sebulan bershaum dengan segala aktivitas ibadah yang penuh dengan spiritualitas dan penyucian diri, seorang hamba akan lahir menjadi manusia baru, yakni manusia yang lebih mengedepankan perilaku religi sekaligus merawat moralitasnya. Manusia baru ini tidak akan membedakan antara sebelas bulan pasca Ramadhan dan Ramadhan itu sendiri. Spirit Ramadhan terus membimbingnya pada sebelas bulan lainnya. Baginya Ramadhan akan tetap ada di sepanjang tahun.[Ali]

 

wakaf1 quran