Mudik, Antara Tradisi dan Kebutuhan

0
144

Ada tradisi unik yang dilakukan kaum muslimin di Indonesia sesudah mereka melaksanakan ibadah shaum di bulan suci Ramadhan, yaitu mudik. Mudik atau pulang kampung ini pun kemudian dijadikan sebagai wahana silaturahim bagi sebagian muslim yang merantau untuk berbagai keperluan, seperti kuliah atau pun kerja di luar kota (kelahiran). Para pemudik yang rata-rata merindukan nilai-nilai kebersamaan ini berkumpul bersama keluarga di hari yang fitri untuk bermaaf-maafan setelah sekian lama tidak bersua.

Untuk bisa berkumpul dengan sanak kerabat tersebut, mereka bersedia menguras tenaga dan biaya yang cukup besar. Fenomena tersebut terlihat dari besarnya jumlah arus pemudik yang membuat jalan-jalan di seluruh penjuru negri nyaris macet total selama beberapa hari sebelum dan sesudah hari Raya Fitri. Mereka rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket bus atau kereta dan tak jarang bahkan ada yang rela merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa mobil.

iklan

Berdesak-desakkan di dalam angkutan umum, berpanas-panasan di atas sepeda motor, dan macet berjam-jam di jalanan pun merupakan hal yang selalu terjadi di setiap Lebaran. Bagi mereka, kerepotan, penderitaan, dan kesulitan yang dihadapi selama dalam perjalanan pulang kampung tidak menjadi penghalang untuk bertemu dengan anggota keluarga di kampung. Dalam kenyataannya, perjalanan panjang selama mudik sering dijadikan cerita untuk dibagikan kepada keluarga di rumah.

Abdul Munir Mulkhan, seorang tokoh dan pemikir Islam, memandang bahwa tradisi mudik di hari raya merupakan ajaran tentang silaturahmi atau menyambung cinta-kasih dan ajaran untuk saling minta maaf bagi seseorang saat menyadari telah berbuat salah pada orang lain. Ajaran silaturahmi dan minta maaf jika berbuat salah memang tidak dikhususkan hanya pada hari raya Idul Fitri yang berlangsung hanya sekali dalam setahun. Begitu pun soal ajaran berbakti atau memohon maaf kepada orangtua atau orang yang dituakan bukan pula dilakukan hanya pada Hari Raya Fitri saja, tapi di setiap saat dan waktu.

Rasulullah Saw. sendiri mengharamkan umatnya yang tidak bertegur sapa dengan saudaranya selama tiga hari. Anjurannya, dalam tempo tiga hari tersebut, silaturahmi harus sudah diperbaiki manakala di antara mereka terjadi perselisihan. Umumnya, sikap saling memaafkan tersebut dilangsungkan dengan tasamuh atau temu muka antara dua pihak yang berselisih paham. Dalam konteks mudik, hal ini bisa dikonotasikan sebagai momentum merajut kembali hati yang luka sesama saudara, kerabat, serta teman lama yang lama tidak bertemu. Sangat mungkin, selama berpisah terjadi selisih paham atau pergunjingan yang dilakukan tanpa dasar yang akurat.

Momentum pertemuan itu bisa dijadikan sarana untuk introspeksi, saling mengoreksi diri, dan kemudian merajut ulang persaudaraan, kekeluargaan, pertemanan, dan jalinan relasi sosial lainnya. Secara fungsional, Rasulullah Saw. memaknai silaturahmi sebagai sarana memperpanjang umur. Nisbat demikian selayaknya tidak diartikan secara harfiah bahwa orang bisa lebih lama hidupnya kalau banyak berkunjung ke teman, saudara, kerabat, dan kenalan lainnya. Barangkali, hadits tersebut lebih tepat diartikan bahwa silaturahmi harus tetap terus terjalin sehinga keberlangsungan hubungan persaudaraan, kekeluargaan, dan lainnya tetap terjaga. Pasalnya, pertemuan saat mudik tersebut bisa dipelopori oleh generasi senior dengan mengajak generasi penerusnya. Dengan demikian, persaudaraan dan komunikasi antar generasi keluarga tetap terjalin. Dalam logika inilah makna silaturahmi yang bisa memperpanjang usia bisa dipahami secara jernih. (Ali)