Maulana Yusuf dan Ghaitsa Z Gymnastiar : Inginkan Anak Hafiz Qur’an di Usia 5 Tahun

0
142

Awal 2015 lalu, masyarakat dibuat haru sekaligus kagum akan sebuah prosesi pernikahan yang langka, unik namun syar’i. Peristiwa itu adalah pernikahan antara Yusuf Maulana (24) dengan Ghaitsa Zahira Shofa Gymnastiar (21). Sebagaimana diketahui, Ghaitsa atau yang akrab dipanggil Icha ini adalah putri ke-4 pasangan K.H.Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dan Ninih Muthmainah (Teh Ninih), yang keduanya adalah perintis dan pendiri Pesantren Daarut Tauhiid Bandung.

Pernikahan yang digelar pada Sabtu (8/3/2015) di kawasan Pesantren Daarut Tauhid Bandung ini banyak mendapat pujian dan rasa takjub, bukan karena perayaan yang megah dan gemerlap. Melainkan karena kesederhanaan acara resepsi dan mahar pernikahan dari mempelai pria (Maulana Yusuf) berupa hafalan Al-Qur’an 30 juz. Kedua mempelai ini sama-sama yakni hafiz dan hafizah alias hafal Al-Qur’an 30 juz.

iklan

Aa Gym sempat menuturkan, banyak hikmah dalam pernikahan putrinya itu. Salah satunya adalah bersatunya dua insan penghapal Al-Qur’an yang dipertemukan dalam ikatan suci. Dalam proses perkenalan (ta’aruf) juga sangat syar’i. Aa Gym sendiri yang memilihkan calon suami bagi Icha setelah dalam istiqarah di tanah suci Mekkah saat menunaikan umroh. Saat itu, Aa Gym berdoa kepada Allah untuk mencarikan jodoh bagi putrinya. Rupanya Allah mengabulkan doa dan permohonan ayah saleh tersebut, dimana selama berada di Mekkah dalam bayangan Aa Gym hanya ada wajah seorang pemuda yang dikenalnya.

Setelah diketahui lebih jauh, rupanya pria yang dipilih Aa Gym untuk anak perempuannya itu adalah pemuda yang sering menjadi imam tahajud Masjid Daarut Tauhid, yang akrab disapa dengan nama ustaz Maulana Yusuf. Ia adalah pemuda yang baru lulus dari jurusan matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Tak ada proses pacaran menuju pernikahan. Bahkan, santri tahfidz Daarut Tauhid itu langsung ditunjuk oleh Aa untuk menikahi putri keempatnya. Aa Gym tidak memilihnya karena latar belakang, melainkan karena kegigihannya mencari ilmu dan ketaatannya kepada Allah. Yusuf sendiri merupakan pemuda sederhana yang berasal dari keluarga sangat sederhana pula di daerah Cirebon. Sang pengantin sama-sama lulusan hafidz Al-Qur’an dari sebuah pesantren di Yogyakarta dan Cirebon.

Pernikahan syari yang mendapat julukan pernikahan Qur’ani ini memberikan banyak inspirasi bagi mereka yang akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Persiapan yang singkat rupanya tak mengurangi niat kedua mempelai untuk menggenapkan separuh agamanya. Sedikit cerita bahwa kedua mempelai ini sama sekali belum pernah mengenal satu sama lain. Tanpa proses taaruf apalagi pacaran. Keduanya hanya saling tahu karena dalam lingkup pesantren yang sama, dijodohkan lalu keduanya menerima. Kini keduanya tengah mempersiapkan dan membangun keluarga Qur’ani. Seperti apa? Simak perbincangan MaPI dengan keduanya yang berlangsung di kawasan Darul Qur’an yang asri dan sejuk :

 

Apa makna keluarga bagi kalian?

Yusuf: Sebelumnya kami mohon maaf jika jawabannya jauh dari yang dipahami oleh para guru-guru kami, ustadz-ustadz kami atau pembaca yang lebih senior. Terus terang soal keluarga kami ini masih harus banyak belajar. Kami baru membangun keluarga sekira tiga bulanan, sehingga perlu pengetahuan dari para senior. Bagi saya, keluarga adalah terhimpunya dua insan dalam ikatan suci karena Allah dan bertujuan untuk ibadah dan melahirkan generasi saleh salehah. Filosofinya ada kata “rumah” dan “tangga”. Makna ini buat kami adalah bersatunya dua insan karena Allah dalam sebuah rumah dimana tempat mencurahkan kasih sayang, beribadah dan membina bersama. Sementara tangga adalah sarana untuk menuju kepada Allah dengan segala kelemahan selaku hamba-Nya. Dengan demikian, keluarga adalah sebuah rumah tangga yang didasari tauhid dengan kalimat-Nya, Laaillahailallah yang lurus untuk mencapai keridhaan kepada Allah. Kami sendiri membangunnya dengan memberi landasan 4 yakni: beriman,beramal saleh,saling menasehati dalam kebaikan,kebenaran dan kesabaran.

Icha: Buat saya keluarga adalah bertemu dan bersatunya dua insan karena Allah kemudian berpisah di dunia dan bertemu atau berkumpul kembali (di akhirat) di surga-Nya. Jika bertemu dan bersatunya bukan karena Allah maka hanya akan berakhir di dunia saja sementara jika bertemu dan bersatunya karena Allah maka insya Allah akan bersama baik di dunia hingga di akhirat kelak.

Makna keluarga sakinah seperti apa?

Maulana: Makna atau kandungan keluarga demikian telah Allah gambarkan dalam QS.Ar-Rum ayat 21 . Kalimat “rahmah” sangat luar biasa maknanya di mana oleh Allah disandingkan dengan kalimat “wamin ayatihi” yang jumlahnya sangat banyak sebagai tanda kebesaran Allah. Keinginan manusia adalah membentuk keluarga sakinah demikian adalah sesuai atau sejalan dengan keinginan Allah. Berpasang-pasangan dalam karunia dan ridho Allah ini sangat penting dimaknai dalam membentuk sebuah keluarga yang ideal. Ya, kalau ideal menurut selera kita atau persepsi kita sebagai hamba tentu tidak ada yang ideal. Namun demikian, semua ini harus melalui proses dimana di dalamnya sudah pasti ada godaan dan cobaan yang harus kita hadapi. Pastinya, contoh keluarga sakinah adalah keluarga Rasulullah Saw dan kita berusaha ingin seperti itu.

Icha: Setuju dengan beliau. Sedikit tambahan saja, sebagai wanita juga kita diamanahi yang namanya rahim. Tentu ini sebuah karunia sekaligus amanah yang besar yang telah Allah berikan hanya kepada wanita saja. Rahim sendiri adalah salah satu sifat Allah, dimana fungsinya sebagai tempat bersemainya serta tumbuh kembangnya janin sebelum lahir ke dunia. Anak-anak keturunan ini harus terus dijaga fitrahnya yakni bertauhid. Kemudian setelah lahir kita dituntut untuk mendidik, mengasuh dan membesarkannya dengan rezeki yang halal sehingga kelak mereka juga akan menjadi generasi saleh salehah. Ini sebuah proses yang panjang dan kami baru saja memulainya.

Nah, kalau untuk membentuk generasi bertauhid atau generasi Qurani itu seperti apa?

Yusuf: Ini sebuah proses yang panjang dan tentu saja tidak bisa mendadak. Proses tersebut saling berkaitan satu sama lain, dimana untuk membentuk atau melahirkan generasi bertauhid sudah pasti kita harus berdasar atau berpedoman pada apa yang telah Allah turun sebagai pentunjuk yakni Al-Quran. Untuk menghasilkan hal itu, maka sebuah keniscayaan jika ia tidak dekat dengan petunjuknya itu sendiri yakni Al-Qur’an sehingga ia dapat bertauhid dengan baik,lurus dan benar sesuai yang telah Rasulullah ajarkan. Ketika sebuah keluarga akan mewujudkan generasi demikian atau istilahnya generasi rabbaniyah maka mutlak ia harus bisa mengenal,membaca,memahami lalu mengamalkan apa yang ada dalam kandungan Al-Qur’an tersebut. Saya kira ini syarat utama yang harus dipenuhi. Sebab, rasanya mustahil jika kita hendak menuju suatu tempat namun kita tidak mengerti atau tidak paham akan pentunjuk yang dapat mengantarkan kita ke tempat yang hendak kita tuju tersebut. Proses untuk bisa dekat dan berinteraksi dengan Al-Qur’an sudah pasti ada tahapannya yakni mengenal, membaca, memahami, menafsirkan, kemudian mengamalkan . Berikutnya adalah mendakwahkan isi Al-Qur’an sesuai dengan yang kita sanggup adalah proses yang harus dilalui untuk melangkah menuju generasi bertauhid tersebut. Dengan demikian, sangat berkaitan dimana generasi Qur’ani terbentuk dari proses bertauhid dan generasi bertauhid terbetnuk dari akhlaq yang Qur’ani.

Untuk mewujudkan itu, tahapannya seperti apa?

Yusuf: Seperti yang telah saya sebutkan, bahwa prosesnya sangat panjang. Kita bisa baca dan belajar sejarah dari generasi sahabat yang juga generasi Qur’ani. Mungkin sekilas saja demikian ,diawali dengan niat adalah mempunyai niat atau azam jauh sebelum menikah bahwa kita harus menjadi keluarga Qur’ani yang akan melahirkan generasi Rabbani. Masa pranikah harus digunakan untuk proses belajar dan mendidik diri sendiri. Sementara masa menikah atau proses memilih pasangan juga tidak bisa sembarangan yang hanya sekedar mengandalkan nafsu kita,akan tetapi mutlak melibatkan Allah dalam memilih pasangan hidup. Ikhtiar tentu ada, namun lebih banyak berserah kepada Allah saja,biar Allah yang memilihkan jodoh untuk kita. Kita harus yakin bahwa pilihan Allah pastinya terbaik bagi kita. Berikutnya adalah membangun dan membina rumah tangga harus didasari keimanan dan ketaqwaan. Saat proses pendidikan dan pengasuhan anak-anak jelas harus mencontoh keluarga Rasulullah yang berdasar pada Al-Qur’an. Insya Allah nanti setelah anak lahir sejak dini akan diperdengarkan ayat-ayat Al- Qur’an, sebelum mampu berbicara maka audio (pendengarannya ) dulu yang kita aktifkan, berikutnya tentang bacaannya, berikutnya visualnya,berikut kinestetiknya.

Icha: Saya mulai saja dari sebelum menikah. Selama masa penantian hingga Allah memilihkan jodoh atau pasangan hidup, saya berusaha untu banyak belajar dan mendidik diri sendiri dulu. Ada sebuah nasehat dari mama (Teh Nini,red) ,”Hiasilah penantianmu hanya mengharap ridho Allah dengan cahaya iman dan cahaya Al-Qur’an, insya Allah engkau akan dipertemukan dan dihimpun dalam jalinan suci,diridhoi dan dalam naungan kita suci yakni Al-Qur’an.” Dari nasehat itu, akhirnya saya berusaha untuk tidak mendekati orang atau sosoknya melainkan tertuju untuk mendekat langsung kepada Allah. Selama masa penantian kita tidak tahu mana yang lebih dulu menjemput,apakah kematian atau jodoh? Kita hanya diminta untuk ikhtiar sehingga selama masa itu kita lakukan yang terbaik saja hanya kepada Allah. Alhamdulillah akhirnya Allah memilihkan jodoh-Nya.

Satu lagi nasehat dari Prof.Dr Ahsin Sakho Muhammad,MA (mantan Rektor IIQ / pengasuh Pondok Pesantren Dar Al Qur’an / dan sebagai Dewan Penasehat Pondok Pesantren Dar Al Tauhid Kabupaten Cirebon ) yang memberi nasehat bahwa wanita adalah ibarat ladang yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin besar dunia. Dimana pemimpin besar dunia akan lahir dari rahim seorang wanita yang kuat imannya, salehah kepribadiannya dan tercahayai oleh Al-Qur’an sehingga anak tersebut akan lahir dari DNA yang bagus,baik maka lahirlah generasi yang baik pula. Beliau juga memberi nasehat yakni berbuat baiklah kepada anakmu sebelum ia lahir. Dari kedua nasehat inilah salah satunya yang memotivasi saya untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an dan berusaha untuk menghafalnya. Intinya kita harus mendidik diri sendiri sebelum anak kita lahir dan kita mendidiknya. Kita harus cerdas bukan hanya untuk mengejar karier, tetapi dalam rangka menyiapkan generasi terbaik. Alhamdulillah meski secara nama sudah dengar dengan ustadz Yusuf, namun selama 3 tahun beliau di DT, baru ketemu dan bicara 3 hari jelang pernikahan. Meskipun satu lingkungan, namun kita tidak bertemu sebelumnya. Alhamdulillah Allah memberi lebih dari apa yang kita minta. Ketika orangtua menawarkan maka saya serahkan semuanya kepada orangtua seutuhnya. ,Saya yakin dan percaya ia juga akan memilihkan yang terbaik buat saya sesuai dengan petunjuk Allah. Kita harus yakin bahwa Allah Maha Tahu segala-Nya,baik yang kita batin maupun yang kita ucapkan. Keyakinan demikian harusnya dimiliki semua muslim khususnya para muslimah dalam masalah jodoh,Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

(Pada awalnya Icha bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Ketertarikannya untuk menjadi seorang hafizah adalah saat usai lulus SMU ia diminta untuk mengantar dan menemani adiknya ke sebuah pondok pesantren. Selama beberapa hari di ponpes tersebut yang Icha dengar hanya lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ia merasa tenang dan damai,sejak saat itu Icha berazam untuk bisa menghafal Al-Qur’an dan melupakan cita-citanya menjadi dokter. Dalam bidang olahraga, Icha tercatat sebagai pemegang sabuk hitam untuk beladiri Tekwondo)

yusuf1

Apa obsesi /cita-cita /harapan besar kalian?

Yusuf: Target kita nanti anak usia 5 tahun sudah hafiz Al-Qur’an, ini juga boleh dibilang mewujudkan motivasi dari ustadz Yusuf Mansur.

Icha: Sekarang sedang fokus pada proses kehamilan yang mau jalan dua bulanan lebih. Dalam proses pendidikan bayi meski masih dalam kandungan akan mendapat pengajaran langsung atau tidak langsung dari orangtuanya. Kita yakin ia (bayi) juga sudah mampu mendengarkan atau merespon apa yang orangtua lakukan atau ucapkan sehingga kita akan berbuat dan berucap yang baik-baik saja.Masa mengandung ini kita isi dengan senantiasa berdoa untuk diberi keturunan yang saleh- salehah. Kesabaran ini mutlak diperlukan,kita sudah belajar untuk menjadi orangtua. Mohon doanya ya semoga proses kehamilan hingga kelahiran yang pertama ini berjalan lancar.

Oya, apa saja agenda yang telah direncanakan untuk Ramadhan?

Yusuf: Sudah pasti Ramadhan tahun ini terasa istimewa. Sebelum menikah, ada hal yang haram untuk dilakukan kemudia setelah menikah menjadi halal namun saat Ramadhan justru yang halal tadi menjadi haram untuk dilakukan khususnya saat siang hari. Kalau dulu saat sendiri mungkin tidak begitu banyak godaan namun setelah menikah akan menjadi lain,terkadang hal kecil bisa membuat pasangan marah dan sebagainya. Untuk itu, hal demikian harus dipersiapkan sebaik-baiknya sehingga tidak sampai merusak pahala shaum. Jelasnya ibadah harus meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya. Istilah kita Allah telah “mengobral” pahala ibadah di bulan mulia ini. Jadi jangan disia-siakan sedetik pun. Kita manfaatkan secara maksimal. Secara pribadi, saya punya target selama Ramadhan ini untuk melancarkan kembali hafalan Al-Qur’an.

Icha: Soal ibadah dan agenda Ramadhan pastinya ikut suami namun sebagai istri tentu hal lain yakni urusan dapur. Saya harus banyak belajar memasak karena salah satu cara membangun keharmonisan keluarga adalah soal masakan sesuai dengan selera suami. Kita yakini hal ini bagian dari ibadah. Saya juga tengah mengandung masa-masa awal tentu suatu tantangan tersendiri baik fisik maupun mental. Ramadhan pertama bersama suami dan hamil pertama di bulan Ramadhan tentu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga, namun tetap kita syukuri saja sebagai sebuah karunia,insya Allah semua lancar.

Apa menu favorit selama Ramadhan ini?

Yusuf: Insya Allah kalau saya gak ribet, bahkan telur ceplok pun jalan.

Icha: Alhamdulillah soal makanan suami punya prinsip no EGP (Es Gorengan Pedes),selama bukan itu insya Allah sudah jalan. Setahu saya menu favoritnya telur,jadi tinggal saya bikin variasi saja. Insya Allah tidak merepotkan, mungkin yang istimewa bukan menu kali ya tapi cara penyajiannya. Meski pun di rumah, namun bagaimana kita sajikan ala restauran dengan ditata yang beda dari biasanya sehingga terasa istimewa.

Pesan buat yang belum atau akan menikah?

Yusuf: Buat para pemuda ikuti saja pesan Rasulullah jika mampu maka menikahlah. Jangan ragu dan jangan tunda jika itu telah datang jodohmu. Pemuda Islam harus berani memutuskan perkara besar termasuk urusan menikah . Dengan menikah, maka akan menyempurnakan agama kita . Menghadapi tantangan zaman yang demikian penuh cobaan dan fitnah ini tiada lain kita selaku generasi mudah Islam harus meningkatkan kualitas diri yakni keimanan dan salah satu untuk aman dari fitnah khususnya dalam pergaulan adalah dengan menikah. Jangan kawatir jika kita masih miskin secara materi maka sesuai dengan janji-Nya ,Allah juga yang akan mengkayakan. Pernikahan akan ada keberkahan,ingat semua akan di uji baik saat ada harta maupun tengah sempit. Namun jika belum mampu atau ada pertimbangan lain yang dibenarkan syar’i maka boleh saja menunda menikah. Meski begitu jangan sampai terjerumus kepada pergaulan bebas yang berpotensi mendekati zina. Yakin saja dengan niat ibadah maka Allah akan membukakan jalan.

Icha: Saya setuju dengan istilah “Dah putusin aja”. Buat rekan muslimah jangan galau dan teruslah berbuat yang terbaik dan mempersiapkan diri. Dekat Allah adalah langkah dan cara terbaik. Buat apa kita menunggu makhluk-Nya, sedang Allah telah menyiapkan yang terbaik buat kita. Intinya, selalu dan selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, jauhi hal yang dapat mendatangkan murka Allah. Soal jodoh, yakin dan percaya saja bahwa Allah telah menyiapkan yang terbaik buat kita.[Iman]