Wakaf Menuai Berkah Dunia Akhirat

 

Dikisahkan, suatu hari Umar bin Khattab ra memperoleh sebidang tanah di wilyah Khaibar. Ia lalu mendatangi Rasulullah Saw dan menanyakan: “Wahai Rasulullah ,sesungguhnya aku telah mendapatkan sebidang tanah yang paling berharga, maka apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?”. Rasulullah bersabda, “Jika engkau menghendaki, wakafkanlah tanah itu (engkau tahan tanahnya) dan sedekahkan hasilnya”.

Kemudian Umar menyedekahkan hasilnya. Sungguh tanah ini tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwariskan, tetapi diinfakkan hasilnya untuk orang-orang fakir-miskin, kerabat, untuk membebaskan budak, untuk kepentingan di jalan Allah, menjamu tamu dan untuk ibnu sabil. Tidak ada dosa bagi yang mengurusinya, jika dia memakan sebagian hasilnya secara ma’ruf, atau memberi makan temannya tanpa menimbun hasilnya. (HR. Bukhari no. 2565, Muslim no. 3085).

Sebagian kalangan ulama mengatakan bahwa kisah yang dilakukan Umar dalam mendermakan hartanya tersebut merupakan kisah pertama yang menjelaskan masalah wakaf dalam Islam. Inilah contoh kisah mulia sekaligus menjadi teladan dari sahabat Rasul dalam mendermakan hartanya di jalan Allah untuk kepentingan ummat.

Sebagaimana banyak diceritakan tentang kisah para sahabat yang berlomba-lomba dalam mendermakan hartanya di jalan Allah. Misalnya ketika terjadi perang Tabuk pada tahun 9 Hijriyah para sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Ashim bin Adiy dan Thalhah bin Ubaidillah mendermakan hartanya dalam jumlah banyak. Sebagian ada yang menyerahkan sepertiga hartanya atau hingga setengah hartanya bahkan seluruh hartanya.

Mereka (para sahabat) berkeyakinan bahwa harta yang sesungguhnya adalah harta yang dibelanjakan di jalan Allah untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Harta yang telah mereka dimiliki dari jerih payah tersebut bukan untuk kesenangan diri sendiri dan keluarga di dunia. Harta yang didermakan ini akan menuai hasilnya di akhirat kelak. Bahkan tidak jarang saat di dunia pun sudah terasa keberkahannya.

Manusia tidak akan selamanya hidup di dunia, maka ketika ajal menjemput terputuslah amalnya. Namun ada tiga amalan yang pahalanya tidak putus yaitu seperti yang disampaikan Rasulullah “Apabila anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR.Muslim 3084)

Dan apa yang dilakukan Umar adalah salah satu bentuk jariyah berupa wakaf yang pahalanya akan terus mengalir selama harta itu bermanfaat. Syaikh Ali Bassam berkata, “Yang dimaksud dengan sedekah jariyah dalam hadits ini adalah wakaf.”

Saat ini di negara kita implementasi wakaf sedang tumbuh subur seiring kesadaran masyarakat terhadap sedekah. Berbagai organisasi wakaf bermunculan seperti Badan Wakaf Indonesia (BWI), Badan Wakaf Alquran (BWA), Rumah Wakaf, Tabung Wakaf serta lembaga wakaf lainnya.

Yayasan Percikan Iman sendiri tidak ketinggalan menyambut positif antusias masyarakat terhadap perwakafan ini dengan menggulirkan program wakaf yaitu Wakaf Al-Quran Terjemah. Program ini bukan seperti program yang telah ada sebelumnya,dimana hanya sekedar pengadaan dan penyerahan Al-Quran kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun lebih dari itu,program Wakaf Al-Quran Terjemah oleh Yayasan Percikan Iman ini disertai dengan pembinaan berikut program pendukung lainnya sehingga program wakaf ini terasa lebih optimal baik jangkauan maupun pemberdayaannya. [Berbagai sumber]

Red: adminmapi

Foto: wikimedia common

 

 

(Visited 83 times, 1 visits today)

REKOMENDASI