Pentingnya dan Potensi Wakaf di Indonesia

0
109
tanah wakaf

 

Suatu hari Umar bin Khathab Ra berbicang kepada Rasulullah Saw mengenai tanah miliknya yang berada di daerah Khaibar. Dalam percakapan tersebut kemudian Rasulullah Saw berpesan kepada Umar agar mewakafkan tanah tersebut untuk kepentingan ummat manusia dengan syarat tidak boleh dijual, diwariskan, dan dihibahkan kepada pihak lain. Dari peristiwa inilah yang dianggap banyak kalangan sebagai cikal bakal ajaran tentang berwakaf hingga sekarang.

iklan

Dalam hukum Islam, wakaf berarti menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama (zatnya) kepada seseorang atau nadzir (penjaga wakaf) baik berupa perorangan maupun lembaga, dengan ketentuan bahwa hasilnya digunakan sesuai dengan syariat Islam. Harta yang telah diwakafkan keluar dari hak milik yang mewakafkan (wakif), dan bukan pula hak milik nadzir/lembaga pengelola wakaf tapi menjadi hak milik Allah yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Di Indonesia sendiri masalah wakaf ini telah diatur dalam UU No 41 Tahun 2004 tentang wakaf pasal 28-31 dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang pelaksanaannya (UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf) dimana pasal 22-27 membolehkan wakaf berupa uang. Seperti dilansir di situs www.kemenag.go.id yang menyampaikan bahwa di Indonesia potensi wakaf uang tunai bisa mencapai Rp 20 triliun pertahun. Sebuah potensi yang tidak bisa dikatakan remeh tentunya. Namun potensi yang bisa menjadi soko guru perekonomian Indonesia ini belum digarap secara maksimal.

Dalam data Kemenag tersebut juga disebutkan Indonesia merupakan negara dalam jumlah kekayaan harta wakaf yang sangat besar. Menurut data di Kementerian Agama tahun 2007 jumlah tanah wakaf di Indonesia 367.531 lokasi dengan luas 2.668.481 m². Jika dibandingkan tanah wakaf ini luasnya sama dengan 2-3 kali negara Singapura. Sayangnya hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan secara produktif dan berdaya guna. Menurut data beberapa lembaga wakaf juga mengungkapkan wakaf yang berupa tanah tersebut masih berstatus “lahan tidur” atau belum termanfaatkan secara produktif.

Sesuai aturan mainnya melalui UU No 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf selain berupa tanah ,wakaf juga juga bisa berupa bangunan bahkan saat ini di Indonesia telah berkembang tradisi mewakafkan harta dalam bentuk uang, logam mulia,usaha,barang bahkan Surat berharga lainnya. Sebagai salah satu institusi keagamaan yang erat hubungannya dengan sosial ekonomi, wakaf tidak hanya berfungsi ubudiyah tapi juga berfungsi sosial. Ia adalah sebagai salah satu pernyataan iman yang mantap dan rasa solidaritas yang tinggi antara sesama manusia. Oleh karenanya, wakaf adalah salah satu usaha mewujudkan dan memelihara hablumminallah dan habluminannas. Dalam fungsinya sebagai ibadah ia diharapkan akan menjadi bekal bagi kehidupan si wakif (orang yang berwakaf) di hari kemudian. Ia adalah suatu bentuk amal yang pahalanya akan terus menerus mengalir selama harta wakaf dimanfaatkan.
Dalam hadisnya yang sudah sering kita dengar,Rasulullah Saw bersabda yang artinya “Apabila manusia wafat, terputuslah amal perbuatannya, kecuali dari tiga hal, yaitu sedekah jariyah, atau ilmu pengetahuan yang dimanfaatkan, atau anak yang saleh “.Para ulama menafsirkan sabda Rasulullah Saw tersebut kalimat “sedekah jariyah” salah satunya dengan kata wakaf.

Sebagai sebuah tradisi, wakaf (charitable endowments) telah dikenal serta di praktekkan masyarakat dunia semenjak zaman Romawi kuno, sebelum datangnya Islam. Wakaf pertama dalam sejarah Islam adalah masjid Quba didekat Madinah yang didirikan oleh Rasulullah pada 622. Para sahabat besar seperti Umar ra, Abu bakar ra, Usman ra, Ali ra, dan diikuti para sahabat lainnya juga telah melakukan wakaf.

Kalau Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan banyak lagi sahabat dan saudara muslim lainnya telah berani mewakafkan seluruh atau sebagian dari harta yang dimilikinya untuk memenuhi seruan serta janji dari Allah Swt. Maka yang muncul dalam benak pikiran kita saat ini adalah sudahkan kita berwakaf atau seberapa besar kita telah berwakaf untuk agama Islam yang kita yakini ini dan tentunya seberapa besar kecintaan seseorang terhadap suatu ajaran akan tampak dan dapat diukur dengan seberapa besar kita berani berwakaf.

Wakaf akan menuai berkah di dunia dan akhirat. Harta wakaf banyak sekali memberikan manfaat kepada fakir miskin, anak yatim, janda, orang yang tidak punya usaha, para pengajar dan penuntut ilmu dan semua lapisan maysrakat yang merasakan manfaatnya.

Mereka tentu saja akan menaruh rasa simpati kepada orang yang mewakafkan hartanya. Mereka akan mendoakan keselamatan dan keberkahan sehingga nama yang mewakafkan hartanya akan terus dikenang. Ini didunia belum lagi di akhirat. Ketika yang mewakafkan hartanya itu meninggal pahalanya akan terus mengalir. Subhanallah begitu hebatnya pahala wakaf. Mari kita berlomnba-lomba untuk berwakaf karena inilah investasi yang hakiki. Yuk,siapkan diri untuk berwakaf. [Dari berbagai sumber]

Ilustrasi foto: google

 

Spandukrevisi