Mendidik Anak Dalam Islam, Prioritaskan Kecerdasan Spiritualnya

 

 

Oleh: Dr. Hj. Marwah Daud Ibrahim, Ph.D
(Intelektual Muslimah)

Siapa yang tidak mau memiliki putra putri yang cerdas? Sepertinya semua orangtua pasti mendambakannya. Anak cerdas berarti anak yang mempunyai masa depan yang cerah dan bisa diandalkan di kemudian hari. Namun begitu, kecerdasan tidak hanya terbatas pada potensi intelektual dan kecerdasan emosional. Kecerdasan spiritual adalah bentuk kecerdasan lain yang harus lebih dikembangkan. Mengapa? Tidak lain karena pengembangan kecerdasan spiritual sejak dini akan memberi dasar bagi terbentuknya kecerdasan intelektual dan emosional pada usia anak selanjutnya. Lemahnya penanaman nilai (spiritual) terhadap anak pada usia dini merupakan awal terjadinya krisis akhlak. Ya, pembentukan akhlak terkait erat dengan kecerdasan emosi dan kecerdasan emosi ini tidak akan berarti tanpa ditopang oleh kecerdasan spiritual sehingga tergambar hubungan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Kecerdasan anak pada sisi spiritual bergantung pada orangtua dan keluarganya sebagai tempat belajar pertama (sekolah dan lingkungan sekitarnya merupakan tempat belajar kedua). Jika keluarga (dalam hal ini orangtua) kurang memperhatikan aspek spiritual, maka dengan sendirinya sulit ditemukan anak yang memiliki kecerdasan spiritual. Tingkatan spiritual pada diri anak pun dapat berbeda-beda bergantung bagaimana pendekatan yang digunakan terhadapnya.

Ya, banyak anak yang melenceng dari ajaran agama karena faktor yang berbeda. Kekurangan kasih sayang dari keluarga, pengaruh pergaulan yang tidak baik, dan kondisi lingkungan sekitar yang kurang kondusif dapat menjadi pemicu hal tersebut. Karena itu, sebagai orangtua, kita harus berhati-hati menjaga anak meski bukan berarti kita menjadi ‘polisi’ bagi mereka. Cukup menjadi sahabatnya yang bila mereka merasa sedih, kita ada untuk memberinya pelukan dan kehangatan. Dan bila mereka merasa senang, kita menjadi luapan kebahagiaannya.

Meski keberadaan sosok ibu tidak terbantahkan sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya, hal tersebut tidak berarti bahwa ayah tidak harus ikut andil dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Dalam sebuah keluarga, suami-istri harus saling bantu-membantu, termasuk dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Kenyataannya, saat ini banyak ibu yang juga merangkap sebagai wanita karier sebagai bentuk aktualisasi talenta yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Di sinilah peran ayah dibutuhkan. Agar pola pendidikan yang diberikan keduanya berjalan seimbang, dibutuhkan komunikasi yang baik demi tercapainya kesepakatan cara atau pola pendidikan yang akan diberikan.

kalender percikan iman 2018

Tentu saja, cara mendidik anak yang ideal dalam Islam adalah dengan mengikuti cara Rasul. Meski demikian, harus ada aturan yang bersifat khusus (bagi keluarga tersebut) yang harus diikuti seluruh anggota keluarga. Orangtua dapat membuat peraturan di rumah dengan melibatkan anak dalam proses pembuatan peraturan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar anak tidak protes terhadap pemberlakuan peraturan tersebut. Beri mereka pengertian mengenai fungsi pembuatan peraturan tersebut.

Kewajiban sebagai seorang muslim (dalam konteks akidah, ibadah, dan muamalah) harus ditekankan sejak usia dini. Adalah kewajiban orangtua untuk memperkenalkan Allah Swt. pada anak di usia keemasannya. Selain itu, ajarkan pula shalat, mengaji, dan ajaran Islam lainnya sebagai pembiasaan agar hidupnya senantiasa berada dalam koridor Islam. Beri anak kesadaran bahwa Allah melihatnya setiap saat. Ajarkan kepada anak untuk menghormati orangtua, menyayangi saudara dan temannya, serta perihal berbagi pada sesama. Kedisiplinan pun perlu dicontohkan oleh orangtua agar bisa menghargai waktu.

Anak menjadikan orangtua sebagai contoh atas segala yang dilakukannya. Ia melakukan proses modeling atau belajar sosial dari yang dilihatnya. Bila ia melihat kasih sayang di tengah keluarganya, maka ia akan tumbuh dengan kasih sayang. Namun sebaliknya, bila ia hidup dengan amarah, cemoohan, dan hinaan, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang egois dan rendah diri. Karena itu, orangtua harus berhati-hati dalam pendidikan anak.

Dalam menggali kecerdasan intelektual anak, setiap orangtua harus mengetahui potensi dasar yang dimiliki anak dan hal itu berbeda satu dengan yang lainnya. Masing-masing anak mempunyai keunikan tersendiri dan tidak bisa diseragamkan. Ada anak yang hebat di bidang akademis, cerdas dalam bersosialisasi, pandai dalam bidang musik, dan lain sebagainya. Sejak kecil, tuntun mereka pada hal-hal yang memang menjadi minat mereka. Selain itu, menumbuhkan minat baca pada anak juga harus ditanamkan sejak dini dengan mengenalkan buku-buku yang sesuai dengan umur mereka demi memperkaya wawasan ilmu yang mereka miliki.

Terakhir, positive thinking mutlak dibiasakan dalam diri anak. Bila anak mengalami sesuatu yang buruk, ajari mereka untuk mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Dengan begitu, mereka akan terbiasa mengambil hal-hal positif dari setiap kejadian dalam hidup mereka. [Disarikan dari hasil wawancara]

Ilustrasi foto: google

Spandukrevisi

 

(Visited 32 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment