Mengenal Sejarah Wakaf

tanah wakaf

DALAM ajaran Islam, wakaf merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Wakaf secara harafiah bermakna “pembatasan” atau “larangan”. Sementara berdasarkan terjemahan bebas Ensiklopedi Tematis Dunia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH), wakaf adalah menahan suatu benda yang kekal zatnya, dapat diambil manfaatnya, dan dipergunakan pada jalan kebaikan.

Oleh karena itu, ibadah dalam bentuk mewakafkan harta tertentu tidak sama seperti derma atau sedekah biasa. Wakaf lebih besar pahala dan manfaatnya bagi diri orang yang memberikan wakaf.  Pasalnya, pahala wakaf itu terus-menerus mengalir kepada orang yang berwakaf selama harta yang diwakafkan itu masih bermanfaat dan dimanfaatkan orang.

Berbeda dengan zakat, ibadah wakaf hukumnya sunah, berpahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi yang tidak melakukannya. Di antara ayat-ayat Al Quran yang mendasari ibadah wakaf adalah surat Ali Imran ayat 92 yang artinya: “Kalian sekali-kali tidak sampai pada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Sejak kapan ibadah wakaf ini sudah dilaksanakan? John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern menyebutkan bahwa ide wakaf sama tuanya dengan usia manusia. Para ahli hukum Islam, menurut Esposito, menyatakan bahwa wakaf yang pertama kali adalah bangunan suci Ka’bah di Makkah, yang disebut dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 96 sebagai rumah ibadah pertama yang dibangun oleh umat manusia.

Dalam praktiknya, ide wakaf ini telah dikenal di masa sebelum datangnya Islam. Selama beberapa abad, kuil, gereja dan bentuk bangunan lainnya didirikan dan diperuntukkan bagi tempat ibadah. Lebih dari itu, para penguasa Mesir Kuno menetapkan tanah untuk dimanfaatkan oleh para rahib. Sedangkan orang-orang Yunani dan Romawi Kuno menyumbangkan harta benda mereka untuk perpustakaan dan pendidikan.

Dalam sejarah Islam, wakaf baru dikenal sejak masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah merupakan perintis amalan wakaf berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Syaibah daripada ‘Amr bin Sa’ad bin Mu’az yang bermaksud:  “Kami bertanya tentang wakaf yang terawal dalam Islam? Orang-orang Ansar mengatakan adalah wakaf Rasulullah.

Harta terawal yang diwakafkan oleh Rasulullah adalah Masjid Quba’ yang dibangun sendiri oleh Beliau  saat tiba di Madinah pada 622M. Lalu  diikuti  wakaf  Masjid Nabawi enam bulan selepas pembangunan Masjid Quba. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw membeli tanah bagi pembinaan masjid tersebut dari dua saudara yatim piatu yakni Sahl dan Suhail seharga 100 dirham

Setelah Rasulullah saw,  orang yang mengeluarkan hartanya untuk diwakafkan adalah sayidina ‘Umar ra yang mewakafkan seluruh tanahnya du Khaibar kepada umat Islam.

Rasulullahsaw bersabda: ”Sesungguhnya Umar ra telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Umar bertanya kepada Rasulullah saw., ”Apakah perintahmu kepadaku yang berhubungan dengan tanah yang aku dapat ini?” Jawab Beliau, ”Jika engkau suka, tahanlah tanah itu dan engkau sedekahkan manfaatnya.” Maka dengan petunjuk Rasulullah itu. lalu Umar ra sedekahkan manfaatnya dengan perjanjian tidak boleh dijual tanahnya, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dihibahkan.”

Imam Syafi’i berkata, ”Sesudah itu 80 (delapan puluh) orang sahabat di Madinah terus mengorbankan harta mereka dijadikan wakaf pula.” (berbagai sumber)

(Visited 36 times, 1 visits today)

REKOMENDASI