Mencetak Generasi Unggul Ala Rasul

0
15



Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Tak ada yang memungkiri ungkapan itu karena memang hal itulah yang akan terjadi. Karenanya, sudah semestinya orangtua memberikan perhatian khusus dalam hal mendidik anak sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam.

Pertanyaannya bisakah orangtua mendidiknya menjadi anak yang berguna di masa yang akan datang? Sebagian orangtua mungkin mengira bisa. Para orangtua pun mengira bahwa setelah anaknya menikah (dan kemudian mempunyai anak) lantas bisa secara otomatis siap menjadi orangtua yang cakap dan baik. Kalau ada orangtua yang berpikir begitu, berarti dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Yang benar, menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman sekarang, mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shaleh adalah tugas yang mahaberat.

Kemampuan menjadi orangtua yang cakap dan baik tidak begitu saja jatuh dari langit, melainkan harus ditempuh dengan banyak belajar. Mereka yang aktif belajar, insya Allah memiliki banyak ilmu pengetahuan tentang bagaimana mendidik anak dengan baik dan benar. Namun, orangtua seperti ini jumlahnya lebih sedikit dibanding orangtua yang tak mau belajar. Kebanyakan dari mereka hanya mengandalkan insting dan berbekal pelajaran dari orangtuanya terdahulu.

Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orangtua yang terkaget-kaget dan kebingungan menghadapi problema mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Bahkan banyak kasus orangtua yang tega membunuh anaknya, pembuangan bayi, penjualan organ tubuh, dan lain sebagainya. Hal itu disebabkan oleh kegamangan orangtua dalam mempersiapkan masa depan anak-anaknya.

Masalah seperti ini semakin hari semakin serius dan semakin parah berkat gempuran budaya jahiliah yang semakin hari semakin masif menyerang keluarga kita. Gempuran itu langsung datang ke rumah kita melalui tayangan di televisi, DVD, internet, telepon seluler, dan media cetak. Dampak negatifnya sudah terasa di sekitar kita. Pada tahun 2010, sebuah LSM ternama melakukan penelitian tentang perilaku seks remaja di beberapa kota besar di Indonesia. Dari penelitian itu diperoleh data, sekitar 70% remaja kita yang berusia 16-25 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah.

Hasil penelitian ini kemudian diperkuat temuan rekaman video di HP yang melibatkan beberapa siswa-siswi SMA yang melakukan hubungan seks di ruang kelas sekolahnya. Belum reda dengan kasus tersebut, beberapa waktu yang lalu kita juga dikejutkan dengan maraknya penyebaran video porno yang melibatkan artis yang menjadi idola para remaja kita.

Semua itu tentu saja membuat cemas semua orangtua. Tapi kebanyakan orangtua cuma sampai di situ (hanya cemas) dan tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk menyelamatkan anak-anaknya.

Pentingnya pendidikan dalam koridor Islam, menuntut kita untuk tahu bagaimana cara mendidik anak dalam Islam. Sudah barang tentu, semua harus dipersiapkan oleh orangtua sejak anak berusia dini. Setiap orangtua tentu menginginkan putra-putrinya menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Hal tersebut tidak hanya dimaknai secara sederhana saja yaitu bahwa anak shaleh dan shalehah itu urusan akhirat. Hendaknya, definisi anak shaleh dan shalehah diperluas dalam konteks mencari kehidupan di akhirat dan juga kehidupan dunia.

Untuk itu, diperlukan suatu usaha yang keras dari orangtua dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya. Sesibuk apa pun seorang ayah mencari nafkah untuk keluarganya, ia perlu bahkan menyempatkan diri mendidik anaknya. Ya, anak tidak seharusnya berada di luar kontrol orangtuanya. Banyak orangtua yang terkadang sibuk mencari nafkah dengan dalih demi kelangsungan hidup keluarga malah lupa hakekat pendidikan yang seharusnya. Memberikan perhatian pendidikan kepada anak hendaknya tidak dikalahkan oleh kepentingan memberikannya materi.

Dalam mendidik, hendaknya orangtua menggunakan pendekatan yang bersifat kasih sayang. Hal ini dapat kita cermati dari panggilan Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa Bunayyaa (Wahai anak-anakku)” Seruan tersebut menyiratkan sebuah panggilan dari orangtua yang penuh muatan kasih sayang dan sentuhan kelembutan dalam mendidik anak-anaknya. Indah dan menyejukkan. Kata Bunayyaa mengandung rasa manja, kelembutan, dan kemesraan, tetapi tetap dalam koridor ketegasan dan kedisiplinan meski tidak berarti mendidik dengan keras.

Mendidik anak dengan keras hanya akan menyisakan dan membentuk anak berjiwa keras, kejam, dan kasar. Kekerasan hanya meninggalkan bekas yang mengores tajam kelembutan anak. Ya, kelembutan dalam diri anak akan hilang tergerus oleh pendidikan yang keras dan brutal. Kekerasan akan membuat kepribadian anak jauh dari kebenaran dan kesejukan.

Kelembutan dan kemesraan dalam mendidik anak merupakan konsep Al-Quran. Apapun pendidikan yang diberikan kepada anak hendaknya dengan kelembutan dan kasih sayang. Begitu juga dalam prioritas utama pendidikan anak dalam Islam (akidah) yang harus disampaikan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Mengapa akidah? Jawabnya adalah karena akidah merupakan fondasi dasar bagi manusia untuk mengarungi kehidupan ini. Akidah yang kuat akan membentengi anak dari pengaruh negatif kehidupan dunia. Sebaliknya, kalau akidah lemah maka tidak ada lagi yang membentengi anak dari pengaruh negatif, baik dari dalam dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat di sekitarnya.

Akidah adalah modal dasar bagi anak menapaki kehidupan. Dapat dibayangkan apa yang terjadi jika seorang anak tidak mempunyai akidah yang kuat. Sudah hampir dapat dipastikan anak akan dengan mudah terserang berbagai virus-virus kekejian, kemunkaran, kemunafikan, dan kemaksiatan kepada Allah, imunitas keimanan yang melemah, dan pada akhirnya anak terjebak dalam kelamnya dunia. Ya, mereka akan mudah terbawa arus deras gelapnya kehidupan, tenggelam dalam kubangan kemaksiatan, dan kegersangan hidup serta kesengsaraan batin.

Kalau kita perhatikan orangtua zaman sekarang, tidak banyak yang menekankan pendidikan akidah kepada anak-anaknya. Orangtua tidak merasa sedih dan takut kalau anaknya terjebak kepada keimanan yang rapuh. Orangtua juga tidak pernah mengeluh kalau anaknya tidak bisa membaca serta menghafal Al-Quran. Mereka justru akan marah kalau anaknya tidak pergi les matematika, fisika, ataupun komputer. Orangtua lebih khawatir kalau belum membayar uang les matematika daripada iuran mengaji. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sikap orangtua terhadap pendidikan anak masih bersifat tebang pilih dan terkesan berat sebelah.

Jadi, sudah saatnya orangtua bangkit dan melaksanakan kewajiban utamanya terhadap anak, yaitu memberikan perhatian, pengawasan, dan pendidikan yang baik agar kelak mereka menjadi generasi yang dapat memberi manfaat bagi orangtua, bangsa, negara, dan agamanya. [Ali,pembaca mapionline tinggal di Ibaraki Jepang]

 

Ilustrasi foto: google

 

Spandukrevisi

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini