Membangun Keluarga Islami Dengan Saling Memuji

0
112

 

Oleh: Netty Prasetiyani*

iklan

Bangga, senang, merasa dihargai, dan percaya diri. Begitulah aura perasaan positif yang kita rasakan saat menerima pujian. Dan, memang sudah menjadi kodrat manusia senang dengan pujian. Rasanya, tidak berlebihan bila ada ungkapan yang menyatakan bahwa hidup ini terasa hampa bila tanpa pujian. Pujian mengandung pesan perhatian, penghargaan, dan pengakuan yang amat diperlukan oleh setiap insan agar tercipta kepribadian positif.

Ketika Suami Istri Saling Memuji
Pujian menjadi bagian yang penting dalam menumbuhkan keharmonisan hubungan suami istri. Mustahil tercipta keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah bila di dalamnya tidak ada pujian. Maka, rumah perlu menjadi tempat pertama untuk menebarkan pujian sebelum kita memuji orang lain di tempat kerja. Dan, saling memuji antara suami istri adalah awal dari pembiasaan memberikan pujian di rumah.

Rasulullah Saw. sendiri adalah sosok suami yang sangat memperhatikan, menjaga, dan memberikan cinta kepada istrinya seutuhnya. Rasulullah sering memuji istrinya dengan panggilan yang menyenangkan. “Wahai si pipi kemerah-merahan” adalah contoh panggilan yang selalu beliau ucapkan tatkala memanggil Aisyah.

Praktik memuji yang dilakukan Rasulullah Saw. itu semata-mata dilakukan dengan tulus. Dan, hanya pujian yang tulus yang mampu menghadirkan nuansa romantis di antara suami istri dalam rumah tangga. Saling memuji antara suami dan istri juga bagian dari pendidikan teladan untuk anak-anak di rumah. Budaya menghargai dan memuji semata-mata untuk menghadirkan kepribadian positif anak-anak sehingga orangtua tidak begitu sulit untuk membentuk dan membina jiwa mereka.

Dalam Islam, perempuan (baik sebagai istri maupun ibu), memiliki peranan besar dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Kelembutan istri mampu menghadirkan hubungan harmonis. Berkata-kata lembut dan memuji suami adalah hal yang amat penting ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Urusan puji memuji bukan hanya spesial buat kaum wanita. Suami di rumah juga pada dasarnya butuh akan pujian. Pujian menandakan suatu penghargaan terhadap kelebihan atau usaha jerih payah tiap individu. Sudah jadi kodratnya, manusia itu suka dihargai dan berharap sekali setiap orang menghargai, terlebih istri tercinta.

Reaksi suami ketika dipuji pun tak beda jauh dengan para istri. Tersenyum, tertawa, malu-malu, atau yang lainnya sebagaimana umum terjadi pada wanita. Namun begitu, pujian harus dilakukan dengan sewajarnya atau tidak berlebih-lebihan. Karena pujian yang berlebihan bias mengarah kepada syirik. Sebab Allah Swt. tidak suka pada orang yang berlebihan, apalagi urusannya memuji selain kepada-Nya.

Janganlah kalian mengagungkanku seperti yang diperbuat orang Nasrani terhadap Isa bin Maryam, karena sebenarnya aku tidak lebih dari hamba Allah. Sebut saja aku ini hamba Allah dan rasul-Nya.” (H.R. Bukhari)

Sebut saja dalam urusan pekerjaan. Istri bisa memuji suami saat dia curhat atas keberhasilannya dalam tugas. Peluklah dia dan bisikkan kata-kata mesra, seperti “Umi amat bangga sama Abi” atau lain sebagainya. Cium suami sebagai tanda terima kasih atas pengorbanannya untuk membahagiakan keluarga.

Atau, saat suami membantu pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak-anak. Istri boleh (bahkan harus) memuji suami. Sebagai penghargaan, istri dapat menghadiahi suami sesuatu yang memang menjadi kesukaannya; baik berbentuk masakan, membuatkan minuman dengan santun dan mesra sembari mengatakan hal-hal yang membuat suami senang.
Hak suami istri untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan penghargaan melalui berbagai bentuk pujian dan sanjungan harus seimbang. Dalam Al-Quran Allah Swt., berfirman , “…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf...” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 228)

Buah Hati pun Perlu Dipuji
Budaya memuji sebagai penghargaan dan penggugah ghirah, perlu diteladankan kepada anak-anak. Dalam ingatan setiap anak selalu terdapat catatan lengkap tentang hubungan mereka dengan orangtuanya. Catatan kebahagiaan, perhatian, dan kasih sayang dalam pikirannya akan memengaruhi perilaku dan sikapnya.

Pujian tidak selamnya berbentuk perkataan. Pujian bisa berupa pemberian hadiah atau bahasa tubuh yang menenteramkan, seperti kecupan dan pelukan. Rasulullah pernah mengecup Hasan bin Ali (cucu beliau), sedangkan di sampingnya duduk Aqra’ bin Habis At-Tamimi. Lalu Aqra’ berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, namun aku tidak pernah mengecup salah seorang pun dari mereka. Kemudian Rasulullah memandang kepadanya seraya bersabda, ‘Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.’” (H.R. Bukhari Muslim)

Pujian terhadap anak memiliki pengaruh yang sangat dominan terhadap jiwanya. Anak-anak memiliki kecenderungan akan menggerakkan perasaan dan indranya selama pujian atau sanjungan tersebut diberikan pada waktu dan tempat yang tepat serta wajar atau tidak berlebihan. Jiwanya akan menjadi riang dan juga senang dengan pujian ini untuk kemudian semakin aktif dalam hal positif.

Rasulullah Saw. sebagai manusia yang mengerti betul tentang kejiwaan manusia, telah mengingatkan akan pujian yang memberikan dampak positif terhadap jiwa anak. Jiwanya yang akan tergerak untuk menyambut panggilan dan melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Rasulullah Saw. pernah memberikan pujian kepada seorang anak yang belajar bahasa Arab dan bahasa Suryani untuk membantu Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw. memuji anak tersebut dengan mengatakan, “Dia adalah sebaik-baik anak muda.”

Demikianlah, Rasulullah Saw. telah mengajarkan kepada kita cara menghargai dan membahagiakan anak-anak dalam rangka mendidik perasaan dan kecenderungannya. Dengan memberikan penghargaan berupa pujian, belaian kasih sayang, menciumnya, mengusap kepalanya, memberi hadiah, dan masih banyak lagi.

Hal ini bukan berarti Islam tidak memperbolehkan kita memberikan hukuman kepada anak. Bukan berarti pula bahwa Rasulullah tidak pernah marah atau tidak pernah memberikan ‘pelajaran’ atau hukuman kepada anak-anak. Dalam beberapa hadits, dari Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Hasan bin Ali pernah mengambil sebiji kurma dari kurma sedekah dan kemudian hendak menyantapnya. Seketika itu pula Rasulullah bersabda, “Kakh…Kakh… Buang! Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak makan barang sedekah?!”

Ummu Salamah juga pernah mengatakan, Rasulullah pernah melihat salah seorang anak kami yang bernama Aflah. Ketika sujud, dia suka meniup tanah (pasir), maka beliau menegurnya dengan lembut, “Wahai Aflah, tempelkan mukamu ke tanah.” (H.R. Tirmidzi)
Islam tidak melarang orangtua memberikan hukuman secara fisik kepada anak ketika teguran halus tidak membuahkan hasil. Tentu saja, pemberian hukuman tersebut harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Pada tahap awal, Rasulullah Saw. memerintahkan kepada para sahabat untuk menakut-nakuti si anak dengan menggantungkan cemeti, hanya sekadar untuk memperlihatkannya saja agar si anak bergegas untuk memperbaiki diri, berlomba untuk berpegang pada yang benar, serta segera memperbaiki perilakunya. Ibnu Abbas menyatakan, “Gantungkanlah cemeti yang bisa dilihat oleh keluargamu agar hal itu menjadi peringatan bagi mereka.” (HR. Thabrani)

Tentunya, bentuk peringatan yang ditujukan kepada anak-anak perlu disampaikan di waktu yang tepat dan dengan santun pula. Bentuk marah yang diiringi dengan kecupan mempunyai peran yang sangat efektif dalam menggerakkan perasaan dan kejiwaan anak, juga mempunyai peran yang besar dalam menenangkan gelombang amarahnya.

Dengan kecupan akan lahir pula rasa keterikatan yang erat di dalam mengokohkan hubungan orangtua dengan buah hati. Kecupan merupakan pujian jiwa yang akan menenteramkan hati sang anak, melonggarkan dadanya, serta menambah hangatnya interaksi mereka dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dalam beberapa hadis dapat kita temui bagaimana Rasulullah Saw. menyentuh perasaan anak dengan cara membelai kepala atau pipi mereka sehingga mereka merasa mendapatkan sentuhan nikmat kasih sayang dan kelembutan. Bahkan, pujian dalam bentuk penghargaan itu menjadi bagian pembentukan kepribadian islami.

Bentuk lain dari pemberian penghargaan adalah pemberian hadiah yang memiliki pengaruh baik terhadap jiwa, terutama pada anak-anak, asalkan diberikan secara tidak berlebihan. Rasulullah bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (H.R ath-Thabrani). [Disarikan dari hasil wawancara]

*Pembina Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Jabar , Ketua P2TP2A Prov.Jabar

Ilustrasi foto: google

 

Spandukrevisi