Jurus Jitu Mengendalikan Amarah

0
43

Oleh:  K.H. Abdullah Gymnastiar



Bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat ketika marah? Lalu apa yang harus kita lakukan ketika marah melanda kita?

iklan

Pertama, andaipun memang harus marah, maka marahlah dengan cara sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yaitu marah yang benar, tegas dan santun. InsyaAllah, marah dengan cara yang demikian akan memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang tengah dihadapi.

Kedua, bersikaplah tawadu dan jangan banyak keinginan. Mengapa? Karena di saat kita banyak keinginan, maka akan banyak sekali kemungkinan-kemungkinan kita akan merasakan kekecewaan yang berlanjut kepada kemarahan, yaitu, saat keinginan-keinginan kita itu tidak terpenuhi.

Bukan berarti tidak boleh memiliki keinginan, melainkan maksudnya adalah bahwa kita harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan. Itu karena tidak setiap keinginan kita akan terwujud. Semakin ingin dihargai, dihormati, dipuji, dikagumi, dibalas budi, akan semakin sering sakit hati dan ngambek.

Ketiga, ucapkanlah “`A’udzubillahi minasyaithaanirrahjiim” artinyaAku berlindung kepada Allah, dari godaan syaitan yang terkutuk’. Karena kemarahan itu adalah bentuk hasutan setan.

Sulaiman Ibnu Sard r.a. meriwayatkan, “Pernah dua orang yang saling mencerca satu sama lain di hadapan Rasulullah Saw. Sementara itu, kami sedang duduk di sisi beliau. Salah seorang dari mereka menghina yang lainnya dengan diiringi kemarahan, hingga merah mukanya. Maka, Rasulullah Saw. bersabda, “Aku mengetahui suatu kalimat yang jika diucapkan olehnya (orang yang sedang marah), maka akan hilang kemarahannya. Hendaklah dia berkata, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk).” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Keempat, diamlah sejenak. Jangan bereaksi dahulu ketika amarah terasa bergejolak karena akhlak itu adalah respon yang spontan. Sebagai contoh, saat kita keluar dari masjid dan kita mendapati sandal kita raib dari tempatnya, ada orang yang secara spontan langsung mengungkapkan kejengkelan dan kemarahannya bahkan dengan kata-kata yang tidak baik. Dalam contoh situasi seperti ini, maka sebaiknya sikap yang kita lakukan adalah menahan diri untuk bereaksi secara spontan.

Lebih baik diam sejenak sembari berpikir, “Ah barangkali sandalnya tertukar” atau, “Oh barangkali sandalnya sedang dipinjam sebentar oleh seseorang yang tidak sempat memohon izin karena mendesak dan tidak tahu siapa pemiliki sandal itu” atau, “Oh barangkali sandalnya memang hilang berarti tanda akan punya sandal baru”. Toh, tidak mungkin jika hal kehilangan itu menyebabkan dirinya jadi tidak punya sandal seumur hidupnya.

Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila di antara kalian marah maka diamlah.” Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallamucapkan sebanyak tiga kali.” (H.R. Ahmad)

Kelima, sesuai dengan sunah Rasulullah Saw., apabila kita sedang dalam keadaan marah yang tidak juga bisa reda dengan sikap diam, maka apabila keadaan kita sedang berdiri, duduklah. Jika dengan duduk masih juga belum bisa reda, maka berbaringlah. Tentu saja bukan berarti harus berbaring di sembarang tempat. Maksudnya adalah, ketika amarah masih belum juga reda, carilah situasi yang lebih bisa menenangkan dan menentramkan hati.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah duduk. Jika masih belum reda marahnya, maka hendaklah berbaring.” (H.R. Ahmad)

Hal ini karena marah dalam keadaan berdiri lebih besar kemungkinannya untuk melakukan keburukan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh aman daripada duduk dan berdiri.

Keenam, ambillah wudu. Air wudu insya Allah akan menenteramkan hati yang panas dibakar amarah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya, kemarahan itu berasal dari setan. Dan setan tercipta dari api. Dan sesungguhnya, api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah seorang di antara kalian marah, maka berwudulah.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

Sahabatku, untuk menghindari letupan amarah, kurangilah keinginan-keinginan dan kurangi juga keinginan untuk mendapatkan segala hal yang sempurna. Orang yang senantiasa ingin mendapatkan segala hal yang sempurna biasanya jauh lebih sensitif untuk terpancing amarah. Mengapa? Karena, hakikatnya di dunia ini memang tak ada yang sempurna. Selalu ada saja kekurangan dalam hal apapun.

Untuk menjadi orang yang mampu mengendalikan amarah, yang harus kita miliki adalah tekad untuk benar-benar mau belajar mengendalikannya. Selain itu, kita pun harus tahu saat-saat paling sensitif kita mudah marah. Pada saat inilah tingkatkan kesadaran kita untuk tidak marah dan menghindari kemungkinan-kemungkinan terpancingnya kemarahan.
Setelah tadi kita membahas panjang lebar bagaimana cara mengendalikan amarah yang ada di dalam diri kita. Lalu bagaimana cara kita menghadapi orang-orang yang pemarah? Pahami apakah orang ini memang memiliki karakter yang mudah marah atau tidak. Jika memang itu sudah menjadi karakternya, maka kita bisa ketahui apa saja hal-hal yang bisa mudah memancing kemarahannya sehingga kita bisa menghindari hal-hal yang berpotensi meletupkan kemarahannya.

Amarah adalah sikap yang negatif. Tetapi apabila amarah itu mendekatkan diri kita kepada Allah Swt., maka itu adalah amarah yang positif. Sebelum memeluk Islam, ‘Umar bin Khattab r.a. adalah orang yang sangat temperamen dan keras. Tetapi, setelah masuk Islam, sikapnya yang seperti demikian itu disesuaikan dengan ajaran Islam. Sehingga dampak yang terjadi sungguh sangat luar biasa terhadap perkembangan Islam itu sendiri.

Marahlah dengan marah yang bisa menjadi amal saleh, yaitu seperti marah ketika kebenaran diinjak-injak, marah ketika keluarga dinistakan, marahlah ketika Islam dinistakan, marahlah dalam rangka membela dan menegakkan kebenaran. Kemarahan dalam membela kebenaran seperti ini adalah ibadah.

Akan tetapi, kemarahan seperti demikian tidak boleh membuat kita menjadi orang yang zalim. Tetaplah segala sesuatu harus pada tempatnya. Bahkan di dalam ajaran Islam, dalam pertempuran sekalipun tidak boleh ada kezaliman. Segala hal memiliki koridornya. Demikian juga dengan kemarahan. Rasulullah Saw. telah mencontohkan bagaimana semestinya seorang muslim sejati menyikapi amarahnya. [Sumber: smstauhiid]

Ilustrasi foto: google

Editor Bahasa: Santy

Spandukrevisi

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini