Tak Selamanya Lajang Berarti Ada yang Kurang

muslimah

TANYA :

Ukhti 1:Teh, saya lagi resah dan gelisah, nih. Ke mana dan di mana saya harus menjemput jodoh saya? Usia saya 33 tahun dan adik-adik saya sudah menikah semua. Terkadang, saya jadi minder,merasa ada yang kurang. Menurut Teteh, saya mesti gimana? ikhtiar apa yang harus saya lakukan? Ditunggu jawabannya, ya Teh…”

iklan donasi pustaka2

Ukhti 2: “Teh, saya seorang wanita yang sudah bertitel sarjana. Meski berpendidikan tinggi, saya juga seorang wanita yang rindu memiliki keluarga dan mengabdi kepada anak dan suami. Saya suka iri melihat Mama yang begitu sayang dan hormat kepada Ayah saya, begitupun sebaliknya. Mama sangat memperhatikan anak-anaknya, walaupun mereka sudah dewasa. Mama saya yang SD saja tidak tamat berhasil membesarkan anak-anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ya, saya suka iri dan merasa diri ada yang kurang. Dalam hati saya sering bertanya, ‘kapan ya saya punya keluarga yang baik seperti Mama dan Papa?’ Duh… jadi melow nih. Maaf, ya Teh…”

JAWAB :

Ukhti-ukhti yang tengah galau yang dirahmati oleh Allah Swt., kehidupan para lajang sebenarnya tidak harus terlalu dipermasalahkan. Hidup lajang juga sebenarnya bisa menyenangkan. Karenanya, Teteh berdua jangan terlalu bersedih. Tersenyumlah, sebab status lajang tidak membuat ukhti berdua menjadi serba kekurangan. Meskipun benar, semua orang merindukan sebuah hubungan cinta, namun tidak ada alasan untuk tidak menjalani kehidupan normal yang dinamis.

Nah, berikut saya beri sejumlah tips menjalani hidup lajang, namun tetap bahagia.

1. Berpikir positif mengenai cinta. Bahwa cinta pasti akan menemukanmu, ukhti.
Tidak perlu memusingkan status menikah atau lajang. Yang penting, mampu menjaga sikap agar tidak bertentangan dengan syariat Islam, menjaga diri dari fitnah, serta memiliki pola pikir yang positif. Jangan merasa kesepian dan tidak dapat menemukan orang yang tepat yang bersedia untuk berteman. Lebih jauh lagi, suatu saat (Insya Allah bila sudah waktunya) akan ada yang mau berkomitmen menjadikan ukhti sebagai istrinya. Jika berpikir cinta tidak akan menemukan ukhti, maka hal Itu akan terjadi. Tetaplah pada koridor berpikir bahwa waktu ada dua, dunia dan akhirat. Jadi, tidak masalah apakah doa ukhti untuk dipertemukan dengan jodoh di dunia ini sekarang atau nanti di akhirat kelak.

2. Selalu bersyukur atas keadaan yang tengah dijalani.
Hal sederhana yang mampu mengubah hidup seseorang adalah selalu bersyukur atas yang dimiliki sekarang. Selalu bersyukur atas kenikmatan hidup, seperti menikmati sinar mentari pagi hari, menghirup secangkir teh panas, akan berdampak positif pada diri ukhti. Bila ukhti berpikir tidak bisa bahagia bila sendirian, maka hal itulah yang akan terjadi. Perlu diingat bahwa ukhti memiliki pilihan dalam mendefinisikan kebahagiaan.

Senantiasa bersyukurlah atas udara segar yang dihirup setiap hari dan menghargai pemandangan di sekitar ukhti. Salah satu hal terbaik menjadi lajang adalah ukhti mempunya waktu untuk introspeksi dan menemukan kebahagiaan sejati bersama cinta Allah Swt. Belajarlah menghargai yang ada di sekitar ukhti dan dekatkan diri kepada-Nya dengan membaca Al-Quran sesudah shalat, sebelum tidur, atau saat Tahajud.

3. Sibukkan diri dalam kegiatan dalam lingkungan yang positif.
Setelah sekian lama melajang, ukhti tentu merasa sendirian dan tidak diperhatikan. Ini tentu berpengaruh pada kualitas hidup ukhti. Pasalnya, ukhti merasa akan mendapat perhatian bila menjalin hubungan dengan seseorang. Padahal, banyak orang di sekeliling yang tentu peduli pada ukhti. Umumnya, dalam suatu komunitas, sesama anggotanya memiliki hubungan yang sangat dekat sehingga antar-anggota akan saling peduli dan mendukung satu sama lain. Cobalah ukhti aktif di lingkungan yang memiliki kesamaan interes. Dengan demikian, ukhti dapat menikmati hidup tanpa stres serta dapat mengatur kadar emosi. Berpegang pada kemarahan dan menyalahkan keadaan hanya akan meracuni hidup ukhti. Di komunitas ini, latihlah diri agar memiliki sikap luwes serta mudah beradaptasi dengan lingkungan sosial. Tekankan pula kepada diri bahwa status tidak menikah karena belum datangnya jodoh bukanlah aib atau penyebab tidak lengkapnya hidup ukhti.Yang penting, pandai-pandai menjaga diri agar terhindar dari fitnah. Aktif dalam organisasi atau lingkungan tertentu juga akan membuat ukhti merasa diri berarti bagi orang lain.

4. Jangan Terjebak Masa Lalu.
Setiap orang tentu pernah merasakan patah hati. Namun, ini bukan berarti penghalang bagi ukhti untuk menemukan cinta yang baru. Bila selalu terbayang dengan kenangan buruk masa lalu, ukhti tidak akan mendapatkan kebahagiaan di masa yang akan datang. Dari berbagai pengalaman yang pernah ukhti jalani, kini buatlah daftar hal-hal yang diharapkan dan yang tidak diharapkan dari seorang ikhwan. Dengan begitu, ukhti akan lebih fokus menemukan ikhwan idaman. Tapi, tetap jangan terlalu memaksakan diri untuk menemukannya hari ini atau dalam waktu dekat ini.

Saat lajang, ukhti juga memiliki waktu untuk mencari tahu lebih banyak tentang berbagai hal yang berkaitan dengan sebuah hubungan. Ukhti tidak perlu merasa takut gagal dan menyerah untuk memulai sebuah hubungan yang baru. Pengalaman justru akan membantu ukhti meminimalisasi kesalahan. Selain itu, ukhti juga bisa meminta nasihat kepada orang-orang yang lebih berpengalaman. Kalaupun hingga kini ukhti belum berhasil membina sebuah hubungan untuk waktu yang lama, bukan berarti ada yang salah dengan diri ukhti.

5. Isi waktu untuk memenej diri sebaik mungkin.
Sisi baik dari menjadi seorang lajang adalah memiliki banyak waktu untuk diri sendiri. Manfaatkan waktu tersebut untuk memperbaiki diri. Dengan status lajang yang disandang, ukhti tidak perlu membayangkan hidup dengan pertengkaran, kecemburuan, dan kekecewaan dengan pasangan. Ukhti juga tidak harus pusing memberikan laporan keberadaan ukhti pada pasangan setiap saat. Nikmati saja keadaan ini dan bebaskan perasaan ukhti dari beban yang selama ini menghantui hati.

Sekadar untuk tambahan ilmu, boleh dipercaya boleh juga tidak, penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menemukan banyak risiko kesehatan yang diakibatkan oleh pertengkaran dengan orang yang dicintai. Stres pernikahan bisa berdampak buruk bagi jantung. Stres pernikahan juga mempunyai dampak yang lebih buruk bagi wanita dibandingkan pria. Wanita yang memendam emosinya saat bertengkar, empat kali berisiko meninggal lebih cepat daripada mereka yang blak-blakan. Luka hati pada pasangan yang memiliki banyak tekanan pernikahan sembuh lebih lama daripada mereka yang sedikit bertengkar. Dan, ternyata menjadi lajang dan jarang bertengkar berpengaruh bagus terhadap kekebalan tubuh.

Dalam hal memenej keuangan, seorang lajang juga dapat lebih fleksibel. Ukhti dapat mempergunakan uang yang ada saat ini sesuai kebutuhan, meski jangan dilupakan juga kewajiban membantu orangtua, saudara, fakir miskin, dan yatim piatu.

Pada saat seperti ini, ukhti dapat mengisinya dengan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Lakukan kegiatan yang ukhti sukai dan perbanyak kegiatan berkumpul bersama keluarga maupun teman-teman. Intinya, tidak usah menderita demi status menikah.

Insya Allah, bisa saja Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebab, barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan keperluannya. Sungguh Allah lebih berkuasa melaksanakan urusan-Nya dan telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu. Ukhti bisa menjalani prosesnya dan Allah Swt. yang akan memberikan jalannya. Berharaplah yang terbaik disertai berkah dan ridho-Nya dunia dan akhirat.

Saya berdoa agar ukhti berdua lekas dipertemukan dengan jodoh dunia akhirat yang bukan hanya dapat membimbing ukhti melewati segala ujian dunia, tapi juga dapat mengantarkan ukhti pada kekekalan nikmat surga. Amin. Wallaahu a’lam. (Sasa Esa Agustiana)

(Visited 31 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment