Ustadz Ahmad Al-Habsyi : Rajin Shalat Dhuha Panjangkan Usia

shalat, sujud

Pembahasan mengenai shalat Dhuha selalu menarik dan aktual.  Pasalnya, shalat sunat ini memiliki beberapa fadhilah yang dikaitkan dengan keberkahan dan kemudahan mendapatkan rezeki.  Di mata Rasulullah SAW pun, shalat Dhuha pun memiliki banyak keistimewaan.

Dalam tulisan kali ini, PercikanIman.id menyajikan kembali perbincangan tentang shalat Dhuha dengan Ustadz Ahmad Al-Habsyi  Berikut adalah kutipan wawancara dengan ustadz kelahiran Palembang 1980 ini :

Mengapa kita disunatkan melaksanakan shalat Dhuha?

Sudah sepatutnya kita mengerjakan ibadah (dalam bentuk apa pun) didasari oleh keimanan dan ketakwaan. Iman dan takwa merupakan indikasi dan sarana untuk mengantarkan pada kemuliaan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. Salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. adalah dengan shalat. Banyak yang akan kita dapatkan melalui shalat, seperti diangkatnya kesulitan hidup di dunia, diselamatkan dari azab kubur, dan diberikan kemuliaan hidup di akhirat.
Nah, shalat Dhuha merupakan ekspresi terima kasih kita kepada Allah Swt. atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi dalam tubuh kita. Menurut Rasulullah Saw., setiap sendi di tubuh kita (yang jumlahnya 360 ruas) setiap harinya harus diberi sedekah sebagai makanannya. “Setiap pagi setiap persendian salah seorang di antara kalian harus (membayar) shodaqoh; maka setiap tasbih adalah shodaqoh, setiap tahmid adalah shodaqoh, setiap tahlil adalah shodaqoh, setiap takbir adalah shodaqoh, amar ma’ruf adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran adalah shodaqoh, tetapi dua rakaat Dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut.” (H.R. Muslim)

Di samping itu, shalat Dhuha juga merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan nikmat Allah sepanjang hari yang akan dilalui, entah itu nikmat fisik atau pun materi. Sabda Rasulullah Saw., “Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari, yaitu shalat Dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore harinya.’” (H.R. Hakim dan Tabrani)

Relevan atau tidak shalat Dhuha dijadikan sarana untuk membuka pintu rezeki di masa seperti sekarang ini?

Setiap amalan dan ibadah selalu selalu relevan dengan kondisi apa pun serta tidak terbatas dengan ruang dan waktu. Bila dikaitkan dengan masa krisis (baik ekonomi, moral, maupun akhlak), posisi shalat Dhuha boleh jadi sebatas salah satu kunci dan bukan penentu segalanya.

Kita bisa melihat firman-Nya, “…Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya…” (Q.S. Ath-Thalaaq [65]: 2-3)

Bila kita melaksanakan shalat Dhuha semata-mata karena Allah, insya Allah kita akan mendapatkan rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga.

Selain doa (dalam shalat Dhuha) bagaimana Islam mengajarkan umatnya untuk mengais rezeki?

Keliru besar bila kita berpikir bahwa mengerjakan shalat Dhuha adalah untuk mendapatkan rezeki tanpa harus dibarengi dengan usaha (iktiar) untuk mencari rezeki tersebut. Kita diwajibkan untuk senantiasa berikhtiar sekuat tenaga, berdoa, dan bertawakal agar rezeki yang kita dapatkan mendapat ridho dari Allah Swt.

Shalat Dhuha merupakan ibadah (shalat) yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Walaupun bernilai sunat, shalat ini mengandung manfaat yang sangat besar bagi umat Islam. Selain membuka pintu rezeki, shalat Dhuha juga menjadi sarana meminta ampun atas dosa yang telah kita perbuat. Hal ini tercantum dalam hadits berikut. “Siapa pun yang melaksanakan shalat Dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan.” (H.R. Turmudzi)

Shalat Dhuha sebagai salah satu kunci pembuka pintu rezeki yang akan membuat kita memperoleh kelapangan rezeki serta kemudahan hidup lainnya. Harus diingat, Allah menambah karunia-Nya kepada mereka yang dikehendaki-Nya tanpa batas sebagaimana janjinya dalam Surat An-Nuur [24]: 38. “(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”

Selain membuka pintu rezeki, apa lagi fadhilah shalat Dhuha, Ustadz?

Shalat Dhuha dapat menjadi pelindung atau penangkal dari siksa api neraka di hari pembalasan (kiamat) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi Saw. dalam sabdanya, “Barang siapa melakukan shalat Fajar (Shubuh), kemudian ia tetap duduk di tempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya Allah Swt. akan mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (H.R. Baihaqi)

Selain itu, shalat Dhuha juga dapat memanjangkan usia karena usia adalah salah satu bentuk rezeki selain uang.

Mana yang posisinya lebih tinggi, shalat Dhuha atau shalat Tahajud?

Segala amalan (shalat) harus kita kerjakan. Shalat lima waktu harus senantiasa kita jaga. Untuk menyempurnakannya, kita dianjurkan mengerjakan shalat sunat seperti shalat sunat Rawatib, shalat Tahajud, serta shalat Dhuha. Shalat Tahajud akan mengantarkan kita pada kemuliaan dan shalat Dhuha akan mengantarkan kita pada kemudahan dan kesehatan.

Kalau ditanya mengenai posisi shalat (Dhuha atau Tahajud) yang lebih tinggi, maka jawabannya adalah keduanya memiliki derajat yang sama di sisi Allah Swt. Semua tergantung bagaimana kita melaksanakannya dengan rutin dan sungguh-sungguh. Jika kita melaksanakan kedua jenis shalat sunah tersebut dengan istiqamah, maka pahalanya dapat menjadi penolong bagi kita. Alangkah baiknya bila kita tidak membanding-bandingkan posisi (lebih tinggi atau lebih rendah) suatu ibadah, karena di mata Allah Swt. semua ibadah bernilai pahala dan hanya Dia-lah Yang Maha Tahu atas derajat pahala ibadah yang kita kerjakan.

Pesan Ustadz kepada pembaca setia PercikanIman?

Bila kita sudah memenuhi ibadah (shalat wajib dan sunat) dengan benar (karena iman dan takwa kepada Allah) maka bila diuji dengan nikmat maka kita akan bersyukur, bila diuji dengan bencana maka kita akan bersabar, dan bila diuji dengan keluasan rezeki maka kita akan giat berinfak. Selain itu, kita akan senantiasa berhati-hati dalam berperilaku dan pandai menjaga lidah dengan berpikir sebelum berbicara. Jadi, perbaikilah ibadah shalat yang kita kerjakan, baik yang wajib maupun sunah. [Ahmad]

[irp posts=”238" name=”7 Alasan Anda Perlu Shalat Dhuha (I)”]

 

(Visited 33 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment