Sejarah Syirik Dan Pandangan Islam Terhadapnya

 

Sebagai mukmin yang baik, sudah pasti kita akan merasa sangat prihatin melihat maraknya kemusyrikan abad modern yang telah dimodifikasi dalam berbagai kemasan. Kalau ditelaah lebih jauh, hal ini bukanlah hal baru dalam kehidupan umat manusia. Sejarah mencatat bahwa perbuatan syirik sudah dimulai tidak lama setelah manusia berada di muka bumi ini.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang merinci awal mula terjadinya kemusyrikan dalam sejarah umat manusia ini. Hadits tersebut menjelaskan bahwasannya terdapat lima orang (menjelang diutusnya Nabi Nuh a.s.) yang memiliki keshalihan yang luar biasa. Kelima orang itu bernama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Teramat disayangkan, kelima orang ini meninggal dalam waktu yang cukup berdekatan. Orang-orang pun mengalami kesedihan yang sangat mendalam sepeninggal mereka. Di antara mereka kemudian ada yang berkata, “Alangkah baiknya jika kita membuat patung kelima orang tersebut untuk memberi motivasi agar lebih bersemangat dalam beribadah.” Seiring berjalannya waktu, niat tersebut terealisasi dan oleh setan patung tersebut dijadikan alat untuk menggelincirkan manusia. Pada generasi berikutnya, mulailah setan beraksi dengan memberi bisikan bahwa nenek moyang mereka sengaja membuat patung tersebut untuk berdoa memohon hujan. Akhirnya, disembahlah patung tersebut dan hal tersebut sekaligus menjadi tonggak lahirnya kemusyrikan pertama yang ada di dunia ini.

iklan donasi pustaka2

Ibnu Abbas mengatakan, “Antara masa Nabi Adam a.s. dengan Nabi Nuh a.s. terdapat sepuluh generasi. Mereka seluruhnya adalah orang-orang yang bertauhid. Baru setelah itu, terjadilah kemusyrikan di tengah-tengah kaum Nuh.” Setelah kemusyrikan semakin marak, diutuslah Nabi Nuh a.s. dengan misi utama untuk meluruskan kemusyrikan tersebut. Hal itulah yang menyebabkan (dalam sejumlah riwayat) Nabi Nuh a.s. disebut sebagai Rasul pertama. Nabi Nuh a.s. merupakan nabi yang pertama kali diutus pada kaum yang musyrik. Sedangkan Nabi Adam a.s. adalah nabi yang diajak bicara secara langsung oleh Allah dan diutus pada anak-cucunya yang saat itu belum terkontaminasi oleh kemusyrikan. Demikian pula halnya dengan Nabi Syits (nabi yang diutus sebelum Nabi Nuh a.s. yang tidak termasuk dalam 25 nabi yang wajib dikenal) yang diutus sebelum adanya kemusyrikan.

Misi kenabian Nuh a.s. sendiri disebutkan dalam ayat berikut ini, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’ Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)“. (Q.S. Al-A’raaf [7]: 59)

Sepertinya, kemusyrikan terus berkembang mengiringi peradaban manusia dari masa ke masa. Setelah Nabi Nuh a.s., kemusyrikan terus terjadi pada zaman Nabi Hud a.s. (Q.S. Hud [11]: 53) serta Nabi Shaleh a.s. (Q.S. Hud [11]: 62). Hanya saja, jika pada awal sejarah media kemusyrikan hanyalah berupa patung, di masa-masa berikutnya musyrik terus merambah pada media-media lain. Penyembahan tidak hanya ditujukan pada patung berbentuk manusia, tapi juga bentuk hewan atau benda-benda yang dianggap keramat lainnya. Tujuannya tidak lagi sebatas meminta sesuatu, tapi sudah pada taraf kepercayaan bahwa benda-benda tersebut mampu memberi sesuatu seperti yang dapat diberikan Tuhan.

Pada zaman Nabi Musa a.s., kemusyrikan makin merajalela. Tuhan yang dijadikan sekutu bagi Allah Swt. tidak lagi berbentuk benda mati, tapi sudah ditujukan pada benda hidup, yaitu manusia itu sendiri. Contoh konkritnya adalah Firaun yang dengan kekuasaannya merasa layak dianggap sebagai Tuhan. Kemusyrikan pada zaman ini bertambah parah dengan adanya sihir. Ya, kekuatan dan kekuasaan Firaun saat itu ditopang oleh kekuatan sihir. Di kalangan Bani Israil sendiri, perilaku syirik memang sudah melekat sepanjang sejarah kehidupan mereka, dimulai dari Samiri yang menebar benih syirik dengan menyembah anak sapi sampai Nabi Isa a.s. yang dianggap sebagai Tuhan.

Sampai pada Nabi Akhir Zaman, kemusyrikan masih menjadi penyakit umat manusia. Pada masa Nabi Muhammad Saw. (sekitar 600 tahun setelah zaman kenabian Isa a.s. berlalu), kemusyrikan kembali merajalela dan semakin bervariasi. Kabah yang seharusnya suci dari noda syirik, pada zaman itu dikelilingi oleh kurang lebih 360 buah berhala dan Arca yang ditancapkan oleh setiap kabilah untuk disembah dan dijadikan perantara antara mereka dengan Allah. Nabi Muhammad Saw. pun kemudian diutus untuk mengembalikan mereka pada ajaran tauhid. Meski di awal dakwahnya Rasulullah Saw. mendapat penolakan dan penentangan yang sangat keras, namun atas rahmat Allah Swt. akhirnya Mekah dan Kabah bisa dibersihkan dari kemusyrikan.

Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki keyakinan ber-Tuhan satu karena Islam diturunkan langsung oleh Sang Maha Pencipta. Patut juga diketahui bahwa Islam sebenarnya merupakan nama bagi semua ajaran yang dibawa oleh para Nabi. Misi utama Islam adalah tauhid (meng-esakan Allah) dan menjauhkan umat dari kemusyrikan. Karena itu, musyrik merupakan dosa besar yang paling utama dan tidak akan terampuni sehingga sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa umat harus menjauhkan dirinya dari kemusyrikan. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 48)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda, “Dari Jabir bin Abdullah dia berkata, saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Orang yang meninggal menemui Allah dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun pasti masuk surga, dan orang yang meninggal (menemui Allah) dalam keadaan mensyirikkan Allah dengan sesuatu pasti masuk neraka.” (H.R. Muslim)

Syirik pada abad modern kini juga tidak kalah dahsyatnya yang menjelma dalam berbagai bentuk atau wujudnya. Hendaknya kita jaga ketauhidan dan keimanan yang telah Allah Swt hidayahkan kepada kita tetap terjaga sampai akhir hayat. Doa adalah salah cara untuk tetap terjaga dari perbuatan syirik berikut turunannya. Selain itu hendaknya bertanya kepada para ulama tentang sesuatu hal atau perkara akan hukumnya dipandang dari sisi syariah. Wallahu’alam. [Dadang]

Ilustrasi foto: google

 

output_gb7wH6

(Visited 39 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment