Pentingnya Pemenuhan Gizi untuk Kesehatan Reproduksi

Oleh : dr. Nur Fatimah, SpGK, MS

Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk memperoleh keturunan. Namun demikian, sebagian pasangan suami istri tidak dengan mudah memperoleh keturunan.
Ya, setelah sekian lama membina rumah tangga dan buah hati yang diharapkan tidak juga kunjung tiba, berdua mereka mulai bertanya, “Apakah ada yang salah?” Memang banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesuburan pasangan suami istri dalam dunia medis; seperti genetika, tingkat polusi lingkungan sekitar, serta kecukupan gizi. Nah, yang terakhir ini akan kita bahas lebih lengkap di sini.

iklan donasi pustaka2

Kesuburan seorang individu tidak terjadi begitu saja. Banyak faktor yang mempengaruhi kesuburan dan salah satunya adalah komposisi zat gizi yang masuk ke tubuh melalui asupan makanan. Selain mempengaruhi kesuburan, status gizi yang baik akan mendukung kesehatan ibu dan anak secara optimal selama kehamilan.

Beberapa masalah kesehatan umum yang telah diketahui mempengaruhi status kesuburan antara lain; kurang gizi akut maupun kronis, usia mulainya pubertas, usia menikah, lamanya pemberian ASI (Air Susu Ibu), induksi abortus, serta keadaan sosial ekonomi. Berkaitan dengan asupan gizi, ada berbagai masalah kesehatan yang dapat menurunkan kesuburan dengan mempengaruhi fluktuasi kadar hormon yang berperan dalam kesuburan dan respon organ reproduksi baik pada pria maupun wanita. Masalah kesehatan tersebut antara lain; penurunan berat badan lebih dari 15% berat badan biasanya dalam jangka pendek, massa lemak tubuh tidak ideal, asupan makanan kurang dari kebutuhan dalam waktu lama, kebiasaan minum alkohol, kelainan hormonal, penyakit infeksi kronis, dan diabetes melitus.

Masalah Kesehatan Reproduksi Wanita
Saat ini, para ilmuwan masih terus meneliti keterkaitan atau hubungan antara kesuburan pada jenis kelamin yang berbeda. Pada kesehatan reproduksi wanita, faktor yang berpengaruh antara lain; anoreksia nervosa, bulimia nervosa, usia (di atas 35 tahun), infeksi di rongga panggul, endometriosis, dan kelainan struktur antomis organ reproduksi. Dalam kaitannya dengan asupan makanan, faktor-raktor yang terus diamati pengaruhnya antara lain; asupan kopi, pola makan vegetarian, asupan bahan makanan sumber beta karoten yang tinggi, dan kadar zat besi.

Sebagian orang berpendapat bahwa komposisi lemak dalam tubuh mempengaruhi kesuburan seseorang. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Baik massa lemak tubuh yang kurang atau lebih dari normal akan menurunkan kesuburan karena terjadi perubahan kadar berbagai hormon reproduksi sehingga mempengaruhi pematangan telur dan siklus menstruasi. Obesitas pada wanita akan menyebabkan siklus pematangan telur yang tidak teratur. Kelainan pola makan ekstrem seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa akan mempengaruhi kesuburan dengan mekanisme yang mirip seperti hal tersebut di atas tetapi pengaruhnya lebih berat.

Para ilmuwan pun mengamati pengaruh faktor diet pada kesuburan. Dalam hal ini, mereka mengamati ada tidaknya pengaruh makanan yang dominan berbasis tumbuhan terhadap rendahnya kadar hormon estrogen. Hal ini banyak diamati pada asupan bahan makanan beta karoten yang cukup tinggi selain bagaimana pengaruh kondisi status zat besi tubuh terhadap kesuburan. Selain itu, meningkatnya konsumsi caffein dalam berbagai makanan dan minuman turut pula diamati pengaruhnya pada kesuburan. Sampai saat ini, para ilmuwan menganjurkan untuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung caffein secara intensif dan lebih dari 400 mg atau sekitar 3 cangkir minuman. Kendalanya adalah kita sering tidak sadar telah banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung caffein yang terdapat dalam berbagai makanan atau minuman semisal kopi. Pengaruh caffein terhadap kesuburan juga diperparah bila wanita yang bersangkutan adalah seorang perokok berat mengingat tidak lengkap rasanya merokok tanpa ditemani kopi.

Masalah lain yang sering kita jumpai adalah premenstrual syndrome dengan adanya berbagai gangguan yang membuat tidak nyaman sebelum periode menstruasi. Hal ini berhubungan dengan aktivitas substansi yang dikenal sebagai serotonin dan sekitar masa pelepasan telur. Untuk mengontrol keadaan ini, wanita dianjurkan untuk menurunkan asupan caffein, meningkatkan aktivitas fisik untuk yang kurang, mengontrol stres, mencukupi asupan bahan makanan atau suplementasi kalsium, magnesium, vitamin D dan vitamin B6.

Kondisi prediabetes atau diabetes dengan gagalnya fungsi hormon insulin akan menyebabkan gangguan pada indung telur dan meningkatkan produksi hormon testosteron sehingga akan menurunkan fungsi dan kinerja indung telur. Risiko lain pada kondisi ini adalah perubahan struktur indung telur yang dikenal dengan nama polycycstic ovary syndrome. Rekomendasi asupan nutrisi yang dianjurkan pada keadaan ini adalah dengan suplementasi omega-3, cukupnya asupan antioksidan serta serat dari bahan makanan kelompok serealia, sayuran, dan buah-buahan.

Seorang wanita yang memakai kontrasepsi hormon dapat optimal status kesehatannya dengan tetap terpenuhinya tujuan pemakaian kontrasepsi bila mempunyai kadar lemak normal, cukupnya asupan vitamin B12, kepadatan tulang cukup, dan kontrol berat badan yang baik. Meningkatnya jumlah wanita yang berprofesi di bidang olah raga ataupun profesi lain yang menuntut aktivitas fisik berlebih, terus diteliti mengingat menggejalanya fenomena sulitnya mereka mempunyai anak.

Alkohol mempengaruhi kesuburan dengan menurunnya kadar hormon reproduksi (baik pada pria maupun wanita) sehingga akan mengganggu pematangan telur, siklus menstruasi, dan tidak optimalnya produksi dan kualitas sperma yang dihasilkan.

Masalah Kesehatan Reproduksi Pria
Bagaimana dengan kesehatan reproduksi pria? Tentu saja faktor yang mempengaruhinya berbeda. Faktor-faktor tersebut antara lain; rendahnya kadar berbagai zat gizi (seperti mineral seng, vitamin D, asam lemak omega-6 dan berbagai zat yang berperan untuk menetralkan radikal bebas), paparan logam berat, halogen, paparan hormon reproduksi wanita, adiksi steroid, suhu terlalu tinggi di area organ reproduksi, selain kelainan kromosom dan jumlah serta kualitas sperma.

Obesitas pada pria dapat mempengaruhi kesuburan dengan menurunnya kadar hormon reproduksi pria dan menurunnya jumlah sperma.

***

Sehubungan dengan paparan di atas, kita mengharapkan agar pihak-pihak terkait dapat mengembangkan rekomendasi asupan makanan untuk meningkatkan kualitas kesuburan yang dimulai dari awal pubertas sampai sepanjang masa subur. Hal tersebut mutlak dilakukan agar tercipta generasi yang berkualitas, baik fisik maupun psikis. Bukankah setiap orangtua hendaknya takut apabila meninggalkan generasi penerus yang lemah?

(Visited 21 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment