Inilah Bukti-bukti Sains Tentang Manfaat Shaum

Oleh : Ir. H. Bambang Pranggono, MBA

“…Dan kalau kalian shaum, itu lebih baik bagi kalian bila kalian mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 184)

iklan donasi pustaka2

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang ayat di atas. Mereka berdebat mengenai shaum itu lebih baik dari apa dan ditujukan bagi siapa. At-Thabary mengatakan bahwa ayat ini ditujukan bagi muslim yang sakit atau bepergian dan bagi yang payah melaksanakan shaum. Al-Alusy menambahkan bahwa bagi mereka , tetap bershaum itu lebih baik dibandingkan dengan memperbanyak jumlah fidyah bagi orang miskin. Yang menarik adalah tafsir Al-Khazin yang mengatakan bahwa shaum itu sendiri lebih baik dari segala sesuatu yang lain. Artinya, shaum itu lebih baik dari tidak shaum, dan ayat ini berlaku bagi semua manusia.

Sejarah mencatat bahwa shaum (dalam bentuk menahan makan untuk jangka tertentu) sudah dikerjakan manusia sejak dahulu kala. Dalam semua agama, ada praktek ibadah yang mirip dengan shaum yang dilakukan kaum muslim. Namun demikian, publikasi penelitian modern tentang manfaat shaum bagi kesehatan baru terbit di abad ke-19 . Dan sejak saat itu, telah ribuan hasil riset (tentang manfaat shaum bagi kesehatan) ditulis di jurnal-jurnal medis. Shaum terbukti berdampak positif dalam kasus obesitas, penyakit jantung, kegagalan sistem kekebalan tubuh, diabetes, penyakit kulit, penyakit pencernaan, arthritis, alergi, dan lain sebagainya. Sains telah membuktikan kebenaran sabda Rasulullah Saw. 15 abad yang lalu, “Shumu tasihhu (Shaumlah agar kalian sehat.”

SHAUM ADALAH HIBERNASI. Berbagai jenis binatang seperti beruang, ikan paus, ikan salmon, cicak, ular, kura-kura, laba-laba dan binatang-binatang kecil lain bisa bertahan hidup berbulan-bulan tanpa makan. Tubuh manusia pun sebenarnya telah diciptakan dengan kemampuan seperti itu. Manusia bisa bertahan hidup dari sumber cadangan energi dan nutrisi yang disimpanan di dalam tubuh melalui proses yang disebut autolysis. Secara cerdik, tubuh mengurai dan membakar sel-sel dan jaringan yang sudah lapuk dan mati menjadi sumber energi.

SHAUM ADALAH DETOKSIFIKASI. Ketika pasokan makanan dari luar terhenti, tubuh mencari alternatif dari cadangan lemak yang diurai menjadi sumber energi. Dalam proses ini, racun kimia dan logam berbahaya yang memasuki tubuh dan terperangkap dalam lemak dapat ikut terbuang.

SHAUM ADALAH IMUNISASI. Ketika tidak ada makanan masuk kedalam tubuh, kegiatan mencerna berhenti sehingga energi dialihkan ke proses metabolisme dan sistem kekebalan tubuh. Itulah sebabnya orang yang shaum daya tahan tubuhnya meningkat. Pada waktu shaum, growth hormone lebih sering diproduksi oleh kelenjar pituitaria sehingga memperkuat sistem kekebalan.

SHAUM ADALAH TERAPI. Sel-sel abnormal yang tumbuh sangat cepat seperti tumor dan kanker memerlukan makanan lebih banyak dan mereka sangat rakus. Maka di waktu shaum ketika pasokan makanan terhenti, merekalah yang akan kelaparan dan ‘mati’ terlebih dahulu. Sementara itu, sel-sel normal hanya mengalami kejutan sementara dan akan segar kembali saat tiba waktu berbuka. Shaum juga terbukti dapat menurunkan tekanan darah tinggi, meningkatkan kolesterol baik, serta sekaligus mengurangi kolesterol jahat.

SHAUM ADALAH REFRESHING. Di waktu shaum, organ pencernaan yang tidak pernah berhenti mendapatkan waktu istirahatnya. Metabolisme tubuh pun melambat. Shaum membalikkan kebiasaan rutin harian dan ini berdampak positip bagi penyegaran organ-organ tubuh dari kejenuhan.

SHAUM ADALAH PEREMAJAAN. Selama shaum berlangsung, terjadi akselerasi pertumbuhan sel baru ketika sel-sel lama yang terurai oleh proses autolysis disintesakan ulang menjadi protein. Pada saat bersamaan, ketika shaum, tubuh menjadi lebih efisien dalam memakai protein yang diperlukan. Shaum juga memacu produksi hormon anti penuaan dan memperpanjang harapan hidup. Dalam percobaan pada cacing, terbukti cacing yang ‘dishaumkan’ bisa tetap hidup selama 19 generasi. Dalam perbandingan dengan manusia, ini berarti bahwa (secara teoritis) dengan shaum dimungkinkan manusia bisa hidup sampai 600-900 tahun.

Pertanyaannya, dari mana semua kemampuan tubuh itu berasal? Mari kita perhatikan perintah shaum yang ada di ayat ke-183 surat Al-Baqarah.
“Wahai orang yang beriman, telah dituliskan atas kalian shaum, sebagaimana telah dituliskan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.”

Pada ayat tersebut di atas, kita akan menemukan kata kutiba yang berarti telah dituliskan. Selama ini, kata tersebut sering ditafsirkan sebagai telah diwajibkan sehingga ayat di atas menjadi dasar syariat kewajiban shaum bagi umat Islam. Namun demikian, temuan sains memberikan makna ilmiah lain kepada kata kutiba.

Tubuh manusia tersusun dari banyak sekali sel, kira-kira 1 triliun sel per kg berat tubuh manusia. Bila berat Anda 60 kg, berarti ada 60 triliun sel di tubuh Anda. Dalam setiap sel, ada nukleus/inti yang dilapisi membran. Nukleus mengandung asam bernama deoxy ribonucleat acid (DNA), yaitu zat yang kita sebut sebagai gen. Di permukaan dua untaian spiral gen terdapat molekul-molekul yang menjadi kode genetik kita yang terdiri dari 3 milyar ‘huruf kimia’. Untaian DNA itu lebarnya hanya 1/500.000 milimeter dan beratnya hanya 1/200 milyar gram. Begitu kecilnya DNA ini sehingga bila DNA 6 milyar manusia di bumi dikumpulkan, ukurannya hanya seberat sebutir beras. Namun demikian, di situ tertulis segala informasi yang diperlukan untuk membentuk sebuah kehidupan, di antaranya instruksi tentang bagaimana cara kerja sel pada situasi tertentu dan kapan ia harus berhenti bekerja.

Rupanya Allah sudah menuliskan tugas dari setiap sel dan juga perlengkapan untuk melaksanakan tugas itu. Gen kita, selain berisi instruksi entropik untuk menjadikan sel tua dan mati, juga berisi instruksi untuk melawannya. Tubuh dilengkapi dengan program penyembuhan diri yang tertulis dalam gen, termasuk instruksi untuk secara otomatis mencari sumber dari dalam ketika pasokan makanan dari luar berhenti. Tubuh juga dilengkapi instruksi untuk berhibernasi, membangun sistem kekebalan tubuh, membuang racun dan melawan penuaan ketika shaum. Dan semua instruksi tersebut sudah disalin/diwariskan turun temurun sejak manusia pertama. Barangkali, itulah makna lain dari kutiba alaikumus-shiyam. Bahwa mekanisme yang disebut shaum sudah dituliskan dalam kode genetik kita, sebuah instruksi bagi sel-sel tubuh untuk beraksi ke arah kesehatan dan kelangsungan hidup.

Bila semua manfaat fisiologis tadi ditambah dengan manfaat psikologis dan manfaat akhirat, maka tidak bisa dibantah bahwa shaum memang lebih baik dari segala yang lain. Wallahu a’lam.

(Visited 37 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment