Saat Hamil, Sebaiknya Tetap Bekerja Atau di Rumah Saja?

0
156

TANYA :

Teteh, apa yang harus saya lakukan, bekerja setiap hari dari pagi sampai sore atau berhenti? Perlu diketahui bahwa saat ini saya sedang hamil. Kalau terus bekerja, saya takut keguguran lagi seperti kehamilan sebelumnya. Sementara, kalau saya berhenti kerja, kami masih mempunyai cicilan motor dan tidak bisa mengandalkan gaji suami yang pas-pasan. Terima kasih atas waktu dan solusinya, Teh Sasa.

iklan

JAWAB :

Teteh yang dirahmati oleh Allah Swt. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’uun. Allahumma ajirnii fii mushibati wakhluf lii khaira minha. Semua adalah milik Allah Swt. dan akan kembali kepada-Nya. Saya mengucapkan turut berduka cita atas musibah keguguran kehamilan pertama. Semoga Teteh dikarunia hikmah dari musibah tersebut dan diberi pengganti yang lebih baik dari Allah Swt. Sangatlah wajar bila kemudian Teteh bertindak waspada dan hati-hati untuk kehamilan kedua ini. Tips dari saya, jangan mengangkat beban yang berat-berat dan yang terpenting sesuaikan kegiatan fisik dengan catatan riwayat medis. Namun demikian, Teteh jangan pula terlalu ketakutan atau khawatir berlebihan yang pada akhirnya justru membuat stres.

Sebagai seorang ibu hamil, alangkah bijaksananya jika Teteh membuat  skala prioritas kegiatan. Tempatkan kewajiban rumah tangga sebagai skala prioritas. Idealnya, Teteh mempunyai kegiatan yang  fleksibel dari segi waktu. Ketika harus beraktivitas di luar rumah, Teteh dapat memilih part-time job atau bisa juga berwiraswata sehingga manajemen waktunya dapat diatur sendiri.

Sebenarnya, tanggung jawab nafkah keluarga ada di pundak ayah. Dalam Islam, kepemimpinan suami sebagai pencari nafkah utama tercantum dalam firman-Nya, “Laki-laki adalah pemimpin atas perempuan-perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)  dan dengan sebab sesuatu yang telah (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya…”(Q.S. An-Nisaa [4]: 34)

Soal besar atau kecilnya penghasilan suami, hal tersebut menjadi relatif bergantung kebutuhan setiap keluarga. Sebagai istri, alangkah terpujinya jika kita dapat menyesuaikan kebutuhan sandang, papan, dan pangan dengan penghasilan yang didapatkan. Istri yang baik juga tidak pernah lupa untuk membelanjakan nafkah keluarga pada jalan ketakwaan dengan berinfak dikala lapang dan sempit. Allah Swt. berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali Imran [3]: 134)

Kemudian, seorang istri pada dasarnya juga adalah pemimpin yang dalam urusan rumah tangga berpartner dengan suaminya. Seorang istri memang sangat berpengaruh besar serta harus mampu berperan sebagai motivator, pendamping, pedukung dakwah dan karier suami. Tentunya, di balik kesuksesan suami ada kontribusi seorang istri. Karenanya, jadilah istri yang amanah atas kepemimpinannya sebagaimana disebutkan dalam ayat, “…Maka perempuan-perempuan yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri di belakang suaminya sebagaimana Allah telah memeliharakan dirinya…” (Q.S. An-Nisaa [4]: 34). Rasulullah Saw. juga bersabda, “Dan seorang istri itu adalah pengatur di dalam rumah suaminya dan dia bertanggung jawab terhadap yang diaturnya itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Tentunya, kita sebagai wanita akan dimintai pertanggungjawaban sebagai istri dan ibu kelak di akhirat. Reward atau balasan terbaik yang disediakan untuk  ibu yang amanah digambarkan dalam hadits berikut ini. “Jika perempuan mengerjakan shalat yang lima, shaum Ramadhan, memelihara kehormatannya, dan taat kepada suaminya maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.’” (H.R. Ahmad dan Thabrani)

Kembali ke pertanyaan Teteh. Apabila memang keluarga masih membutuhkan pendapatan dari gaji Teteh, bisa saja Teteh tetap bekerja dengan alasan gaji suami yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga (meski ukuran mencukupi ini pun relatif). Hal ini dapat dikategorikan sebagai keadaan darurat (yang berarti temporer, tidak selamanya). Perlu dipertimbangkan pula kondisi tempat kerja yang harus aman dan kondusif bagi kehamilan Teteh.

Perlu diingat bahwa saat ini Teteh memerlukan perlakuan khsusus sebab kondisi fisik saat hamil akan mengalami banyak perubahan dan kekuatan fisiknya juga melemah. Pada trimester pertama, rata-rata wanita hamil akan mengalami mual-mual muntah. Pada trimester kedua, nafsu makannya mulai bagus. Pada trimester ketika akan sering mengalami sesak nafas sebab janin tumbuh besar menekan diagfragma. Wajar kalau kondisi fisik wanita hamil melemah. Hal ini juga berlanjut pasca melahirkan selama masa nifas dan menyusui.

Hal tersebut sebagaimana digambarkan dalam dua ayat berikut. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (bebuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tamba,…” (Q.S. Lukman [31]: 14). “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah …” (Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 15)

Kepada para wanita yang bekerja selama hamil seperti Teteh, saya menyarankan agar rajin memeriksa kesehatan Teteh dan janin ke dokter kandungan atau bidan. Pada saat seperti ini, diperlukan support dari suami dan keluarga dengan menjaga, menyayangi dan memperhatikan Teteh. Meski disarankan berhati-hati menjaga kehamilan, Teteh tidak disarankan untuk bermalas-malasan.

Apabila Teteh memilih keluar dari pekerjaan, bertawakallah kepada Allah mengenai sumber penghasilan untuk cicilan motor, biaya bersalin, kebutuhan bayi, dan lain sebagainya. Berdoalah agar rezeki suami dilipatgandakan oleh Allah Swt. sehingga mencukupi semua kebutuhan tersebut. Dengan demikian, Teteh bisa leluasa menjaga kehamilan dan menikmati proses demi prosesnya.

Setiap pilihan mengandung risiko. Semua bergantung keyakinan Teteh. Sebelum mengambil keputusan, coba musyawarahkan semuanya dengan suami. Perkuat usaha, doa, dan ketawakalan Teteh dan suami kepada Allah Swt. Semoga Teteh mendapat jalan keluar yang terbaik menurut Allah Swt. di antara pilihan-pilihan tersebut. Amin. Wallahu a’lam.