Pentingnya Mencintai Sahabat Rasulullah (Bag. 2)

umar

Oleh: Tate Qomaruddin

Pada bagian satu telah kita ketahui bagaimana pentingnya mencintai para sahabat Rasulullah sehingga tidak ada alasan untuk mencacinya apalagi sampai membencinya.Saat Rasulullah Saw. masih hidup, tidak ada pencaci sahabat selain orang munafik. Akan tetapi, Rasulullah Saw. sudah mewanti-wanti hal itu. Itu menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. mengetahui apa yang akan terjadi sepeninggal beliau, atas dasar wahyu tentu saja. Jika demikian, beliau juga pasti mengetahui kapasitas keimanan para sahabatnya dan tidak akan salah memilih atau menilai mereka.

Hadits pertama yang menjadi pembuka tulisan ini memuat pernyataan Rasulullah Saw. tentang generasi terbaik. Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa peringkat pertama terbaik adalah generasi yang sezaman dengan beliau. Mereka itulah para sahabat. Peringkat kedua terbaik adalah generasi setelah sahabat, yakni generasi tabi’in. Peringkat berikutnya adalah tabi’ut-tabi’in.

Sedangkan, di hadits kedua Rasulullah Saw. melarang dengan keras mencaci atau mencela para sahabatnya. Beliau mengilustrasikan besarnya pahala perjuangan mereka tidak akan dapat dibandingkan dengan perjuangan manusia yang hidup di zaman ini. Pengorbanan kita tidak seberapa dibandingkan dengan amal para sahabat Nabi. Apalagi dibanding dengan orang yang hanya pandai mencela dan menistakan. Tentu saja masih banyak hadits-hadits lain yang memperkuat kedua hadits tersebut.

Ternyata, bukan hanya Rasulullah Saw. saja yang memuji dan mencintai para sahabat. Allah Swt. pun memberikan kesaksian, pujian, dan posisi terhormat kepada mereka dalam banyak ayat-Nya. Di antaranya:
“Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin, dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (Q.S. At-Taubah [9]: 117)

promooktober

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At-Taubah [9]: 100)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut merupakan contoh-contoh sanjungan dan pujian Allah serta Rasulullah Saw. kepada para sahabat secara umum. Terdapat pula pernyataaan pujian Rasulullah Saw. kepada para sahabat secara khusus, orang perorang. Sebagai contoh, pujian dan kecintaan Rasulullah Saw. kepada Aisyah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab (semoga Allah meridoi mereka) sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari ‘Amer bin ‘Ash (semoga Allah meridhoinya), aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling engkau cintai?” Rasulullah Saw. menjawab, “Aisyah.” Aku berkata lagi, “Dari laki-laki?” Beliau menjawab, “Bapaknya (Abu Bakar).” Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah Saw. menjawab, “Umar bin Khattab.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah Saw. pun memuji beberapa sahabatnya. Ada sepuluh sahabat yang disebut khsusus sebagai calon penghuni surga, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin ‘Awwam, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Anas bin Malik, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Sa’id bin Zaid.

Tentu saja masih banyak lagi nama lain yang secara khusus dan eksplisit mendapat pujian dan kesaksian Rasulullah Saw. sebagai penghuni surga, seperti Bilal bin Rabbah, keluarga Yasir, ‘Amer bin Jamuh, Ja’far bin Abi Thalib, Hasan dan Husein putra Ali, atau ‘Ukkasyah.

Karena kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Al-Quran dan Sunnah lah pegangan utama kita dalam menilai dan momosisikan para sahabat Nabi, bukan sejarah. Karena, sejarah adalah milik pengarangnya. Jika Allah Swt. ridho dan cinta kepada para sahabat demikian juga Rasulullah Saw. mencintai dan menyanjung mereka atas segala amal, perjuangan, serta pengorbanan mereka, maka mencintai mereka adalah konsekuensi dari keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Mencintai mereka adalah ibadah kepada-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya. [Wallaahu a’lam.]

REKOMENDASI

Leave a Comment